
Seorang pria tampan dengan badan kekar melewati lorong apartemen yang sudah lama dia tinggali semenjak pindah ke italia mengikuti Samuel, pria itu tampak berjalan sambil melonggarkan dasi nya yang terasa mencekik di leher.
Drap.. drap..
Langkah besar nya memasuki pintu apartemen yang di buka dengan menekan beberapa sandi, suara pintu terdengar terbuka.
Cklek..
"Sstt maaf,"gumam Kevin menutup wajah nya.
Suasana apartemen yang tidak di hidupi lampu dan pencahayaan nya hanya di sinari terang bulan di malam ini, Kevin menatap langit dengan datar, bulan memang indah sehingga siapa pun akan sangat menyukai nya.
Seperti Kevin yang memandangi sinar bulan malam ini, pria itu malah melihat sosok wajah gadis berambut merah di langit tempat dia menatap, pria itu mengusap wajah nya kasar.
"Aku sudah gil@, sampai memikirkan nya,"gumam Kevin berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam nya.
Pria itu melipat kemeja putih nya hingga berada di siku lengan nya, Kevin dengan cekatan mulai memasak makanan sederhana, pria itu menata makanan di atas meja.
"Aga cepat keluar, makan malam siap, jangan terus menonton!"teriak Kevin duduk di kursi meja makan itu.
Tidak ada sahutan sama sekali, pria itu melirik pintu kamar Agalista yang sepi dan gelap seolah-olah tidak ada kehidupan di sana, pria itu menatap meja makan yang menyediakan makan porsi serta piring untuk dua orang.
Prank...
Kevin melempar piring itu kesamping, sehingga semua makanan nya berserakan ke lantai, pecahan piring dan gelas bercampur, pria itu menatap nanar perbuatan nya, telinga nya dia tutup merasa suara Agalista yang suka menjahili nya ketika pulang bekerja terus menghantui nya, suara itu semakin menjadi-jadi memenuhi otak Kevin hingga akhirnya.
Brak...
Pria itu mengebrak meja dengan kuat menggunakan tangan nya, lalu berdiri.
"Jika kau pergi! Bawa juga perasaan ini si@lan!"teriak Kevin frustasi merasa bersalah.
Seperti nya malam ini adalah malam yang paling membuat Kevin tidak nyaman, perasaan bersalah telah menampar tunangan nya, harus nya dia bertanya dahulu, harus nya dia seperti Samuel semarah apa pun dengan seorang wanita jangan harus bermain tangan.
"Setidaknya jika aku tertidur jangan ikut ke mimpi ku,"gumam Kevin menutup wajah nya menggunakan lengan kekar nya dan terlelap di sofa apartemen tanpa menganti baju terlebih dahulu.
Sementara itu di sisi lain Lenka yang di dalam mobil bersama Samuel terus mengoceh dan memarahi sang kekasih yang tidak seharusnya menuduh Agalista.
"Sayang, aku tidak salah bukan? Makanan itu memang ada racun dan membahayakan mu,"jelas Samuel masih membela diri.
"Tuan morgan, kau memang tidak salah dalam itu, otak mu memang cerdik, tapi kau menyalahkan Agalista sebagai pelaku nya, pokok nya kita ke tempat Agalista sekarang minta maaf,"kesal Lenka membuang wajah dan melipat kedua tangan nya di dada.
Hah..
Samuel menghela nafas nya merasa tidak tahu harus bagaimana lagi cara menanggapi masalah ini, dia memang salah, tapi Samuel lebih tidak suka melihat sang kekasih yang terus marah berlama-lama.
"Baiklah, tolong bisakah kau menelpon nya untuk ku, aku sedang menyetir,"ucap Samuel memberikan ponsel nya.
Gadis itu seketika memutar wajah dan tersenyum ke arah Samuel dan mengangguk tanda mengerti.
"Tidak ada nomor Aga, cuman ada nomor aku dan Kevin,"gerutu Lenka menatap ponsel Samuel.
"Ya karena aku tidak suka menyimpan nomor ponsel orang yang tidak penting,"jawab Samuel enteng masih fokus dengan setir mobil nya.
Seperti nya tidak ada pilihan lain, Lenka bertemu saja besok kembali dengan wanita itu di markas agar Samuel bisa meminta maaf, mobil Samuel sampai di perkarangan mansion william.
"Selamat malam nona muda, big bos,"sapa para bodyguard yang berjaga di sepanjang pintu masuk utama.
"Apa kau terus berjalan masuk dan tidak kembali?"tanya Lenka heran kepada pria itu.
"Aku akan menginap karena aku lelah,"jawab Samuel santai meninggalkan Lenka yang berdiri di pintu masuk.
Lihatlah wajah gadis itu yang sangat mudah kesal kepada sang kekasih, kata Lenka sih untung sayang kalau tidak sudah di usir Samuel.
"Lihatlah dia kira ini rumah nya apa, sangat santai sekali,"geleng Lenka juga masuk ke dalam mansion.
Ternyata Lenka yang baru masuk itu melihat semua orang sedang makan malam, Lenka tentu saja bergabung di meja makan itu bersama yang lain nya.
"Makanlah yang banyak Sam, kau terlihat kurus, apa Lenka tidak memberikan bekal untuk mu,"tanya Rere meletakan lauk ke piring Samuel.
"Ya dia tidak pernah kakak cantik, sebaiknya kau menasehati nya sebagai pacar yang baik dia harus melakukan itu,"jelas Samuel dengan wajah di iba-ibakan nya.
Sungguh ekspresi itu sangat tidak cocok untuk Samuel yang sudah seharusnya berkepala tiga itu, Lenka merasa kesal melihat pria itu yang malah memprovokasi keadaan.
"Enak aja yah ngomong nya Anda,"kesal Lenka mengunyah makanan nya kuat.
"Jangan manja kepada istri ku, kau kan sudah punya anak ku,"ketus Varo mengengam tangan sang istri yang sedang makan.
"Iyah mas, aku juga sayang kok udah,"ujar Rere yang dengan sabar menghadapi sikap suami nya itu.
Memang semakin tua Varo bukan nya rasa cinta pria itu semakin pudar, tapi semakin kuat, entah kenapa dengan Rere rasa nya sangat berbeda mommy dan daddy Lenka itu selalu pamer kemesraan di depan anak nya.
"Aku bosan melihat pemadangan ini Dad,"keluh Lenka memutar mata nya malas.
"Bagaimana kita menikah, kita juga bisa kan,"ucap Samuel to the point kembali.
Uhuk..
Bukan nya Lenka atau pun daddy serta mommy nya yang tersedak tapi Lukas yang diam dari tadi itu malah tersedak makanan nya.
"Lah kenapa kas?"tanya Rere kepada sang anak.
"Gapapa sih Mom hehe, ga kebayang aja Lenka nikah dulu dari pada kami,"jelas Lukas dengan cengegesan nya.
Rere tampak mengeleng kecil bagi wanita menikah mencari suami yang lebih muda atau tua adalah sebuah keputusan sendiri, cepat atau lambat asalkan sudah saling yakin kenapa tidak di segerakan.
"Yasudah kalau kau tidak bisa bayangkan aku menikah duluan, sebaiknya kau saja nikah terlebih dahulu, bagaimana kita jodohkan Lukas dengan mpok iyem,"ucap Lenka yang malah mengundang gelak tawa semua orang.
Haha..
Semua orang tertawa mendengar penuturan Lenka, begitu pun dengan mpok iyem yang sedang menuangkan minuman itu, janda tua anak 3 itu tersenyum malu-malu.
"Kalau tuan muda mau sih saya yes,"ucap mpok iyem nyengir memperlihatkan gigi nya yang sudah patah sebagian.
"Astaga amit-amit, kayak ga ada cewe lain aja, Lenka dasar durhaka yah sama abang sendiri!"teriak Lukas tidak terima.
Begitulah acara makan malam di lewatkan dengan obrolan santai atau candaan, tidak masalah jika barusan melewati hari yang sulit sebaiknya kenangan yang di simpan harus di lupakan.
......................
Jangan lupa vote hari senin yah kakak semua\~