SAMUEL

SAMUEL
BAB 100



Saat ini seorang pria tampan yang memiliki sebuah tato berlambang ciri khas aeros itu hanya bisa memasang wajah pucat nya, badan nya yang besar dan otot nya yang kekar tidak berani membuat nya melawan kepada wanita yang paling dia cintai itu yaitu Mama Adelia.


Tuk... tuk..


Meja di ketuk Rara sambil menatap kakak nya yang memasang wajah panik, sedangkan sang Mama hanya memasang wajah datar sambil berdiri menatap Sadam yang duduk di sofa ruang tamu.


Sedangkan Gisel? Dimana gadis itu? Setelah diri nya sendiri kaget dengan kondisi nya gadis itu menangis sejadi jadi nya, dan Adelia yang melihat itu langsung menenangkan Gisel.


Gadis itu tidak mau diam hingga akhirnya Rara mengatakan kalau mama nya memasang udang yang banyak membuat Gisel yang menangis pun berhenti.


Ketiga orang itu melirik Gisel yang sedang makan dengan tenang dan nikmat, sedangkan mereka? Minum saja tidak tertelan karena hal ini. Adelia melipat kedua tangan nya di dada.


"Sadam, kau ini kepala keluarga di rumah ini. Semenjak kepergian Papa mu, kaulah yang memberikan contoh yang baik, tapi apa ini Sadam?"tanya Adelia dengan suara lirih nya.


"Ma tapi aku tidak melakukan nya,"jawab Sadam dengan wajah memelas.


"Apa kau mengingat nya hah?"tanya Adelia kepada putra nya itu


Flasback on


"Gisel kau sekarang bekerja di mana?"tanya Arbian kepada gadis yang duduk di samping nya dan juga Sadam.


"Aku belum bekerja kak, aku baru lulus sih. Mendapatkan pekerjaan di pengadilan hukum untuk pemula itu sangat menyulitkan,"jawab Gisel sesekali melirik ponsel nya.


Mereka berdua terlihat mengobrol dengan akrab hingga sebuah notif dari ponsel Sadam, membuat pria itu mengeryitkan kening nya menatap notif jadwal yang harus dia selesaikan.


"Ck, Bian tolong cek ulang laporan email yang di kirim bos seminggu yang lalu,"ujar Sadam meneguk minuman nya lalu menjatuhkan kepala nya di sofa.


"Kenapa harus aku,"kesal Arbian menolak.


"Karena itu bagian mu si@lan,"umpat Sadam kepada sahabat nya.


Arbian berdecak kesal lalu pergi dari sana, tapi dia terlebih dulu pamit kepada yang lain nya juga Gisel yang tinggal berdua di sofa itu dengan Sadam.


"Gisel ini kunci mobil pria ini, tolong telpon orang rumah nya kalau kau ingin mengantar nya pulang yah, aku mohon, tinggal telpon, ponsel nya tidak terkunci,"ucap Arbian melirik sebuah ponsel di atas meja.


"Baiklah kak, aku juga mengenal mama kak Sadam,"jawab Gisel dengan senyum manis nya.


Pria itu tersenyum mengusap rambut Gisel dan berlalu pergi dari sana, sedangkan Sadam terus minum sampai larut. Gisel yang sebenarnya akan menginap di hotel, terlebih Lenka sudah menyiapkan kamar untuk nya seketika berpikir dua kali sebelum itu, dia harus menelpon mama Sadam.


"Sadam kau tidur!"teriak Gisel di telinga pria itu.


"Berisik,"ketus Sadam kepada Gisel.


Ayolah seperti nya pria ini sudah mulai mabuk, seperti ucapan Arbian tadi. Gisel membuka ponsel Sadam, dan mencari nomor ponsel di hp pria itu.


"Mencari nomor mama nya pun tidak susah, kontak nya hanya ada lima orang, big bos, Arbian, wakil, Rara, Mama,"gumam Gisel yang melihat ponsel pria itu.


Gadis itu mulai memanggil ponsel mama Sadam.


Drt.. drt..


Tidak ada jawaban sama sekali, gadis itu menelpon nya sekali lagi dan itu juga tidak ada jawaban lagi. Lalu dia mencoba menelpon Rara ponsel gadis itu malah tidak aktif.


"Aduh bagaimana ini?"gumam Gisel mengaruk belakang kepala nya tidak bingung.


"Ada apa Gisel?"tanya Lukas.


"Tidak apa-apa, Lukas apa bisa bantu aku bawa Sadam ke mobil. Aku akan mengantar nya pulang,"ucap Gisel kepada pria william itu.


"Biarkan saja Lukas yang mengantar nya,"jawab Leon menawarkan.


"Tidak, jangan kalian sedang bermain. Lagi pula kalian jarang berkumpul kan, aku bisa bawa mobil kok,"tolak Gisel dengan halus.


Pria william itu akhirnya mengangguk mereka menyuruh pelayan mengangkat tubuh Sadam yang terus meracau karena mabuk, Gisel melihat mobil sport yang hanya bisa di tumpangi dua orang itu, Sadam sudah di samping nya saat ini.


Bruk...


Pintu di tutup, Gisel sangat gugup. Dia tidak pernah membawa sejenis mobil sport seperti ini, mobil nya saja sedan biasa, memang hampir sama tapi gadis itu takut merusak mobil Sadam.


"Apa seharusnya aku tidak menolak tawaran Lukas yah?"gumam Gisel merasa gelisah.


Tapi pikiran itu dia tepis, gadis itu menelpon Arbian mengatakan kalau dia akan mengantar Sadam sampai rumah. Mobil itu akhirnya juga di bawa Gisel menuju rumah Sadam, suasana malam hari yang sekitar jam 12 lewat itu hanya beberapa orang yang lewat.


Tidak lama di perjalanan akhirnya Gisel keluar dari mobil Sadam, gadis itu sangat kesusahan harus membuka gerbang rumah dahulu. Dia juga mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, hingga akhirnya sebuah suara pintu mobil terbuka.


Bruk...


"Sadam kau sudah sadar? Apa tidak ada orang di rumah, ayolah kau merepotkan,"kesal Gisel melipat kedua tangan nya di dada.


Tidak ada jawaban sama sekali pandangan Sadam kabur, pria itu akhirnya muntah mengenai kemeja putih nya membuat Gisel kaget dan mundur beberapa langkah.


"Ih Sadam!"teriak Gisel kaget.


Gadis itu akhirnya membantu Sadam untuk berjongkok dan mengusap punggung nya pria itu memegang kepala nya sambil melirik gadis manis yang terus berkata kepada nya tapi pria itu tidak mendengar nya sama sekali, hingga akhirnya Gisel yang membuka jas luaran Sadam menemukan kunci rumah.


Gadis itu membuka pintu rumah dan langsung membopong tubuh Sadam yang berat ke kamar, Gisel yang merasa kelelahan menghempaskan tubuh nya ke atas tubuh Sadam yang dia jatuhkan, bau busuk membuat Gisel membuka mata nya.


"Kau merepotkan dan sekarang aku seperti seorang baby sister,"kesal Gisel membuka kancing baju pria itu yang terkena muntah dan membawa nya ke kamar mandi.


Saat gadis itu baru keluar sebuah tangan kekar memeluk pinggang kecil nya dari belakang, Gisel yang merasa heran mendongkak kan kepala nya ke atas.


"Sadam kau sudah bangun? Aku mau pulang dulu yah,"pamit Gisel berusaha melepaskan tangan Sadam yang melilit di perut nya.


"Jangan, apa kau memiliki kekasih? Katakan,"bisik Sadam dengan racauan nya.


Gisel yang mendengar itu menaikan satu alis nya, belum selesai gadis itu menjawab Sadam memutar badan Gisel dan menarik tangan gadis itu ke kasur, pria itu menghimpit tubuh Gisel, seringai nakal muncul di wajah Sadam membuat Gisel menelan ludah nya kasar.


"Ayo cium aku cantik,"bisik Sadam sensual.


Kyaa


"Sadam!!"


Flasback on


"Aku tidak mengingat nya, hanya itu,"