SAMUEL

SAMUEL
BAB 90



Flasback on


Seorang pria dengan pakaian kasual nya sedang duduk di ruang tamu seorang diri sambil sesekali membuka album foto yang ada di meja itu, Kevin terlihat tersenyum kecil melihat foto Agalista yang lucu dan gembul saat umur nya masih balita itu.


"Kevin,"sapa seorang pria paruh baya tersenyum kepada pria yang sedang menunggu kehadiran nya di ruang tamu.


Terlihat pria paruh baya itu datang menggunakan kursi roda di bantu oleh suster yang merawat nya 24 jam setiap hari karena memang pria itu tidak bisa berjalan karena sebuah kecelakaan, Kevin terlihat dengan atitude yang sopan berdiri dan mengambil alih kursi roda itu.


"Dad kita bicara di luar saja,"ujar Kevin mendorong kursi daddy Agalista yang dia kunjungi di kota Roma itu.


Pria paruh baya itu mengangguk tanda setuju, hingga mereka sampai di depan sebuah gazebo kecil di depan nya ada air mancur mengalir dengan indah nya, suasana kota Roma di sore hari yang membuat semua orang sangat menikmati nya.


"Aku senang kau datang mengunjungi ku,"ucap daddy Aga dengan senyum kecil nya.


Kevin terlihat melirik pria itu memasang wajah datar, sungguh dia sangat berat harus mengatakan permintaan Aga yang memaksa nya untuk membatalkan pernikahan ini.


"Dad, sebenarnya aku dan Aga tidak memiliki hubungan layak nya tunangan sesungguh nya,"ujar Kevin berkata.


Perkataan itu sedikit melenceng dengan pembahasan yang di minta Agalista kepada nya, tidak ada jawaban sama sekali dari pria paruh baya itu. Dia hanya fokus melihat air mancur kecil buatan itu lalu berkata.


"Daddy sudah menunggu nya,"ujar pria itu.


"Apa dad menyelidiki hubungan kami?"tanya Kevin dengan terkejut.


"Tidak sama sekali, ini sudah firasat awal daddy, hari itu saat daddy mengatakan kepada Aga kalau akan mencarikan nya pria dia mengatakan tidak mau,"


"Pertemuan pertama kalian daddy sudah mengira dia sangat menolak hubungan itu, tapi setelah pertemuan kedua tiba-tiba gadis itu berubah pendapat dengan cepat membuat daddy heran,"


"Daddy tahu, itu karena Sam bukan,"jelas pria itu berhenti bicara.


Siapa yang tidak paham dengan perasaan anak nya dengan perubahan kecil saja orang tua tahu apa saja yang di pikirkan anak nya, termasuk daddy Agalista saat itu.


"Jadi sekarang berencana membongkar ini semua dan membatalkan pernikahan?"tanya pria itu menatap Kevin.


"Dad se se benarnya aku,"


Pria itu mengantung ucapan nya, seumur hidup pria itu tidak pernah gentar untuk bicara kepada lawan atau teman nya sendiri, dia akan berbicara dengan tegas dan berani. Tapi entah kenapa mengatakan hal ini akan membuat diri nya sangat malu.


"Daddy paham Kev, jangan memaksakan kehendak mu, padahal daddy berharap setelah meninggal bisa melihat Aga memiliki tempat pulang selain daddy yaitu kau,"jelas pria itu.


"Bukan, aku suka dengan Aga,"ujar Kevin cepat agar pria itu salah paham.


Perkataan itu seketika membuat daddy Agalista diam lalu tertawa menatap Kevin yang malah malu-malu kutu dan canggung mengatakan sesuatu itu.


Haha...


"Benarkah? Itu berita baik untuk ku, bagaimana jika kalian langsung menikah saja,"jelas pria itu.


"Tidak bisa, kau tahu dad anak mu itu hanya menganggap ku sebagai tameng agar kau tidak menjodohkan nya. Aku belum mengatakan apa pun,"ucap Kevin.


"Benarkah? Daddy akan membantu, katakan saja jika daddy menolak, dan setelah mendengar permintaan itu daddy menjadi sakit, terdengar berbohong tapi demi hubungan kalian,"jawab pria itu menepuk bahu Kevin.


Pria itu terlihat tersenyum kaku, dia belum pernah mendekati gadis terlebih dahulu, karena saat Kevin ke club dia yang akan di dekati para gadis bukan sebalik nya.


"A a apa aku harus pulang? Daddy pasti membutuhkan ku,"ujar Aga panik setelah mendengar perkataan Kevin.


"Hei tenanglah daddy mengatakan kau hanya perlu baik-baik saja di sini, kau tahu apa yang paling daddy mu ingin kan,"ucap Kevin makin menyudutkan Agalista yang panik itu dengan seringai kecil nya.


Kevin mengambil minuman yang ada di atas meja tempat dia berdiri dengan Agalista yang di bawakan oleh pelayan, pria itu terlihat puas mengerjai Agalista, gaya nya saja sangat dewasa tapi gadis itu gampang di kibuli oleh akal-akalan nya.


"Haruskah kita menikah sekarang? Oh tuhan daddy ku, Lenka! Sam! Mari kita melakukan pernikahan bersama, aku dan Kevin juga akan menikah,"teriak Agalista berlari ke sofa ruang tamu, dengan wajah polos nya mengatakan itu.


Uhuk... uhuk...


Kevin seketika tersedak mendengar itu, pria itu memegang kepala nya pelan bisa-bisa nya Agalista bisa berubah pikiran secepat itu, memang benar kata daddy Aga. Gadis itu gampang goyah dengan pendirian nya.


"Apa? Aga kau juga menikah?"tanya Gisel dengan wajah kaget nya.


"Iyah daddy ku berkata ingin segera melihat aku dan Kevin menikah, lagi pula kami sudah cukup umur, aku cuman bisa memberikan hal kecil ini untuk daddy ku,"ujar Agalista dengan wajah sendu nya layak nya anak kecil.


Cie... cie...


Arbian berteriak dan menyiulkan Kevin yang terbatuk di ujung tempat itu, pria itu menatap tajam Arbian yang mengejek nya.


"Big bos married, wakil juga married wah barengan boleh juga tuh, dobel gaji kita jadi nya,"ucap Arbian tertawa puas.


"Tidak,"ucap Kevin yang baru datang dan duduk di samping Aga.


Seketika Agalista memutar wajah nya menatap Kevin heran, apa pria ini sangat tega kepada daddy nya, apa dia berniat menunda pernikahan mereka yang di harapkan daddy nya.


"Kenapa? Daddy mau melihat ku menikah, kita kan sudah bertunangan lama!"teriak Agalista tidak terima.


"Bersabarlah, ck kau ini."Kevin memijit pelipis nya yang berasa berdenyut karena tingkah Aga yang penuh kejutan.


"Ga sabar skidipapap yah Aga,"ucap Arbian mengoda.


"Apa itu skidipapap Bian?"tanya Agalista dengan heran.


Bugh..


Semua gadis di sana kecuali Rere mendengar jawaban Arbian dengan penuh penasaran, saat pria itu ingin menjelaskan perkataan suci itu sebuah bantal sofa melayang dari Samuel, Kevin, Sadam dan pria william yang ada di sana.


"Arghh sa sakit tuan tuan semuanya, kenapa kalian menyiksa ku,"ucap Arbian berlindung diri.


"Karena mulut mu terlalu kotor untuk berada di tempat ini,"ucap Sadam memukul kepala sahabat nya itu mewakili semua nya.


Sedangkan para gadis yang penasaran di sana hanya memasang wajah heran karena Arbian malah di buli, Lenka berbisik kepada Samuel menanyakan hal itu.


"Sam emang apa itu?"tanya Lenka.


"Itu sayang,"Samuel membisikan nya ditelinga Lenka dengan diteil membuat wajah gadis itu memerah karena malu.


"Arbian pria bejat, Sam ayo bawa dia kita seret ke ruang bawah tanah,"