
Malam harinya
Setelah perbincangan ringan antara sahabat saudara, Sadam menyuruh semua orang yang mengunjungi istri nya itu pulang. Karena ya dari tadi istri nya tidak bisa tidur karena obrolan panjang dua sahabat nya yang tiada henti antusias menceritakan si baby twins.
Lebih tepat nya Sadam mengusir mereka bukan menyuruh pulang, seperti saat sekarang ini dia yang tengah mendorong tubuh Arbian keluar dari ruangan istri.
"Sebaiknya kalian semua pulang istri ku dari tadi tidak tidur karena kunjungan kalian yang tidak berguna,"ketus Sadam melirik beberapa orang pria yang ada di depan pintu kamar ruangan sang istri.
"Apa kau mulai berani dengan ku Sadam?"kesal Samuel kepada bawahan nya itu.
"Tidak big bos, saya lebih tidak berani kepada bumil satu itu,"lirik Sadam melihat Lenka yang masih memeluk Gisel untuk berpamitan.
Memang benar Sadam mengusir semua orang yang ada di dalam ruangan itu tapi tidak dengan Lenka dan Agalista, sebenarnya Sadam lebih takut menganggu istri tuan nya itu takut-takut Lenka akan menyuruh melakukan sesuatu hal aneh lain nya lagi.
"Kau benar, jangan berani kepada ratu aeros atau tengah malam kau akan di suruh jadi badut peliharaan nya,"ucap Samuel menepuk bahu sang bawahan dengan wajah seperti orang menderita.
Sadam yang tidak mengerti sama sekali hanya bisa memasang wajah bingung nya itu, para pria memang sudah di luar sedangkan Lenka dan Agalista baru keluar setelah cipika-cipiki dengan sahabat nya itu.
"Baiklah kami pamit pulang dulu,"ujar Lenka tersenyum mengandeng tangan suami nya.
Sedangkan Sadam yang melihat akhirnya bisa bernafas lega, ya bagaimana tidak padahal dia sudah ingin bermanja manja dengan istri tapi Lenka mengambil Gisel nya itu sepenuh nya.
'Ya nona anda lebih baik pulang saja,' batin Sadam sambil mengangguk puas.
"Hmm tapi tunggu,"ucap Lenka menghentikan langkah nya dan memutar badan kecil nya menatap Sadam.
Langkah kaki kecil Lenka yang mendekat kepada nya bagai sebuah parang yang akan menusuk nya membuat Sadam menelan ludah nya kasar takut-takut dia akan jadi bahan percobaan seperti sang big bos.
Glek...
'Mau apa lagi ratu aeros satu ini,' batin Sadam.
"Oiya Sadam jaga Gisel ku atau kau yang akan ku kebiri, aku mendengar nya bajingan, dia keguguran."bisik Lenka di depan wajah sang bawahan suami.
Glek...
Untuk kedua kali nya Sadam menelan Saliva nya kasar tatapan Lenka seperti iblis yang siap mengancam nya kapan saja, pandangan itu sebelas dua belas dengan sang suami.
"Ahaha jangan takut begitu Sadam, ini bukan salah mu, kami pamit dadah,"ucap Lenka dengan tersenyum manis.
Apa apaan itu? Kemana wajah seram tadi? Astaga wanita hamil satu ini seperti nya sangat manipulatif dalam berbicara di depan lawan bicara, dia sangat pintar berakting bukan.
Yang tadi nya mengintimidasi berubah langsung ceria, sedangkan Samuel yang mendengar itu tersenyum miring dan melirik sang bawahan sambil mengejek.
"Sebaiknya dengar apa yang istri ku katakan Sadam Indris, Gisel bagi nya adalah saudara, jangan bermain dengan wanita lain,"ucap Samuel.
Semua orang berlalu pergi dengan Samuel dan Lenka yang terakhir pamit, Sadam menatap langkah kedua orang itu yang sudah menghilang dia memegang kepala nya sambil menggeleng.
Pria itu menutup pintu ruangan itu pelan, dia melihat sang istri yang sedang menonton tv dengan serius nya. Sadam yang melihat itu memancarkan senyuman hangat nya lalu berjalan mendekati sang istri.
"Sayang,"panggil Sadam ikut naik ke ranjang rumah sakit itu.
"Ya ada apa?"tanya Gisel seadanya.
"Kamu kalau ngomong lihat aku, jangan lihat tv terus,"rengek Sadam menjatuhkan kepala nya di pangkuan sang istri.
"Ih kak Sadam risih tahu ga, biasanya ga gini,"ucap Gisel yang mulai heran kepada suami nya itu.
"Tumben kak? Biasa nya suami juga, biarin kan kamu istri aku sah-sah aja,"ucap Sadam tidak peduli kalau sang istri merasa risih karena ulah nya sendiri.
Gisel memasang raut wajah kesal, suami suami kemarin saja pria itu sedang bermesraan dengan wanita lain. Ah itu benar, harus nya dia bertanya bukan? Gisel menarik wajah sang suami dan mengatup kedua pipi suami nya.
"Yang kemarin itu siapa nya kak Sadam?"tanya Gisel.
Pria itu yang di tarik wajah nya mengedipkan mata nya lucu mendengar pertanyaan sang istri, dia tidak memikirkan wanita mana pun kecuali istri nya membuat diri nya bingung.
"Maksud kamu siapa?"tanya Sadam dengan heran.
"Kamu bodoh atau bodoh bodohin? Yang waktu di markas kamu peluk pelukan sama ciuman,"kesal Gisel mendorong wajah suami nya itu kesal.
"Hah ciuman apa? Maksud kamu Megan? Ck aku saja tidak ingat dia sampai sekarang, kau tahu? Aku gila memikirkan mu yang tidak kunjung sadar,"ucap Sadam mengatakan itu dengan wajah tajam nya.
Gadis itu hanya terdiam dia menghela nafas, lagi pula kenapa dia harus sulit memikirkan itu saat Sadam saja tidak memikirkan kesulitan nya, Gisel terkekeh merasa aneh dengan diri nya.
"Aku aneh kenapa aku harus marah saat suami ku sama sekali tidak pernah memberikan kepastian,"gumam Gisel mengatakan itu.
"Apa maksud mu? Aku sudah mengatakan, rasa ku yakin untuk mu, jangan mempersulit keadaan bisakah kita memulai kisah yang baru?"tanya Sadam dengan lembut.
"Apa kak Sadam yakin jika wanita itu bukan kekasih kak Sadam? Apa aku tidak di khianati?"gumam Gisel kembali.
Gadis itu menunduk hati nya sangat gampang tergores atas kesalahpahaman kecil, Sadam tidak salah dan Gisel juga tidak salah. Apa kalian tahu? Semua orang memiliki situasi tersulit nya sendiri, kita cuman harus berusaha mempercayai nya.
Gisel yang dimana posisi nya masih gadis muda yang belum bisa berpikir dewasa, egois masih sangat melekat di pikiran nya. Sedangkan Sadam pria dewasa yang berusaha menjelaskan sebaik mungkin, selembut dan setenang mungkin agar tidak salah dalam mengartikan apa yang dia katakan.
"Gisel kau terlalu muda untuk mudah percaya dengan pasangan mu, aku tahu kau masih sangat egois soal hubungan ini, mengerti? Mungkin itu sulit untuk kau lakukan,"
"Tapi umur kita yang jauh ini juga sebuah keberuntungan untuk ku, aku belajar sabar berusaha mengerti karakter mu yang masih kekanakan,"ucap Sadam.
"Kau tidak marah? Padahal aku sudah menuduh mu yang bukan-bukan dan mengatakan hal buruk,"gumam Gisel mengatakan itu.
"Tidak, aku akan mengerti kau yang seperti ini,"