SAMUEL

SAMUEL
BAB 127



Beberapa hari setelah insiden kematian Fika, sementara waktu Arbian juga tidak melaksanakan segala misi nya di tim aeros, dia mmeutuskan wakil nya untuk mengerjakan segala urusan nya.


Saat ini pria itu hanya bisa terus duduk di kamar adik nya sambil sesekali melihat foto yang adik nya pajang bersama diri nya di kamar itu.


Samuel mengusut tuntas kasus Fika tidak ada yang nama nya polisi, mereka hanya ingin memegang prinsip nyawa harus di bayar dengan nyawa.


"Kenapa kau menanggung semua nya sendiri? Apa karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku?"


"Seharusnya kau bisa mengatakan segala rasa sakit mu,"


Lirih Arbian meneteskan air mata nya menatap foto Fika, kalian tahu? Pria adalah orang yang paling sangat pintar menyembunyikan kesedihan nya, mereka hanya bisa menahan segala tekanan tanpa mau mengeluarkan air mata.


Tapi jika pria sudah menangis untuk kalian, maka pertahankan, itu artinya kalian sangat berharga lebih dari apapun termasuk keluarga. Arbian mengetahui semua nya, masalah adik nya yang menjadi korban bullying itu karena Samuel ingin mencari segala awal mula bisa semua nya terjadi.


"Ayah, Ibu. Maafkan Bian, Bian masih saja tidak bisa melakukan yang terbaik,"


"Pasti Ayah dengan Ibu sangat kecewa, harus kah kita berkumpul di sana?"bisik Arbian mendongkak wajah nya menatap langit kamar.


Sebuah pisau yang tajam akan dia gunakan untuk menusuk dada nya, dengan perlahan Arbian menutup mata nya bersiap menekan belati itu dengan kuat.


"Aku ingin pulang, ke tempat kalian berada,"bisik Arbian.


Cklek..


Sebuah pintu terbuka kuat, Sadam yang datang mengunjungi sahabat nya itu seketika mengerang kaget dan langsung menendang pisau yang ada di tangan Arbian.


*Bugh..


Bugh*..


Sebuah pukulan melayang beberapa kali menghantam wajah Arbian yang tersungkur di lantai, pukulan? Ya Sadam memukul sahabat nya itu dengan kuat agar menyadarkan Arbian atas tindakan bodooh nya. Tapi Arbian hanya diam menerima pukulan itu.


Kosong, tatapan pria itu sangat kosong. Dia seperti mayat hidup, raga nya memang ada tapi kehidupan di tubuh itu seperti sudah tidak ada.


"KAU GILA!"


"APA TINDAKAN MU INI BENAR?"


"SADAR LAH BIAN, FIKA TIDAK MENGIGINKAN HAL BODOH INI TERJADI,"


"Dia memilih jalan nya agar kau tidak seperti ini, Dia tidak ingin kau mengakhiri hidup, kau tahu!"teriak Sadam dengan mata yang memerah emosi melihat Arbian.


Arbian terdiam dia terlihat tertawa keras, lalu sehabis itu menangis kembali. Sadam tidak tahu lagi menasehati pria itu.


"BIAN, jika kau melakukan nya lagi, seperti nya big bos langsung yang akan membunuh mu,"tajam Sadam.


"Tenangkan diri mu, buka mata mu,"


"Banyak hal yang Fika tinggalkan untuk mu, kisah nya masih kau kenang,"


"Hargai itu, dan lanjutkan kehidupan mu, sebaiknya tenangkan diri mu, aku pergi,"jawab Sadam menutup pintu itu.


Sadam juga tidak lupa mengambil pisau yang ada pada tangan Arbian tadi, pria itu terlihat sangat kacau, kumis yang sudah tidak dia cukur. Dan bulu jenggot tipis yang sudah seperti brewokan yang tidak terlalu banyak terlihat sangat tua di umur nya yang masih 25 tahun kala itu.


"Untuk apa aku hidup? Jika bahagia ku sudah di renggut,"bisik Arbian dengan isakan tangis nya.


Dia sangat rapuh ketika di tinggalkan Fika kala itu, Arbian mendiamkan diri nya dan memilih berjalan menyusuri kompleks rumah nya. Dia pergi ke taman dan duduk di kursi menghilangkan segala stress dan depresi nya.


Arbian yang fokus dengan tatapan nya pada langit, tanpa sadar merasakan dingin yang mengenai pipi nya. Pria itu memutar wajah nya menatap apa yang dia rasakan.


"Om? Kenapa?"tanya gadis cantik berseragam putih abu-abu itu memegang minuman kaleng nya.


Pria itu menaikan alis nya menatap seorang gadis yang seperti nya darah blasteran itu tengah duduk di samping nya, gadis itu tersenyum dan terus menyodorkan minuman kaleng kepada Arbian.


"Untuk ku?"tanya Arbian.


Gadis itu mengangguk cepat ketika Arbian menanyakan nya, pria itu tentu menerima nya. Tapi raut wajah nya tetap memasang raut wajah sedih.


"Om tahu ga kata nya kalau sering melamun besok nya mati haha,"ucap gadis itu berusaha mencairkan suasana karena dia memang sedang gabut.


"Mati? Benarkan? Jika begitu aku akan banyak melamun,"ucap Arbian.


Ck...


Gadis itu berdecak ketika lawan bicara nya yang seperti nya malah mengiginkan kematian itu terjadi.


"Om jangan berbicara seperti itu, aku dari kecil sudah di tinggal mommy. Tapi aku selalu di ajarkan untuk tetap hidup walaupun beban dan rasa sakit ini masih terus membekas, bukan kah jika kita melakukan yang terbaik, kita bisa membuat orang yang pergi bahagia?"tanya gadis itu polos berpikir.


Arbian seketika mengeleng tidak paham apa perkataan gadis itu, begitu pun dengan diri nya yang juga tidak tahu apa yang dia katakan.


"Sudahlah aku lelah berbicara dengan om, tidak punya semangat hidup, cewe cantik banyak loh di luar sana kalau om mau cukur ini, ini, ini, jadi tampan kayak nya,"ucap gadis itu memberikan dua jempol nya.


Arbian terkekeh ketika melihat tingkah gadis itu yang sok akrab, hingga suara teriakan bocah pria membuat perhatian gadis itu teralihkan.


"Alisa!! Kemana saja kau,"ketus pria memakai seragam putih biru itu kesal.


"Aska maafkan kakak mu yang cantik ini, tapi aku bingung jalanan nya sama semua maka nya aku duduk menunggu mu hehe,"ucap gadis itu merangkul tangan pria muda yang lebih tinggi dari nya itu.


"Siapa sih yang adik di sini, selalu saja aku yang kerepotan,"dengus pria itu pergi dari sana.


"Om dadah kami pulang dulu,"ucap gadis itu pamit melambaikan tangan nya kepada Arbian yang melihat kedua bocah itu pergi.


Pria itu hanya mengangguk pelan, dan memegang minuman kaleng itu dan tersenyum kecil karena seperti nya healing nya sukses. Hingga masa yang sulit itu bisa Arbian lewatkan saat ini.


Flasback off


Dan saat ini sekarang ini di umur nya yang 30 tahun selama lima tahun itu dia sudah mengikhlaskan kepergian Fika dalam hidup nya, setelah dari markas tadi Arbian kembali duduk di kursi taman yang dulu kunjungi.


"Fik, kapan aku mati? Aku ingin bertemu dengan kalian,"ucap Arbian.


Gumaman pria itu terdengar oleh seroang gadis cantik berumur 23 tahun itu, gadis itu menempelkan minuman kaleng nya lalu berkata.


"Kenapa sih kak Arbian hobi banget ngomongin mati?"


......................


***Just info :


Jadi posisi nya pas Arbian umur 25 tahun itu karena dia sering di italia bekerja di markas aeros yang di sana, dia memang ga kenal dengan anak pengusaha ya, dia cuman kayak kenal sama kepala keluarga nya.


Dan cerita ini walaupun banyak koflik sekalian ambil pelajaran ya, ada baik nya kasih tahu mana yang baik dan buruk, selalu cerita kalau ada masalah jangan pendam sendiri hehe***.