
"Saya terima nikah nya Gisel kristine binti Elbarack kristine dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"ucap Sadam dengan suara tegas dan lantang nya.
Sah...
Semua orang mengucapkan sah dan memanjatkan doa, Adelia sebagai mama Sadam terlihat tersenyum duduk setelah mendengar ijab qabul yang berjalan khusyuk itu. Acara yang mendadak diadakam secara sederhana, karena Gisel juga tidak mengiginkan acara mewah.
"Kak,"gumam Gisel melirik Sadam yang menatap nya dengan tatapan datar, pria itu memberikan tangan nya, Gisel menyambut menghomati pria yang sudah berstatus suami nya itu.
"Jangan pasang wajah sedih mu itu, apa kau mau semua orang curiga,"bisik Sadam saat pria itu mencium kening Gisel sekilas.
Gadis itu yang mendengar penuturan Sadam seketika tercengang, dia berusaha menuruti kata Sadam dan memberikan senyuman terbaik yang dia punya.
Terlihat tamu undangan yang datang juga hanya beberapa dari teman dekat dan keluarga, papa Gisel datang langsung mewakili begitu pun dengan mama Gisel dan kakak nya yang memasang wajah tidak suka sambil sesekali mengibaskan rambut mereka.
"Sayang selamat,"ucap Adelia memeluk Gisel yang juga sudan menjadi menantu dan sekaligus putri nya itu.
"Terimakasih tante,"senyum Gisel membalas pelukan Adelia.
Mereka terlihat sangat harmonis layak nya ibu dan anak, sedangkan ibu kandung gadis itu sendiri tidak mengucapkan kata selamat atau pun pelukan.
"Sayang jangan panggil tante, panggil mama seperti Sadam dan Rara memanggil ok?"ujar Adelia kepada gadis itu.
"Oh iyah lupa, Gisel kan sudah menikah, jadi mama Kak Sadam mama Gisel juga yah?"tanya gadis itu lucu membuat Lenka yang duduk bersama suami nya malah tertawa paling keras membuat Sam malah menutup mulut gadis itu.
"Haha yaiyalah,"teriak Lenka yang tidak pernah malu di mana tempat itu.
Ups..
Lenka tampak terdiam ketika suami nya langsung menutup mulut dengan tangan nya, andai kalian tahu masalah kemarin tidak ada yang tahu karena itu keputusan Gisel. Gadis itu takut kalau Lenka mengetahui masalah nya, Lenka pasti ikut menyalahkan diri nya karena itu adalah acara pernikahan nya.
Terlebih lagi Lenka lah yang meminta Gisel untuk menginap di hotel saat acara itu, tapi dengan sebuah akal bulus Sam yang seperti nya mengerti tatapan Sadam berusaha menjelaskan kepada istri nya kalau Gisel dan Sadam di jodohkan.
"Gisel,"panggil seseorang pria paruh baya yang terlibat tegas dan wibawa nya.
Gadis itu mendongkak kan kepala nya menatap sang papa yang memanggil nya, pria itu melirik istri dan anak sulung nya yang berdiri di depan pintu ingin segera pulang.
"Papa ayolah, acara nya sudah selesaikan?"tanya mama Gisel kepada papa Gisel.
Lihatlah wanita ular itu anak nya sendiri dia anggap sebagai apa, acara baru selesai langsung ingin pulang tanpa ada niat bersilahturahmi dengan keluarga besan nya.
"Gisel dengarkan papa sayang, selama ini papa diam bukan berarti tidak peduli padamu,"
"Keputusan Sadam menikahi mu adalah jalan terbaik sayang, papa sekarang bisa senang melihat mu keluar dari rumah,"
"Bukan berarti papa tidak mencintai mu seperti kakak mu, ada sebuah kata yang tidak harus di ucapkan sayang. Jadi kali ini berbahagialah dengan kehidupan mu, kau tidak perlu mengikuti standar keluarga lagi, nenek dan kakek tidak perlu menilai bakat akademik mu lagi, jangan sedih."ucap papa Gisel memeluk putri nya yang diam mematung menatap diri nya sambil menetes kan air mata.
"Papa!"rengek putri sulung Elbarack itu.
Pria itu melepaskan pelukan nya, begitu pun Gisel yang melepaskan pelukan itu dengan keterpaksaan, saat kondisi tengah haru seorang pria dewasa datang dari depan pintu.
"Aiden!"teriak mama Gisel melihat kedatangan putra nya.
"Apa-apaan ini! Dimana Gisel?"teriak pria dengan wajah kesal nya.
Mata nya mengedar kesuluruh ruangan yang ada, Gisel yang melihat kedatangan pria itu menatap shock kakak nya padahal papa nya berkata kalau pria itu sedang di luar kota mengurus cabang perusahaan.
"Siapa pria nya jawab aku,"teriak Aiden mendekat kepada Gisel yang sedang berdiri di samping kakak nya.
"Aiden apa yang kau lakukan di sini? Bukan kau hari ini ada rapat penting,"jawab Elbarack kepada putra nya.
"Rapat papa bilang? Gisel menikah pa, kalian tidak memberitahu ku! Terlebih yang memberitahu ku adalah Zoya, dia mengatakan kalau Gisel,"ucapan Aiden mengantung dengan mata memerah gemetaran memegang pundak sang adik.
Sadam yang juga berdiri di samping Gisel dengan jarak beberapa langkah, seketika menaikan satu alis nya ternyata pria yang selama ini dia kira pacar Gisel adalah kakak nya.
'Ah aku ingat saat acara penghargaan nona Lenka, dia mengatakan dia memeluk seorang kakak pria. Jadi pria itu yang bernama Aiden,' batin Sadam menatap pria yang seperti nya lebih kecil beberapa tahun dari nya.
"Zoya!"teriak Elbarack kepada putri sulung nya tajam.
Gadis itu yang berdiri di dekat pintu bersama mama nya seketika ketakutan melihat papa nya marah, Zoya langsung bersembunyi di balik tubuh sang mama.
'Si@l aku mengadukan biar kakak marah sama Gisel, kok dia tidak memarahi jal@ng itu,' batin Zoya dengan kesal.
"Kak Gisel,"ucapan Gisel tercekat ketika Aiden menatap pria yang dapat diketahui memakai baju pengantin pria di sana.
Rahang Aiden mengeras, mata nya memerah dan tangan nya terkepal erat menatap pria bajing@n yang telah mengotori adik nya itu, Aiden tapi permisi langsung memberikan pukulan kuat pada pipi Sadam.
Bugh...
"Apa kau b@jingan itu hah! Kau pikir adik aku apa hah? Kau pikir dia wanita j@lang di klub bebas di luar sana,"
Teriak Aiden mencengkram kuat kerah Sadam, pukulan pertama memang tepat mengenai wajah Sadam karena pria itu sengaja membiarkan kakak Gisel melampiaskan kecerobohan nya.
"Ternyata kau peduli?"seringai Sadam balik mencengkram kerah baju Aiden.
"Jaga omongan mu, dia itu adik ku si@lan. Di mana letak seorang keluarga tidak peduli, ini bukan hal sepela!"teriak Aiden.
Gisel yang menatap itu seketika kaget harus membela siapa, dia berdiri di tengah pria itu, dan mendorong kuat tubuh kekar kedua pria itu dengan tangan kecil nya, Gisel berada di tengah dengan tubuh pendek nya sambil berteriak.
"Kakak sudah! Jangan salahkan Sadam!"