
"Kau mengatai ku pria hamil hah? Arbian cukup membuat ku kesal hari ini,"ucap Samuel mengusap wajah nya yang berkeringat karena kondisi nya yang aneh selama seminggu ini.
"Aku hanya menyamai bos, jangan marah-marah atau anda akan cepat mati. Dan aku akan menikahi nona Lenka,"ucap Arbian langsung berlari ruangan rapat itu sambil berteriak pamit.
Brak...
Pintu di tutup dengan kuat oleh Arbian yang sudah berlari meninggalkan Samuel yang siap menyemprot pria itu dan menyalurkan kekesalan nya.
"Siaal badan ku sangat lemah jika pagi hari ini, Arbian kau beruntung,"gumam Samuel mencengkram bolpoint di atas meja itu sampai patah.
"Big bos sebaiknya saya antarkan anda pulang dulu saja, biar nona mengurus anda,"ucap Kevin kepada Samuel.
"Terserah, oiya Sadam urus anggota baru itu katakan aku akan menemui nya besok,"ucap Samuel kepada Sadam yang mengangguk mengerti.
Kevin mengikuti langkah Samuel yang oleng menuju keluar dari markas aeros itu, pria itu memegang kepala nya sesekali karena rasa sakit yang melanda nya. Kevin melajukan mobil menuju mansion morgan itu.
Sedangkan di sisi lain mansion morgan, Agalista hanya melipat kedua tangan nya di dada memasang wajah cemberut.
"Aku cantik seperti ini di bilang setan,"kesal Agalista.
"Jangan ngambek Aga, seorang wanita cantik di pria yang tepat,"ucap Lenka melanjutkan memakan cemilan nya.
Ya, Lenka kembali mengambil cemilan yang smepat dia buang ke lantai itu karena kesal tadi. Dia sudah merasa lega karena Samuel sang suami tercinta memuji diri nya itu.
"Siapa?"tanya Aga cemberut menatap gadis itu.
"Kevin!"teriak Lenka mengatakan itu.
"Ck, jangan mengatakan dia. Pria itu tidak melirik ku sedikit pun, jual mahal,"kesal Agalista mengatakan itu.
"Siapa yang jual mahal?"tanya seorang pria dengan suara bariton nya.
Kevin dan Samuel datang bersamaan memasuki mansion itu, Agalista yang mendengar suara suami nya seketika memutar badan nya menatap Kevin.
"Huh suami ku ternyata,"ketus Agalista melipat kedua tangan sambil membuang wajah nya.
"Baguslah jika kau tahu,"seringai Kevin kecil menatap wanita nya itu yang pasti nya masih kesal pada nya.
"By kamu kenapa,"ucap Lenka membuang cemilan nya dan langsung berlari menuju Samuel yang berjalan di depan Kevin itu.
Pria itu yang wajah nya pucat seketika panik melihat langkah kecil sang istri yang berlari dengan cepat menuju ke arah nya, Samuel merentangkan tangan nya menyambut sang istri agar tidak terjatuh.
"Jangan berlari! Kau bisa jatuh,"kesal Samuel kepada Lenka yang sudah ada di depan nya.
Gadis itu hanya cengegesan lalu memeriksa kening suami nya yang tidak panas sama sekali, tapi dia hanya terlihat pucat saja.
"Kau masih pusing yah?"tanya Lenka kepada Samuel.
"Hmm iya,"jawab Samuel seadanya karena dia memang tidak bercanda sama sekali.
"Yasudah bobo dulu ya,"ucap Lenka kepada Samuel.
"Temenin,"ucap Samuel menatap sang istri dengan manja.
"Iya ayo, Aga Kevin anggap rumah sendiri yah aku mau temenin suami ku dulu tidur,"ucap Lenka kepada kedua orang yang sedang saling memandang itu.
"Baik nona,"jawab Kevin.
"Ikut bobo sini,"ucap Sam dengan lucu menepuk kasur kosong di samping nya.
"Aku ikug bobo?"tanya Lenka kepada pria itu.
Samuel mengangguk mengiyakan perkataan Lenka, dengan gerakan cepat Lenka berbaring di samping suami nya. Samuel mencari posisi yang paling nyaman untuk memeluk tubuh mungil sang istri.
Dia menjatuhkan kepala nya di bagian dada Lenka, gadis itu hanya tersenyum dan mengusap rambut Samuel dengan gemas layak nya anak kecil.
"Bobo ya, habis ini nanti aku buatin makan,"ucap Lenka kepada suami nya.
Tidak ada jawaban deru nafas pria itu terdengar sangat tenang dan teratur menandakan kalau dia sudah berada di alam mimpi, Lenka hanya tersenyum gemas mengecupi setiap inci wajah Sam.
"Suami ku mengemaskan,"ucap Lenka.
Di sisi lain Agalista dan Kevin yang masih saling memandang itu seketika memulai percakapan mereka, Aga membuang wajah nya cuek kepada pria itu.
"Jangan menatap ku, kau bukan pria tampan,"ucap Agalista.
"Kau meragukan ke tampan suami mu?"tanya Kevin mengoda dan memilih duduk di samping Agalista.
"Aku akan mencari suami yang lebih baik dari mu,"ucap Agalista kembali.
Pria itu menyeringai, siapa yang mampu menyaingi nya. Ayolah kalau Aga mencari pria yang menyaingi nya seperti pria william, alferoz atau arnolda dia memang akan kalah, tapi Aga seperti nya tidak menyukai berondong juga.
"Siapa? Dari sisi apa dia bisa menandingi ku, good looking, atau good rekening?"seringai Kevin kepada Agalista.
Seketika Agalista memutar wajah nya menatap sang suami, dia berusaha berpikir siapa yang mampu menyaingi Kevin untuk menjadi suami nya, good looking? Ayolah Kevin memang tampan, kalau dia jadi model pria itu akan banjir job, Aga akui itu.
Good rekening? Jangan di tanya, black card Kevin saja dia gunakan untuk kebutuhan model nya, Agalista seketika memasang wajah kesal.
"Ya! Aku tahu tidak ada yang bisa menandangi mu, tapi setidak nya hubungan kita nyata saja, aku bosan bersandiwara,"kesal Agalista kepada Kevin.
"Yang menganggap ini sandiwara siapa?"tanya Kevin dengan nada kecil nya.
Agalista yang mendengar itu seketika menaikan satu alis nya heran, apa yang dia dengar barusan sangat samar-samar, Agalista mendekatkan tubuh nya kepada Kevin.
"Coba katakan sekali lagi, maksud nya apa?"tanya Agalista dengan bingung.
"Kau memang gadis boodoh, berapa umur mu?"tanya Kevin kepada wanita itu.
"32 tahun, jangan mengatai ku! Artis korea saja di umur segitu masih menjadi gadis remaja di sinetron yang mereka bintangi,"kesal Agalista membela diri.
"Aku tidak mempermasalah kan fisik mu, tapi otak mu yang lambat boodoh,"ucap Kevin mengeleng merasa lelah berbicara kepada wanita itu.
Kevin memilih berdiri untuk menuju ke dapur mengambil minuman, tapi seketika langkah nya terhenti karena Agalista yang menarik dasi nya dengan kasar.
"Tarik kembali kata-kata mu, atau aku akan mencium mu,"ancam Agalista kesal.
"Benarkah? Kau berani melakukan nya, aku menyukai ancaman mu,"seringai Kevin dengan suara kecil nya.
Pria itu melangkah kan kaki nya mendekati tubuh Agalista, seketika gadis itu kaget. Bukan nya takut Kevin dengan ancaman nya pria itu seperti menyerahkan diri.
"Ke ke ke napa kau mendekati ku hah!"
"Ayo cium aku,"