
Markas aeros
"Apaan sih big bos pamer atau tidak menyadari nya alay banget,"ejek Arbian yang sedang duduk di sofa itu.
"Jaga mulut mu Bian,"kesal Sadam yang mendengar ocehan teman nya itu.
Saat ini di markas aeros mereka semua tengah megadakan rapat tentang perkembangan darkness, Samuel bisa saja tidak balas dendam kepada tim tersebut.
Tapi apa daya diri nya, darkness juga mengincar nyawa nya atas kejadian beberapa tahun silam membuat nya mau tidak mau menerapkan prinsip "Dibunuh atau terbunuh,"
"Sadam apakah semua nya sudah selesai?"tanya Sam melihat komputer Sadam.
"Sesuai permintaan anda markas sudah di lakukan perubahan sedemikian mungkin,"jelas Sadam tersenyum melirik Sam.
"Markas, markas yang mana?"tanya Arbian dengan cengo nya.
Bisa tidak Arbian diam dan dengarkan bos nya itu selesai bicara, Sadam yang hebat dalam komputer melakukan progammer terhadap sebuah game yang di ciptakan oleh Samuel, untuk apa itu entahlah tidak ada yang tahu sebelum waktu nya tiba.
"Pindahkan lokasi markas serta koordinat markas kita, buka lebar informasi tentang markas aeros pada dunia luar, kita lihat apakah darkness akan langsung mengambil ancang-ancang,"senyum miring Sam menantikan pesta nya.
"Wah markas baru,"bangga Arbian.
"Dan kau Arbian, pelajari tata letak markas baru itu, karena tanpa kau ketahui markas itu bisa saja berubah jalan sesuai keinginan ku,"gumam Sam menatap progam yang sedang di selesaikan Sadam.
"Kevin putuskan semua hubungan dengan william, pecah anggota menjadi dua bagian, tetap awasi keluarga william dengan aman, sisa nya kalian ikut permainan ini,"
"Sesuai perintah bos,"jelas Kevin.
Samuel berdiri dari duduk nya di sofa tempat para ketua informan, atau pun pengejar itu sedang duduk, Sam melipat kedua tangan nya di dada sambil tersenyum seram.
"Sebaiknya jangan terlalu buru-buru, karena ini suprise bukan, darkness kita lihat bagaimana pria tua itu membunuh ku, apa dia melakukan hal yang sama seperti hari itu,"gumam Samuel tajam dengan raut wajah datar.
Di sebuah gang sempit di Texas tampak seorang pria paruh baya memakai topi, kacamata hitam dan mantel hitam serta sebuah rokok yang bertenger di atas mulut nya.
Pria itu tampak sedang menginjak beberapa puluh orang yang bersimbahan darah, dengan santai nya dia menghisap dan menghembuskan asap rokok itu pelan.
"Sir, kami melacak markas aeros tapi seperti nya mereka sedikit teledor,"ujar seseorang yang datang.
Pria itu kembali menghisap rokok nya pelan, lalu membuang puntung rokok itu dan menginjak nya dengan sepatu nya, pria itu tertawa.
"Haha Morgan seperti nya aku harus mengirim putra mu agar kau bahagia bukan?"gumam orang itu pergi melewati jalanan yang sepi.
Siang berganti sore dan malam pun datang terlihat seorang wanita cantik berlari kecil mencari sosok seseorang yang menunggu diri nya di depan RS.
"Sayang,"panggil orang itu yang sedang berdiri di depan mobil.
"Sam ayo pergi,"ucap Lenka.
Mobil pria itu membelah jalanan ibu kota di malam hari, entah perasaan Lenka atau bukan Samuel terlihat lebih senang hari ini walaupun raut wajah nya yang datar tapi Lenka tahu letak perbedaan nya.
"Kau tidak terkejut?"tanya Lenka melirik pria yang sedang menyetir mobil itu.
"Tentang?"tanya Sam kembali.
"Soal Aga yang datang ke indo,"jawab Lenka.
"Buat apa aku terkejut, dia bukan kau,"balas Samuel singkat padat dan jelas.
"Seperti biasanya,"gumam Lenka menghembuskan nafas nya kesal.
Mobil sport milik Samuel tepat berhenti di depan restoran yang telah di pesan Lenka, mereka berdua masuk ke restoran itu terlihat sosok wanita berambut merah yang sangat di kenal Lenka.
"Aga!"teriak Lenka dengan senang.
"Hei Lenka, aku merindukan mu huhu,"ucap wanita itu memeluk Lenka dengan penuh drama.
Ya begitulah Agalista walaupun dia melihat Samuel di sana dia bukan tipe wanita pendendam apalagi Samuel minta maaf di wakilkan dengan Lenka.
"Jujur aku tidak marah lagi, itu hanya salah paham, sudahlah seperti nya aku akan lama lagi di sini,"balas Agalista memegang kepala nya pusing membuat Lenka tertawa.
"Sabar yah Aga, pekerjaan loh jangan di bawa pusing,"tawa Lenka.
"Apa kau sudah menemui Kevin?"
Samuel yang dari tadi diam dan hanya fokus kepada ponsel nya seketika membuka suara menatap Aga dengan raut wajah datar nya.
"Untuk apa,"balas Agalista cuek.
"Itu urusan mu, tapi ini menganggu, Kevin akhir-akhir ini sering minum, hanya itu,"balas Sam yang memang malas mengikut campur masalah orang lain.
Beberapa menit mereka makan dan mengobrol mungkin beberapa menit itu sudah berganti menjadi puluhan menit saat seorang pria tampan yang tinggi datang di meja itu.
"Bos, ini,"ujar Kevin memberikan sebuah dokumen kepada Sam.
Kevin masih belum sadar jika wanita itu ada di depan nya, hingga akhirnya Samuel membuka suara.
"Sayang ayo pulang, Kevin antarkan tunangan mu,"balas Sam pergi menarik tangan Lenka.
Tidak ada suara satu sama lain, Kevin melirik wanita berambut merah yang membelakangi nya, pria itu baru sadar saat Kevin ingin membuka suara Agalista terlebih dulu berbicara.
"Aku bisa pulang sendiri,"gumam Agalista pergi dari sana mengambil tas nya.
'Kenapa aku menghindari nya? Kenapa aku marah, apa gara tamparan itu, tapi bukan. Kenapa,' kesal Agalista yang keluar dari restoran itu.
Grep..
Kevin yang melihat Agalista menjauh dari restoran langsung mengejar wanita itu, Kevin menahan tangan Agalista dan langsung membalik tubuh sang wanita yang mana membuat Aga kaget.
"Kenapa kau pergi? Tatap aku,"ucap Kevin dengan suara dingin nya.
Entah kenapa saat ini Agalista tidak bisa menatap mata Kevin yang tajam, dia terus menghindari tatapan Kevin hingga akhirnya pria itu memeluk Agaslita pelan.
"Maaf,"bisik Kevin menegelamkan wajah nya di leher dan rambut merah Agalista.
Wanita itu tahu harus merespon apa dia hanya diam kaku dan mematung, apa apaan ini Kevin yang cuek bisa bersikap manis seperti ini kepada nya, pria itu melepaskan pelukan nya dan menatap Agalista yang tidak bergeming mengedipkan mata nya masih bingung.
Pria itu mengulurkan tangan nya menyentuh pipi Agalista yang pernah dia tampar, pria itu tersenyum kecil menatap Agalista yang masih diam.
"Pasti sakit, maafkan aku,"gumam Kevin untuk kedua kalinya.
Agalista yang baru tersadar seketika kaget dan salah tingkah, bodoh nya entah kenapa rasa nya gadis itu sedikit salah tingkah, dengan wajah gugup dan memerah Agalista menghempaskan tangan Kevin yang mengelus pipi nya.
"Ja ja ja jangan pegang aku, dasar,"