
Setelah drama kukis yang di dapati Lenka dan Samuel, saat ini pria itu sedang berada di dalam mobil nya mengantarkan Lenka yang akan pulang ke apartemen nya.
"Kenapa kau tidak pulang?"tanya Lenka membuka obrolan melirik pria itu yang sedang fokus dengan mobil nya.
"Apa kau merindukan ku?"tanya Samuel kepada gadis itu.
Bukan nya menjawab tapi Samuel malah menanyakan balik kepada Lenka, membuat gadis itu mengerucutkan bibir nya kesal mendengar pertanyaan Samuel.
"Ya, Aku hanya bertanya,"ucap Lenka kesal mengatakan nya.
"Jika kau hanya sekedar bertanya, Aku punya hak untuk tetap diam,"ucap Samuel tidak menjawab pertanyaan Lenka tadi dan fokus dengan setir mobil nya.
Sudahlah seperti nya Dia akan kalah berdebat jika itu bersama Samuel yang pintar berbicara, di tengah obrolan mereka itu panggilan masuk kembali berdering di ponsel Lenka.
Drt... drt..
"Gisel?"gumam Lenka menaikan satu alis nya.
"Lenka Gua lagi di mall pusat kota nih, Lu kesini yah kita jalan berdua ya ya ya,"teriak Gisel dengan antusias kepada gadis itu.
"Hah udah balik ngampus nya emang?"tanya Lenka dengan nada sedikit heran kepada sahabat nya itu.
"Udah tadi di usir lupa ngerjain makalah Gua cape deh, ayo kita udah lama ga ketemu ni,"teriak Gisel dengan tidak sabar di seberang telpon sana.
Lenka melirik Samuel yang juga melirik nya sekilas, gadis itu menyetujui permintaan Gisel lalu kembali memasukan ponsel nya pada tas kecil nya itu.
"Aku ga jadi pulang, anterin ke mall pusat kota aja, mau ketemu teman,"ujar Lenka mengatakan itu kepada Samuel.
"Siapa?"tanya Samuel dengan nada flat nya masih fokus menyetir.
"Gisel, kok malah nanya-nanya, suka?"ketus Lenka melipat kedua tangan nya di dada.
Astaga seperti nya gadis itu sudah tidak sadar posisi, jika Samuel suka dengan perempuan lain tentu itu adalah hak nya terlebih mereka bukan siapa-siapa saat ini.
"Kenapa kau marah? Apa Dia cantik, jika iya apa kau mengizinkan nya,"ucap Samuel mengoda Lenka yang sudah menatap keluar jendela.
Gadis itu tidak menjawab sama sekali hanya sebuah pipi mengembung nya yang terlihat di sebalik helain rambut yang menghadap jendela lamborghini Samuel itu.
"Jangan memasang wajah seperti itu babe, Aku jadi ingin melahap mu,"goda Samuel mengatakan itu dengan gaya sensual.
Hik,, Lenka langsung menatap Samuel ngeri Dia menutup pipi nya kuat dengan wajah tajam seolah-olah mengatakan jangan dekati Aku.
"Coba saja, Aku akan melaporkan nya kepada Daddy, kenapa kau suka makan daging manusia, daging sapi lebih enak,"ujar Lenka mendengus kesal.
Damn, seperti nya Lenka salah menanggapi arti kata dari melahap yang Samuel maksud, membuat pria yang mendengar perkataan Lenka itu hanya tertawa kecil.
'Dia tidak sedewasa yang Aku pikirkan, tapi itu lucu,' batin Samuel.
Bisa-bisa nya Lenka berpikiran kalau Samuel suka memakan daging orang, itu tidak pernah terjadi sekali pun Samuel pernah mengeksekusi mereka menjadi bagian terkecil.
Lama mereka mengobrol dan akhirnya tujuan yang di inginkan Lenka pun sampai, Samuel turun membukakan pintu untuk gadis nya itu.
Langkah kaki Lenka terasa di ikuti, gadis itu memutar wajah nya dan menatap malas kepada Samuel yang ternyata mengikuti diri nya itu.
"Sam, berhenti lah mengikuti ku, apa kau tidak bekerja, cari uang yang banyak,"ucap Lenka seolah-olah itu adalah kata perintah.
"Uang? Aku ada banyak,"ujar Samuel mengeluarkan semua jenis ATM dan kartu kredit nya dari berbagai warna itu.
Lenka melongo, seperti nya kalau uang Samuel memang tidak akan memikirkan nya, tapi tunggu kenapa Dia masih bekerja di William, ah Lenka ingat sekarang tentang cerita pria itu bertahan di William.
"Tapi sebaiknya kau bekerja ok,"ujar Lenka berusaha membujuk pria itu dan mengusir nya lembut.
"Aku sedang bekerja mengawasi mu, apa kau lupa Aku pengawal pribadi mu, ayo,"ujar Samuel menarik tangan Lenka menuju tempat yang sudah Lenka janjikan bersama Gisel.
'Hei ayo lah, kenapa Dia sok lebih tahu dari pada Aku,' kesal Lenka yang hanya pasrah menerima tarikan dan gengaman tangan nya itu oleh Samuel.
Seorang gadis hiperaktif melambaikan tangan nya ke arah Lenka, gadis itu meloncat kegirangan dan memeluk Lenka.
"Kyaa Lenka kau semakin cantik saja, walaupun tinggi mu tidak bertumbuh, hei siapa pria tampan ini, astaga Dia bule, apa kau kuliah sambil mencari calon mu, lihat lah Dia seperti pria Eropa asli Lenka, Hei kau pacar nya Lenka, kenalkan Aku Gisel,"ujar Gisel membagakan Samuel yang sedang berdiri di samping Lenka, gadis itu tidak ada berhenti nya berbicara dan memuji Samuel.
"Gisel, tolong jangan heboh, Dia bukan pacar ku, dan Di-,"
"Aku Samuel Morgan, pacar Lenka seperti yang kau bilang Nona,"ucap Samuel menyela perkataan Lenka mengenalkan diri kepada teman Lenka.
"Sejak kapan,"kesal Lenka ketus kepada Samuel melepaskan gengaman nya.
Gisel yang melihat drama di depan nya itu hanya bisa menutup mulut, dan mendengar nya seksama.
"Hari ini, tidak ada penolakan, jika kau menolak Aku akan mencium mu,"ujar Samuel mengatakan itu dengan penuh penekanan.
Seketika Lenka memasang wajah terkejut, hayo lah sedikit nya Michele harus bersikap romantis kepada diri nya jika Dia memang mengajak nya pacaran, walaupun Lenka tidak tahu perasaan nya, tapi tunggu cara Samuel terlalu flat dan mendadak.
"Tapi kau sangat tidak ro--,"
Sekali lagi Lenka di buat terkejut oleh Samuel yang membungkam bibir nya mendadak, mata nya membalak kaget merasakan tenguk nya di tahan, bibir tipis nya di lum@t secara perlahan oleh Samuel.
"Sam!"teriak Lenka mengusap bibir nya kasar karena terkejut dan berjalan mundur beberapa langkah.
"Mine," gumam Samuel dengan senang akhirnya menjadikan Lenka milik nya.
Tapi seperti nya Lenka belum memberikan jawaban, dan Samuel seenaknya memaksa dan mencap kalau Lenka sudah menjadi milik nya saat ini.
"Kau gil@, semua orang menatap kita,"gumam Lenka berjalan mendekat kepada Samuel dan memeluk nya berusaha menutup wajah nya karena malu.
Ingin sekali Dia hilang di telan bumi saat ini, rasa kaget nya atas ciuman Samuel tidak apa apa nya di bandingkan rasa malu nya.
"Bawa Aku pergi sekarang, atau jangan harap kita bertemu lagi,"kesal Lenka mencengkram jas pria itu.
Samuel tersenyum, Dia mengangkat tubuh Lenka mendadak di bahu nya seperti posisi karung beras, gadis itu hanya pasrah dan menutup kedua wajah nya dengan malu sambil pamit kepada Gisel.
"Gisel, lain kali kita bertemu lagi, Aku pulang dulu,"