SAMUEL

SAMUEL
BAB 164



Setelah perkara ingin UFO tadi akhirnya gadis yang tengah hamil muda itu terlelap di sofa sambil memeluk boneka UFO yang akhirnya di gantikan oleh Sam, ya walaupun harus melewati beberapa drama dahulu baru Lenka mau menerima boneka itu.


"Bos kau cuma meminta satu barang di tengah malam ini?"tanya Kevin yang berdiri di ruang tamu itu.


"Aku juga ingin membeli pabrik nya tapi mama mertua ku aku lebay,"ketus Samuel mengatakan itu kepada Kevin.


Bagaimana tidak Rere mengatakan itu secara dia sudah mengalami nya karena Varo sering melakukan hal itu untuk nya membuat nya merasa apa yang di lakukan pria kaya untuk membuat istri nya bahagia terlalu berlebihan.


"Baiklah, jadi saya bisa kembali?"tanya Kevin berniat mengundurkan diri ya.


"Ya kehadiran mu tidak di butuhkan sana,"ucap Samuel yang hanya fokus mengusap Surai panjang sang istri yang terlelap.


'Ck si al tadi saja dia menelpon ku dengan panik, sekarang dia mengusir ku. Untung kau membayar ku Sam,' batin Kevin.


Samuel yang duduk menatap istri nya itu merasa bahwa masih ada sosok Kevin pun, memutar wajah nya dan memberi tatapan tajam kepada pria itu.


"Jangan menyumpahi ku, apa kau mau tahu seberapa besar palung dunia?”tanya Sam tajam.


"Sungguh saya tidak berani lebih baik saya undur diri, permisi,"ucap Kevin pamit ke semua orang di sana.


Pria Morgan itu terlihat menghela nafas nya lalu mengusap rambut panjang Lenka hingga beberapa kali, memang gadis ini sungguh ada-ada saja yang dia pikirkan hingga membuat satu mansion heboh, sedangkan Lukas dan yang lain nya saat ini hanya bisa terduduk.


"Lama lama aku di mansion seperti nya aku akan insom mom, haruskah aku pindah?"tawar Lukas kepada sang mommy yang berdiri bersama suami nya itu.


Bruk...


Belum sempat Rere menjawab sebuah bantal melayang tepat di wajah pria itu, ternyata banyak itu adalah boneka UFO milik Lenka. Gadis itu terbangun sambil mengucek mata nya.


"Maaf Ukas. Lenka tidak sengaja."ucap gadis itu polos tapi dengan tatapan mengintimidasi.


"Jangan jadikan alasan, apa kau tidak mau menjadikan kesempatan ini untuk acara kumpul keluarga? Jika kalian sudah dewasa juga pasti akan memilih jalan dan hari seperti ini akan sangat sering terjadi,"


"Lalu Lukas, apa nya yang insomnia? Kau setiap malam ke club' kan, mommy tahu itu,"ucap Rere tajam kepada sang anak.


"Set siaal iya iya,"ketus Lukas memilih naik tangga untuk melanjutkan tidur nya yang terganggu.


"Sudahlah sebaik nya kalian semua kembali tidur, dan Lenka juga."ucap Varo kepada sang putri.


Gadis itu mengangguk menuruti perintah sang kepala keluarga William itu, semua orang satu persatu masuk ke kamar mereka lalu Lenka merentangkan tangan nya seolah meminta gendong kepada suami nya itu.


"Sayang."ucap Lenka.


"Iya,"ucap Sam mengendong bayi nya itu.


"Sayang kamu kuat yah bisa gendong kami bertiga, benarkan twins?"ucap Lenka seolah olah berbicara dengan anak yang ada di perut nya.


"Jika mereka lahir pun aku masih sanggup mengendong mu,"ucap Samuel mengatakan itu sambil tersenyum penuh arti kepada sang istri.


Waktu berjalan begitu cepat, hari pagi dini hari sekarang sudah berganti menjadi pagi cerah yang indah. Seorang gadis cantik yang memakai pakaian rumah sakit itu terlihat sedang duduk di kursi roda sambil di suapi makan oleh pria tampan yang berperawakan seram dan jangan lupakan tatap di leher nya itu yang menambah kesan badyboy seorang Sadam Indris.


"Jangan menolak sayang, satu suap lagi oke? Kau tahu bukan kau itu baru sadar dan harus banyak dapat asupan terlebih kau juga sudah keh-,"


Seketika Sadam menggantung kalimat nya mengingat jika sang istri belum tahu masalah tentang kandungan atau pun anak mereka yang keguguran tersebut, Gisel yang mendengar perkataan jeda dari suami nya mengangkat satu alis nya.


"ke? Apa kak?"tanya Gisel bingung.


"Ke kamar, satu suap lagi dan kita akan kembali ke kamar,"ucap Sadam mengalihkan pembicaraan dan menyodorkan sendok makan kembali di depan mulut sang istri.


"Ga, tadi kata nya satu sendok Mulu tapi ga selesai selesai. Gisel juga masih mau di luar bolehkan?"tanya gadis itu tersenyum manis mendongkak kan kepala nya menatap suami yang terduduk di depan nya di kursi taman.


Sungguh senyum tulus itu tambah membuat Sadqm getir, dia tambah merasa bersalah masih belum memberitahu Gisel apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalian tahu? Sadam tidak mengatakan nya karena dia takut segala kemungkinan buruk yang dia pikirkan akan terjadi, bisa saja istri nya itu akan marah atau pun menyalahkan diri nya.


'Maafkan aku sayang, haruskah aku memberitahu mu sekarang? Tapi aku lebih takut hidup tanpa dirimu di sisi ku. Aku tidak menyangka hal sekecil apa pun aku abaikan bisa saja menyakiti mu, kau bagaikan sebuah berlian yang harus aku jaga sebaik yang aku bisa jika berlian itu jatuh itu akan rusak.’ batin Sadam menatap sang istri.


Plak...


"Kak Sadam!"teriak Gisel kesal.


Gadis itu memukul lengan suami nya yang seperti menatap nya tapi dengan tatapan kosong membuat Gisel merinding sendiri di buat nya karena itu dia memukul pelan pria itu takut-takut dia kesurupan.


"Hmm apa,"ucap Sadam pelan membalas panggilan sang istri.


"Diam Mulu aku kira kak Sadam kesurupan,"ucap Gisel.


"Aku sudah mengatakan bukan? Aku bukan kakak mu tapi suami ku kenapa kau lupa kembali?"tanya Sadam kepada sang istri.


Ya saat awal pernikahan mereka Sadam mengatakan kalau dia tidak suka dengan nama panggilan Kak yang sering Gisel ucapkan karena dia merasa menjadi kakak Gisel.


"Aku lelah harus memanggil mu dengan suami ku, apa aku bisa memanggil mu kak saja?"ucap Gisel cemberut.


Pria itu terlihat menghela nafas, dia meletakan sendok yang ada di piring makanan yang di sediakan khusus rumah sakit untuk pasien itu. Sadam mengambil obat rutin untuk Gisel, pria itu menyodorkan beberapa butir.


"Ya terserah, minum ini,"ucap Sadam.


"Apa aku boleh tidak meminum obat itu terasa sulit di telan dan rasa nya pahit,"gumam Gisel menunduk merasa takut.


"Apa aku harus membantu istri kecil ku untuk meminum nya?"tanya Sadam menyeringai kecil.


"Hah maksudnya?"tanya Gisel heran.


Tanpa banyak omong kosong Sadam memasukan obat itu ke dalam mulut nya lalu meminum air yang padahal untuk Gisel, membuat sang istri terkejut atas kelakuan suami nya itu.


"Kak kok obat Gis-,"


Belum selesai gadis itu berbicara sebuah kecupan mendarat di bibir tipis nya, ah bukan kecupan tapi ciuman yang berlangsung lama lidah pria itu memaksa mendorong obat yang ada di mulut nya agar Gisel menelan nya membuat mata nya membelalak kaget.


"Mmm,"