SAMUEL

SAMUEL
BAB 176



Setelah acara makan nasi goreng kemarin berjalan lancar hubungan rumah tangga layak nya pasangan lain tidak ada pertengkaran hanya rasa cinta satu sama lain yang tentram membuat siapa saja kadang merasa butuh tantangan dalam hidup, ya terlalu flat tidak akan membuat bahagia juga bukan.


“Aku bosan selalu saja di rumah menatap luas rumah yang itu itu saja, aku ingin kembali ke rumah sakit tapi Sam pasti belum mengizin kan,”gumam Lenka melirik kamar mandi yang di mana Samuel berada di sana.


Ya pria itu mendapatkan morning sickness yang lumayan parah ketika jam rawan seperti ini, Lenka yang sudah terbiasa hanya bisa merawat sang suami dengan penuh kasih sayang.


Drt… drt…


Sebuah ponsel terdengar bergetar keras di telinga Lenka. Ponsel mahal yang ada di atas meja bewarna hitam itu milik sang suami lockscreen yang menampilkan wajah nya mulai terlihat serta nama panggilan masuk terlihat jelas.


“Siapa ini?”gumam Lenka melihat pemanggil yang tidak ada nama nya dan hanya sebuah nomor telepon saja.


Gadis itu terus melihat Sam yang belum keluar dari kamar mandi, serta panggilan berdering yang menganggu telinga nya tiada berhenti dari tadi. Lenka yang mulai kesal mengambil ponsel suami nya dan mengangkat ponsel itu.


“Maafkan aku sayang, aku izin angkat telpon nya yah,”gumam Lenka.


Tut..


Panggilan pun terhubung setelah Lenka mengetuk panggilan bewarna hijau itu untuk menerima nya, Lenka tampak menunggu seseorang di seberang sana untuk memanggil nya.


“Halo siapa ya?”tanya Lenka kepada penelpon.


Tidak ada jawaban sama sekali dari penerima telepon itu hanya sebuah suara dengusan kesal yang terdengar seolah tidak suka jika Lenka lah yang mengangkat ponsel milik Samuel.


“Dimana suami mu,”tanya seorang wanita yang terdengar sudah berumur beberapa puluh tahun itu.


“Lah urusan nya sama lu apa kok tanya tanya suami saya,”kesal Lenka merasa cemburu.


Ayolah wanita hamil memiliki mood yang sangat temperamental dan gampang berubah ketika suara wanita itu menanyakan suami nya membuat Lenka merasa kesal.


“Jaga sopan santun mu, aku berlin mama nya Sam.”ucap wanita itu the point.


Damn itu seperti Lenka tahu siapa wanita ular dengan suara yang membuat naik pitam ini, Lenka sedikit menjauh kan ponsel nya seolah menatap kesal ponsel itu.


“Maaf tapi suami saya saja tidak memanggil anda mama bagaimana saya ikut memanggil anda mama, oiya ingat kata Sam kau hanya mama biologis nya,”cicit Lenka mengatakan itu.


Bukan seperti di sinetron Lenka menjadi peran antagonis yang jahat tapi di sisi ini Lenka hanya mengikuti saran sang suami agar tidak berurusan dengan mama kandung yang di anggap Sam hanya sebagai orang tua biologis nya itu.


“Kalian sama saja tidak ada tata krama, apa wanita William didik seperti ini,”teriak wanita itu si balik ponsel.


Ayolah di pagi hari ini Lenka harus menghadapi drama seperti ini antara membuat nya senang bahagia karena rasa bosan nya atau merasa kesal sendiri harus merasa di ganggu ketika dia sedang bosan entahlah mood nya saja dia tidak mengerti.


“Ka—,”


Belum sempat Lenka menjawab perkataan wanita itu, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar jelas di indra pendengar Lenka. Gadis itu melihat sang suami yang berjalan ke hadapan sambil bertanya.


“Siapa sayang?”tanya Sam.


“Wanita itu,”ucap Lenka.


Samuel yang mendengar kata wanita itu langsung mengerti apa perkataan Lenka, dengan mendengus kesal Sam meminta dengan lembut ponsel nya kepada Lenka. Tanpa sepatah kata atau apa pun Sam langsung mematikan ponsel nya.


“Lah kok di matiin aku belum selesai ngomong,”tanya Lenka memanyunkan bibir nya kepada Sam.


“Aku ingat kan sayang bisa saja dia menjadi sumber masalah kita ke depan nya, aku lebih baik menghindari apa yang akan menjadi bibit penghancur rumah tangga kita. Karena aku lebih peduli dengan mu dari pada masalah ku sendiri, ingat itu oke,”jawab Samuel mengatakan itu kepada Lenka.


Gadis itu mengangguk tanda mengerti kepada Samuel, Lenka sebenar nya juga tidak ingin meladani wanita tua itu tapi karena dia hanya merasa bosan dan ingin melampiaskan ubek ubek nya sekalian.


“Sam apa aku boleh ikut ke markas kali ini ya ya?”tanya Lenka dengan antusias.


Pria itu tampak membalikkan badan nya diam tidak menjawab perkataan sang istri, Samuel mengambil baju yang sudah di siapkan sang istri lalu memakai nya. Tidak ada jawaban sama sekali sehingga kemana pun kaki Sam melangkah saat bersiap Lenka selalu mengekori suami nya itu.


“Sam aku mau ikut,”


“Boleh ya,”


“Sayang aku ikut.”


“Sayang,”


“Ih ikut,”ucap Lenka kepada Samuel.


Lenka yang merasa di cuekan mulai kesal dia mulai mengalung kan tangan nya di leher Samuel dan bergelantungan di sana membuat Sam merasa tercekat.


“Sayang jangan lakukan ini kau bisa terjatuh,”ucap samue mengatakan itu.


“Biarin mau ikut,”ucap Lenka seperti anak kecil kepada sang suami.


Samuel menghela nafas nya, dia menahan pinggang sang istri untuk menahan rangkulan itu agar Lenka tidak bergelayut pada nya, Samuel akhirnya menggendong Lenka seperti anak kuala. Dan menurunkan nya ke atas kasur dengan perlahan.


“Kau nakal mau aku gigit hah?”tanya Samuel menjilati leher sang istri.


“Arghh geli jangan ampun,”ucap Lenka menjauhkan wajah Sam dari leher nya.


“Maka nya diam, dan bantu suami mu ini memasang dasi,”ucap Samuel.


Gadis itu mengangguk dan akhirnya bangun dari kasur Lenka tampak membantu Samuel dengan dasi nya dengan cekatan dasi yang di lipat Lenka selesai dengan rapi oleh tangan kecil nya, suami nya itu tampak sangat tampan di mata nya.


Setelah selesai memasang dasi Lenka tampak mengatupkan kedua pipi suami nya sehingga membuat wajah datar dan tampan itu mau tidak mau memaksa melihat ke arah nya, Samuel menaikan satu alis nya merasa heran dengan tingkah Lenka.


“Ada apa?”tanya Sam heran.


“Kenapa suami ku sangat tampan, aku merasa takut kau akan di culiki tante tante. Hmm atau aku suruh kau pake topeng monyet saja ya,”gumam Lenka tampak mulai berpikir aneh.


Samuel menelan saliva nya dengan kasar mendengar perkataan Lenka yang mulai menyuruh nya hal aneh cukup ketiga kembar kemarin saja yang di dadani Lenka seperti itu jangan diri nya atau harga diri nya akan jatuh di depan bawahan nya.


“Ekhem sayang kau bilang ingin ikut kan? Kau boleh ikut ganti baju mu jangan nakal yah,”ucap Samuel mengalihkan pembicaraan.


“Ah benarkah? Okey suami ku terimakasih,”