
"Wah kejeniusan ku sangat membantu di tambah dengan peralatan canggih dari aeros, orang boodoh pun mungkin bisa menggunakan ini bos,"ucap Megan mencoba melacak lokasi seseorang dari pekerjaan nya hari ini.
Sedangkan Sadam duduk di samping kursi tunggal lain nya di samping Megan, pria itu membantu wanita itu untuk menjelaskan segala penggunaan alat canggih itu. Tapi walaupun alat aeros canggih, tetap hal yang utama adalah ketelitian dan kelincahan.
"Bos kenapa kau sangat gampang melakukan nya,"tanya Megan dengan penasaran turun dari kursi nya dan berdiri di samping kursi Sadam melihat dari dekat pekerjaan pria itu.
Posisi Megan yang di belakang menopang tangan nya dengan sandaran kursi Sadam seolah seperti posisi yang sangat romantis, padahal di lihat dari sisi depan itu hal biasa. Megan dengan takjub melihat Sadam yang melakukan nya dalam hitungan beberapa detik.
"Jika kau memang sehebat yang di bilang big bos, maka kau harus bisa melakukan nya sebaik apa yang ku bisa Megan,"tegas Sadam kepada wanita itu.
Sadam tidak membedakan gender sama sekali dalam memberitahu cara kerja nya kepada bawahan nya itu, Megan mendengarkan itu dengan seksama.
"Kembali ke tempat duduk mu, jangan dekat-dekat dengan ku,"kesal Sadam kepada wanita itu.
"Ah baik bos, maaf,"ucap Megan berjalan mundur menuruti perintah Sadam.
Tapi karena hal yang tiba-tiba itu kaki Megan tersangkut di kaki kursi putar milik Sadam itu, membuat nya hampir terjengkang. Sadam yang melirik itu seketika berusaha menahan tangan wanita itu agar tidak terjatuh, tapi tangan nya yang licin malah membuat nya ikut menimpa tubuh Megan.
Bruk...
"Arghh siaal,"umpat Sadam.
Drap.. drap..
Langkah kaki Gisel, Rara dan wakil ketua tim pengejar itu menyusuri lorong yang akan menuju lantai divisi Sadam. Pria pendek itu membantu membuka pintu untuk istri Sadam tersebut.
"Silahkan nona nona indris, ladies first," ucap pria itu menaik turun kan alis nya kepada Rara dengan senyum memikat nya.
Sedangkan Rara yang melihat itu hanya memasang wajah jijik dan jengah merasa gerah oleh tingkah pria yang baru dia temui hari ini, bagaimana pun Rara yang masih bocah SMP tentu dengan gamblang mengatakan ketidaksukaan nya.
"Jangan menatap ku, dasar cowo pendek,"ketus Rara mengekori Gisel yang ingin masuk dan mengengam ujung baju kakak ipar nya agar tidak tertinggal.
"Hah apa salahku? Aku kan tampan, cuman kurang tinggi. Aku juga masa pertumbuhan,"ucap pria itu kesal.
"Ganteng doang, tapi ga tinggi,"ejek Rara tertawa puas mengulti pria itu.
Cklek...
Pintu ruangan itu terbuka pelan oleh tangan pria pendek itu, Gisel melangkahkan kaki nya. Ruangan itu ramai dengan segala sisi seperti meja kantor, semua orang terlihat bekerja. Tapi mata Gisel mengedar keseluruh ruangan. Dia mencari sosok suami yang ingin dia temui.
"Kak Sadam!"teriak Rara melihat pria itu yang sedang menindih tubuh seorang wanita.
Gisel yang tidak mendapati sosok Sadam mencari pria itu dengan melihat arah pandang Rara, seketika mata Gisel membulat. Bekal yang dia bawa seketika terjatuh, dia seketika memasang wajah murung.
"Gisel? Rara, apa yang kalian lakukan di sini?"tanya Sadam dengan heran.
"Apa yang kami lakukan? Kami yang harus nya bertanya apa yang kakak lakukan dengan wanita lain itu!"teriak Rara kesal mewakili Gisel yang hanya terdiam.
Wanita itu menduduk air mata nya tumpah membasahi pipi gembul nya, makanan yang dia bawa sudah tercecer di lantai. Bibir nya bergetar berucap ingin mengatakan sesuatu, dia menatap posisi Sadam dengan wanita itu yang sangat intim.
Rara yang mendengar itu seketika tambah menatap tajam sang kakak, dia merasa kesal dengan wanita yang berada di bawah Sadam hanya memasang wajah celingak celinguk.
Pakaian wanita itu memang tidak sexy malahan pakaian nya seperti memakai jas dan celana hitam panjang, seperti semua orang di sana tapi ya nama nya itu tetap seorang wanita bukan!
"Kakak! Apa kau masih seperti itu hah,"teriak Rara kesal menghentakan kaki nya.
Sadam yang baru tersadar karena kejadian itu memang baru terjadi barusan seketika langsung berdiri dengan sigap dan lurus, dia merasa panik melihat sang istri yang menangis tersedu-sedu itu.
"Kakak Gisel jangan menangis, aku akan memukul nya,"ucap Rara memeluk Gisel.
Gadis SMP itu seketika menuju kakak nya, dengan segala kekesalan nya dia memukul Sadam habis-habisan dengan kuat walaupun bagi Sadam itu tidak terasa sakit sama sekali dan hanya merasa pukulan ringan.
"Siaalan kau kak, kenapa kau mengkhianti kak Gisel!"
"Aku tahu dia sedikit boodoh dan lemot! Tapi kau sampai mengajak seorang wanita ke tempat kerja mu hah!"
"Aku tahu kata mama di tempat kerja mu tidak ada seorang wanita kecuali kak Lenka, dasar kau kak!"
Bugh.. bugh...
Dengan kesal Rara terus memukul Sadam dengan habis-habisan sedangkan pria itu hanya bisa berusaha menahan tangan sang adik.
"Rara tenanglah, kakak tidak mungkin melakukan hal boodoh itu, istri ku cantik siapa yang akan selingkuh,"teriak Sadam kepada sang adik.
Seketika Rara yang mendengar teriakan sang kakak mulai tenang dia mulai menahan pukulan nya, gadis itu terlihat berkeringat dan nafas nya naik turun karena kesal oleh ulah sang kakak, dia baru bisa bernafas lega.
Hosh.. hos..
"Benarkah? Lalu kenapa kau melakukan hal tidak senonoh kak,"ucap Rara masih ngos-ngosan.
Sadam sama sekali tidak menjawab pertanyaan sang adik, dia baru sadar tidak ada sama sekali istri nya di ruangan itu. Hanya sebuah kotak makan berserakan yang ada di sana, membuat Sadam heran.
"Apa dia membawakan ku makanan? Tumben, bukan nya biasa nya dia hanya akan tidur,"ucap Sadam mengatakan itu.
"Jangan mengejek kakak ipar ku kak, sehabis kakak pergi, dia memasak untuk kakak ya! Dia menyiapkan semua itu, dan sekarang makanan itu malah tidak berbentuk karena kesalahan kakak sendiri,"teriak Rara berteriak.
"Dan kau wanita pelakor, jangan menganggu rumah tangga kakak ku hah! Dasar buruk rupa, mentang-mentang kau seksi dan lebih putih, bukan berarti kau segala nya, kak Gisel lebih cantik medusa!"teriak Rara menumpahkan segala kekesalan nya.
"Lah kok aku? Aku hanya diam,"ucap Megan yang masih bingung.
"Rara jangan terus berteriak, kemana Gisel tadi?"ucap Sadan mulai panik.
"Bos seperti nya nona pergi dari aeros menggunakan mobil sambil menangis, ada yang melaporkan,"ucap salah satu pria tim informan yang sedang mencek cctv.
"Dasar wanita boodoh itu,"