
"Hadiah apa maksud mu dengan hadiah?"tanya Kevin heran kepada istri nya itu.
"Bukan hadiah untuk mu lebih tepat nya untuk mereka yang kepo dengan malam pertama kita siaalan memang, mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka ingin kan,"ketus Agalista berjalan santai ke kamar mandi.
Sedangkan Kevin yang mendengar itu seketika tertawa dan mengusap wajah nya kasar merasa lucu tentang apa yang terjadi pada hubungan nya dan Agalista.
"Gadis itu? Apa kau pikir aku bukan pria normal?"gumam Kevin mengusap leher nya mengingat bagaiamana Agalista mencium leher nya tadi.
Pria itu menyeringai mengingat hal itu, dia hanya bisa mengetawai apa yang terjadi dengan kisah nya yang rumit.
Beberapa puluh menit setelah selesai mandi Agalista dan Kevin turun menuju ruang makan hotel Alferoz itu untuk berkumpul untuk sarapan dengan yang lain nya.
"Wah kok pengantin baru cepat banget turun nya?"tanya Lenka mengoda Agalista menaik turun kan alis nya.
Kedua orang itu memilih duduk terlebih dahulu, Agalista pura-pura tersenyum mengibaskan rambut nya yang basah.
"Ekhem yah biasa aja sih, semua orang kan butuh makan nyonya morgan,"ucap Agalista berusaha menjawab pertanyaan Lenka seadanya.
"Sudah lebih baik lanjutkan sarapan kalian,"unar daddy Agalista yang paling tua di sana.
Lenka dan yang lain nya memang sudah makan dari tadi hanya bisa melanjutkan makanan nya, hingga akhirnya Lenka dengan iseng kembali bertanya kepada pasutri itu membuat Samuel hanya diam tidak melarang kesenangan sang istri.
"Ayolah Aga jangan hanya diam, kenapa kalian turun apa kalian tidak lelah. Aku kasihan, soal nya aku juga seperti itu akibat suami ku yang perkasa ini,"puji Lenka menepuk bahu Samuel.
Pria itu hanya memasang raut wajah datar ketika di sebut perkasa oleh sang istri sedangkan semua orang hanya bisa menahan tawa akibat pujian aneh Lenka.
"Nona, aku tidak lelah. Kau benar seharusnya kasihini Aga, karena dia sangat perkasa dan dominan dari ku, lihat saja leher ku."tunjuk Kevin kepada leher nya.
Seketika kekepoan Lenka terjawab gadis itu membulatkan mulut nya lucu melihat tana kissmark itu, sedangkan Agalista yang mendengar jawaban Kevin seketika tersedak makanan nya sendiri.
Uhuk.. uhuk...
"Sweety kau kenapa? Aku sudah bilang jika kau lelah, kau bisa tetap di kamar, sungguh malang istri ku dia bersemangat sekali,"ucap Kevin mengeleng dan memberikan gelas minuman.
Agalista menyambar gelas itu dengan cepat, wajah memerah malu karena perkataan Kevin terlebih juga kesal karena ulah pria itu, bukti nya saja pria itu sangat pintar berakting di depan Lenka yang memang sangat polos-polos itu.
"Wah Aga kau hebat, aku tidak membayangkan nya. Eh jangan di bayang kan juga sih, bisa bahaya ih,"tawa Lenka mengatakan hal itu tertawa karena perkataan nya sendiri.
"Bubu ku yang tampan, jangan mengatakan privasi huhu, siaalan kau Kevin,"gumam Agalista di ujung kalimat nya memelankan suara nya sambil melirik Kevin dengan wajah kesal.
"Sweety kenapa kau memasang wajah kesal? Apa kau sakit, ayolah kita dokter saja,"ujar Kevin yang gentar terus mengoda Agalista.
Sedangkan gadis itu nafas nya sudah naik turun menahan emosi karena ulah Kevin, memang dengan pria itu seumur hidup dia tidak akan pernah akrab seperti nya.
'Dasar singa berbulu domba, kau tersenyum licik,' batin Agalista kesal.
Bruk...
"Kaki mu Aga, sakit,"gumam Kevin mencubit pinggang gadis itu kuat agar menyalurkan sakit nya.
"Kau yang menyakiti ku, lepaskan!"bisik Aga membalas.
Ayolah semua orang menatap mereka seolah sedang melakukan adegan romantis, hanya daddy Aga yang tahu kalau sepasang makhluk itu sedang bertengkar dalam batin mereka.
"Sudah sudah, nanti bahas nya lagi oke Lenka?"tawar daddy Aga kepada gadis itu.
"Siap daddy,"patuh Lenka memberi hormat.
Lihat lah Lenka memang seperti anak kecil, dan Samuel juga merasa agak aneh istri nya yang sangat jarang bermanja manja itu sekarang sangat suka apa-apa selalu ada Samuel, tapi pria itu sama sekali tidak mempermasalah kan mood Lenka yang seperti itu.
"Lagi suap sayang,"ujar Lenka membuka mulut nya.
"Enak?"tanya Samuel yang memberikan suapan terakhir kepada sang istri.
Gadis itu mengangguk cepat dan meminum minuman nya, dia mengengam tangan Samuel dengan manja dan merangkul, sedangkan Sam hanya bisa menggunakan satu tangan nya.
Setelah selesai makan mereka memilih duduk di tepi kolam renang, sedangkan para pria sedang berenang dengan asik. Lenka terus tersenyum tidak melepaskan pandang nya pada Samuel.
Agalista yang melihat itu juga tersenyum senang, sedangkan Gisel gadis itu hanya berbaring di kursi kolam renang tertidur seperti kerbau di mana pun tempat nya. Sadam pun hanya bingung kenapa mendapatkan istri seperti Gisel yang suka tidur dan susah bangun.
"Kau sangat menyukai Sam?"gumam Agalista kepada Lenka.
"Ehem, kenapa Aga bertanya seperti itu? Jangan bilang Aga mau ambil Sam lagi?"tanya Lenka kepada wanita itu.
Raut wajah Lenka yang tersenyum menatap Samuel tadi seketika berubah menjadi cemberut air mata nya berjatuhan, gadis itu menangis layak nya anak kecil sambil sesegukan. Agalista seketika panik menatap itu, dia mengeleng cepat menyalah kan pikiran Lenka.
"Hiks hiks Aga jahat, kenapa? Hiks,"ucap Lenka berteriak sambil menangis.
"Lenka kenapa kau menangis? Itu tidak mungkin astaga, aku lebih menyanyangi mu dari pada Samuel kau tahu, jangan menangis,"ucap Aga panik menatap Samuel yang berada di dalam kolam berenang.
Samuel yang mendengar suara tangisan seseorang seketika menghela nafas nya, dia naik lalu mendekati sang istri bersama Aga. Agalista terlihat panik ingin menjelaskan sesuatu agar Sam tidak marah.
"Sam aku tidak menyakiti Lenka, sayang ku kenapa kau menangis, aku hanya bertanya bukan,"ucap Aga mengusap rambut Lenka layak nya adik.
"Sam\~"rengek gadis itu merentang kan tangan nya menatap Samuel yang berjalan dengan kondisi basah mendekati nya.
Pria itu langsung membalas pelukan Lenka, raut wajah Samuel terlihat tidak marah sama sekali. Agalista seketika bingung? Biasa nya Sam jika berkaitan dengan Lenka dia akan merah besar.
"Kau tidak marah Sam? Maksud ku aku benar-benar tidak melakukan apa pun,"jelas Aga.
"Tidak, dia memang semenjak kemarin seperti ini gampang menangis benar bukan cengeng?"tanya Samuel melirik sang istri.
"Ih tidak! Air mata nya turun sendiri, tiba-tiba langsung sedih tahu, Aga maaf,"