SAMUEL

SAMUEL
BAB 79



Mansion william tampak heboh Agalista dan Gisel yang mengetuk pintu walk in closet tempat Lenka pergi tadi tidak kian di buka, membuat Gisel panik terus menerus.


Bugh.. bugh..


Agalista tampak memukul kuat pintu itu berharap Lenka di dalam sana segera membuka pintu untuk nya, tidak ada jawaban sama sekali pintu terkunci dari luar.


"Dimana Lenka?"tanya Rere kepada teman-teman Lenka.


"Kak Rere, Lenka dia tadi izin pergi ke toilet tapi sudah hampir dua jam dia belum kunjung keluar,"ujar Agalista dengan nada panik.


Rere yang mendengar itu sudah memiliki firasat kalau anak nya itu pasti nekat untuk mencari Samuel, wanita itu tampak turun ke bawah di mana para pria william berjaga di ruang tamu, Rere sebenarnya juga panik tapi dalam situasi ini dia harus tetap tenang.


"Mas Lenka seperti nya kabur,"ucap Rere kepada suami nya.


Para kembar langsung berdiri karena kaget, sedangkan Varo tampak diam dan memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, saat mereka tengah gundah ponsel milik Luis berdering.


Drt... drt..


"Halo Juna ada apa?"tanya Luis.


"Tuan Luis nona di larikan ke rumah sakit,"ucap Juna.


Informasi yang di jelaskan Juna membuat semua orang shock, mereka bergegas pergi ke rumah sakit untuk menyusul Lenka yang juga di dalam perjalanan.


Sedangkan di tempat kejadian beberapa menit sebelum Lenka pingsan karena terus menangis dan shock atas kejadian di depan nya, gadis itu pandangan nya yang kabur menatap Sam terus menangis, hingga suara ledakan besar membuat gedung itu terbakar hebat.


Duar... duar..


Api di mana-mana, gedung itu habis karena ledakan bom, mereka yang berdiri di dekat gedung dapat merasakan hawa yang sangat panas, kondisi sangat genting, Lenka yang berkata lirih sebelum pingsan melihat Samuel di bopong oleh Arbian dan Sadam.


"Bos, sadarlah!"teriak mereka.


Semua orang tampak panik, sekaligus Lenka yang berada di gendongan Kevin di bawa masuk ke mobil Lukas untuk di antar ke rumah sakit, tembakan itu tepat mengenai dada Samuel.


......................


3 hari telah berlalu


Semenjak kejadian yang besar-besaran melibatkan aeros, black devil dan william. Dunia bawah mafia di gemparkan dengan tim darkness yang hancur, tim yang berkuasa di amerika itu telah di taklukan oleh sebuah tim misterius.


Black devil mati-matian untuk menyembunyi kan informasi dan kejadian saat aeros melawan darkness agar para tim bawahan kelas rendah tidak mengusik ketenangan saat mereka masih di fase terburuk.


Bip.. bip..


Suara bunyi layar Bedside Monitor, suatu alat yang digunakan untuk memonitor vital sign pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, temperatur bentuk pulsa jantung secara terus menerus itu berbunyi keras di pendengaran.


Di ruangan khusus VIP itu tampak seorang gadis cantik tengah berbaring tidak sadarkan diri atas kejadian beberapa hari lalu. Di ruangan dokter terdapat pasangan william tengah mendengar informasi dari dokter.


"Insiden traumatic brain injury yang terjadi pada seseorang tersebut akan membuatnya pasif terhadap stimulus eksternal, jadi tuan dan nona anak anda mungkin sebelum pingsan mengalami benturan ketika terjatuh, dan keadaan trauma yang menolak nya untuk sadar dari tidur nya,"jelas dokter.


"Lenka,"gumam Rere menangis mengingat kondisi sang anak yang pasif berbaring di kasur pasien RS william itu.


Lenka yang menjadi dokter terkenal tentu di cari media karena ketidakhadiran nya dalam beberapa acara, keadaan itu di tutup william seolah-olah Lenka sedang cuti dengan dunia kedokteran nya, tidak ada satu pun yang tahu selain keluarga dan orang terdekat.


Bip.. bip..


Luis tampak mengengam jemari lentik adik nya, pria itu mengusap surai panjang sang adik yang belum tersadar, Lukas saat ini berdiri di depan pintu perawatan Lenka, pria itu merasa sangat bersalah, kenapa adik nya harus mengalami hal seperti ini.


'Bukan bahagia tapi musibah,' batin Lukas.


Varo dan Rere keluar dari ruangan dokter, mereka tampak bergabung dengan yang lain nya di sana juga ada Agalista dan Gisel yang selalu mengunjungi Lenka rutin.


"Mom, Dad maafkan Lukas,"lirih Lukas bersimpuh di kaki kedua orang tua nya.


Rere tampak menangis memeluk sang anak, sedangkan Varo hanya diam, ini semua sudah jalan takdir nya, menangis pun tidak membuat Lenka kembali tersadar.


"Jangan menyalahkan diri mu, itu pilihan Lenka, dia datang ke sana atas kehendak nya,"


"Menyesal pun tidak membuat adik mu sadar, kita hanya perlu berdoa,"ucap Varo dengan tegas.


Umur 20 tahun adalah umur yang masih sangat muda untuk anak-anak nya menanggung ini semua, Varo tidak menyalahkan siapa pun di sini, atau pun Lukas. Bagaimana pun anak-anak nya memiliki otak yang cerdas, mereka tetap masih anak 20 tahun, tidak ada yang sempurna.


"Lalu bagaimana tentang Sam, bagaimana aku akan menjelaskan nya kepada Lenka, jika dia sadar Dad?"


"Aku sangat takut jika dia mengetahui bahwasan Sam sudah ti--,"


Perkataan Lukas terpotong oleh Luis yang keluar dari ruangan Lenka, pria itu tampak menyela perkataan Lukas.


"Sebaiknya jangan beritahu apapun, apa kau mau melihat adik mu depresi jika dia mengetahui tentang pria itu,"bentak Luis tajam kepada Lukas.


Semua orang tampak terdiam dengan perasaan kalut, menjadi keluarga yang kaya dan berpengaruh tidak selalu membuat mereka bahagia, ada kala nya mereka selalu di target kan oleh beberapa kumpulan orang yang tidak menyukai mereka dan menjatuhkan mereka dengan cara apa pun, termasuk dengan membunuh.


Agalista tampak terdiam mendengar bentakan Luis kepada Lukas, wanita itu tampak meremas bunga mawar yang dia bawa untuk Lenka.


"Lenka kenapa kisah mu dan Sam harus sepahit ini, aku harap kau bisa mencari pria lain setelah ini,"gumam Agalista meneteskan air mata nya.


Gisel yang melihat itu mengengam tangan Agalista, mereka semua sedih di sini dan mereka juga harus bisa saling menguatkan satu sama lain, aeros berhenti beroperasi sementara waktu, dan Kevin yang mengambil alih menjadi pemimpin aeros, dia mengatakan akan memberhentikan semua kegiatan aeros beberapa hari ini.


"Mom akan ke dalam,"ucap Rere berjalan masuk ke ruangan Lenka.


Wanita paruh baya yang masih cantik di umur nya yang ke 39 tahun, Rere melangkah kan kaki nya berat dan mengusap tangan Lenka, wanita itu menatap wajah anak gadis nya yang pucat.


"Hei sayang bangun lah, jangan tingalkan mommy lebih cepat, kau tahu bukan mom dulu di tinggalkan nenek mu lebih cepat, apa kau sekarang mau meninggalkan mom juga?"tanya wanita itu.


"Mom,"