SAMUEL

SAMUEL
BAB 119



"Sayang apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?"tanya Samuel kepada Lenka.


Mobil milik Sam membelah jalanan ibu kota di malam hari, setelah selesai ke taman hiburan mereka pamit terlebih dahulu untuk pulang ke rumah meninggalkan Sadam dan Gisel.


"Maksud mu?"tanya Lenka kembali dengan bingung.


"Tentang pria yang kau suruh itu, aku kasihan. Bagaimana jika Sadam menembak kepala nya gara-gara benar cemburu,"ucap Samuel mengeleng.


"Astaga apa kalian semua memiliki pemikiran menyeramkan itu hah,"ucap Lenka mengeleng mendengar jawaban sang suami.


"Bukan menyeramkan, itu hanya cara kami melindungi apa yang kami miliki,"tawa Sam melihat wajah sang istri yang merinding mendengar jawaban.


"Tapi bagaimana kamu tahu by? Kalau Sadam benar akan cemburu, si siaalan itu saja tidak mempedulikan Gisel ku!"kesal Lenka mencengkram selt belt kesal.


Samuel tersenyum kecil melihat sang istri yang gemas kepada anak buah nya itu, entah kenapa juga Lenka tidak menyadari jika Sadam sudah menyukai Gisel.


"Sayang dia itu menyukai Gisel, apa kau tidak tahu? Itu sangat jelas,"ujar Samuel menimpali kekesalan sang istri.


"Dari mana nya? Aku tidak mengerti sikap dia yang menyukai Gisel,"


"Lama lama aku bisa gilaa di kelilingi pria yang kode nya kurang keras seperti kalian, kau dan Sadam sama saja aku kadang heran dari mana nya kalian menunjukan kalau kalian menyukai kami, cara kalian itu aneh dan membingun kan!"ucap Lenka melipat kedua tangan nya di dada.


Gadis itu membuang muka setelah menjawab itu dengan satu tarikan nafas, dia tidak salah sama sekali. Dulu malahan dia berpikir Sam mengencani nya hanya karena obsesi pertemuan mereka, tapi ternyata pria benar tulus mencintai nya.


Cara pria itu sedikit membuat Lenka bingung, entah memang tidak romantis atau apa Lenka tidak paham sama sekali.


"Jangan jauh-jauh memikirkan nya, pikirkan secara sederhana,"


"Jika Sadam tidak menyukai Gisel, untuk apa dia memaksa ikut dan terus menempeli si kacamata,"ucap Sam kepada istri nya.


Lenka terlihat terdiam atas perkataan Samuel, benar juga yah? Apa dia yang terlalu memikirkan kode kode yang banyak sehingga tidak memikirkan hal kecil seperti itu?


"Ah kau benar by, aku baru menyadari nya,"ucap Lenka menepuk kening nya pelan.


"Dasar lamban,"gumam Sam tertawa.


"Ya biarkan saja dia cemburu, aku yakin setelah ini dia akan mengatakan yang sebenarnya, aku tunggu hehe,"gumam Lenka tersenyum seram.


Beberapa puluh menit sebelum nya


Di dalam bianglalal itu setelah Lenka berciuman dengan Samuel, mereka hanya terlihat saling mengusap kepala satu sama lain dan bercanda kecil.


"Untuk apa dia menikahi Gisel ku, jika dia tidak mencintai nya, apa aku harus menonjok nya,"kesal Lenka mengingat perlakuan Sadam selama melakukan permainan tadi.


"Lalu kau mau apa? Itu urusan mereka,"jawab Sam mengeleng.


Istri kecil nya ini selalu saja ikut campur masalah orang lain tanpa mau mendengar masalah nya sendiri, Sam hanya tertawa jika mengingat itu.


"Aku punya ide, bagaimana aku suruh seorang pria pura-pura menjadi teman Gisel dan mengoda nya,"


"Gadis itu sangat susah mengenali orang, dan seperti nya itu juga bisa membuat hubungan mereka lancar ke depan nya benar bukan by?"tanya Lenka antusias.


"Aku hanya mengikuti mu nyonya morgan,"balas Sam yang hanya membiarkan tingkah istri nya.


Begitu lah cerita nya pria yang mengajak Gisel itu berbincang bukan teman Gisel tapi malah orang lain, itu hanya akal akalan Lenka agar Sadam cemburu dan mengakui cinta nya.


Kyaa...


"Suami!"teriak Gisel kaget melihat pria yang di pukul suami nya terjatuh.


"Kita pulang, sebelum aku benar-benar akan menembak tengkorak kepala nya,"tajam Sadam menatap pria itu sekilas dan pergi.


"Tapi dia suami bagaimana?"gugup Gisel takut melihat pria itu.


"Aku sudah bilang biarkan saja!"bentak Sadam kesal mengendong tubuh mungil istri nya dengan cepat.


Kedua pasutri itu pergi meninggalkan pria itu yang meringis kesakitan, pria itu berdiri dan menelpon seseorang yang menjadi nyonya nya itu.


Drt.. drt..


"Bagaimana?"tanya Lenka.


"Nyonya seperti nya anda harus membayar biaya rumah sakit saya, pukulan teman suami anda sangat sakit, dan dia terlihat sangat kesal,"ucap pria itu memegang rahang nya.


"Soal uang gampang, kerja bagus,"ucap Lenka kepada pria itu.


"Dengan senang hati,"ucap nya mengakhiri panggilan itu.


Lenka menatap ponsel nya yang sudah mati dengan senyum sumringah, sedangkan Samuel hanya mengeleng melihat tingkah gadis itu, dia seperti nya masih sama dengan tingkah berusia 5 tahun saat Sam mengenal nya.


"Dasar bontot,"gumam Sadam.


"Apa! Bilang lagi!"teriak Lenka kesal kepada suami nya.


"Kau memang saat kecil bontot, dan selalu meminta ku menjadi pacar mu, kau aneh, suka pria tua,"ucap Samuel tertawa kepada Lenka yang memukul lengan nya kesal.


"Ck aku tidak aneh, itu artinya aku dari kecil sudah memiliki kualitas, suami ku kan tampan huh,"kesal Lenka membuang muka.


"Kau benar aku memang tampan,"bisik Sam tertawa.


Di sisi lain Sadam menutup pintu mobil nya kasar sedangkan Gisel melirik suami nya yang terlihat sedang tidak mood itu, Gisel menunduk memainkan jari nya merasa takut.


"Suami apa kau cemburu?"tanya Gisel pelan.


"Kalau kau tahu kenapa bert--,"


Sadam menjawab dengan keras tapi belum selesai kalimat nya berkata pria itu langsung terdiam menyadari apa yang dia katakan, dia melirik Gisel yang sudah senyam senyum sendiri.


"Suami cemburu yah!"ucap Gisel heboh menoel noel pipi pria itu yang masih belum menjalan kan mobil nya.


"Tidak huh, siapa!"kesal Sadam melipat kedua tangan nya di dada.


'Siaal kenapa malah keceplosan, aku sangat malu, dia jadi tambah pede,' kesal Sadam.


"Jangan malu-malu, nanti istri di ambil orang seperti tadi loh, mau?"tanya Gisel kepada Sadam.


Pria itu menyipitkan mata nya ketika Gisel mengatakan itu, Gisel yang menerima tatapan itu yang tadi nya gadis itu mengoda tapi malah ketakutan sendiri.


"Jika kau masih dekat dengan pria, seperti nya aku harus membawa senjata ku kemana pun kau pergi? Benar bukan?"seringai Sadam.


"Tidak suami aku bercanda jangan!"teriak Gisel mengeleng merasa seram.


Grep...


Sadam mendekat kan tubuh nya kepada Gisel yang duduk di kursi penumpang lalu berbisik.


"Maka dari itu lihat aku! Bukan mereka, suami mu ini juga tampan bukan?"