SAMUEL

SAMUEL
BAB 182



“Pria ini,”gumam Arbian menatap biodata yang di berikan Samuel.


Samuel tampak mengangguk memahami maksud dari Arbian. Ketua tim pengejar itu tampak menatap tajam pria itu dia seolah menatap seseorang yang dia kenal di dalam sebuah lembaran kertas itu.


Tiba tiba saat mereka tengah fokus itu Lenka memecah kan suasana canggung itu terlihat Lenka mendekati suami nya. Sedangkan arbian sudah merubah ekspresi wajah nya pria itu tampak mengambil sebuah cemilan di meja makan nya.


“Sam aku ingin ke mall, aku ingin membeli baju lucu ini,”tanya Lenka memperlihatkan kan ponsel nya dengan baju kostum seperti kucing bertelinga.


“Baju apa ini sayang? Terlihat aneh,”pikir Sam menaikan satu alis nya.


Lenka tampak memanyunkan bibir nya dan menghentakan kaki nya dengan pelan seolah tidak suka dengan apa yang di lontar kan oleh Samuel kepada nya gadis itu memperlihatkan nya kembali.


“Ini baju nya lucu tau Sam nanti kan bisa aku pakai buat tidur,”ucap Lenka dengan kesal.


“Tapi aku lebih suka kau tidak pake baju saat tidur,”jawab Samuel dengan polos nya.


Ohok.. ohok…


Arbian yang tadi nya sedang mengunyah kentang goreng itu seketika tersedak mendengar perkataan big bos mereka begitu pun dengan sadam yang mengeleng mendengar perkataan Samuel yang tidak tahu tempat itu.


“Sam ayolah kau selalu saja berotak mesum!”kesal Lenka kembali.


‘Haduh nasib jomblo,’ batin Arbian.


‘Tapi benar kata big bos istri lebih bagus seperti itu,’ batin Sadam mengangguk tanda paham maksud perkataan Samuel.


“Tolong bos ada bocil di sini!”Ucap Jastin tidak terima dengan perktaaan Samuel.


Semua bawahan Samuel pura pura tidak mendengar perkataan pria itu yang selalu reflek mengatakan hal itu dengan polos. Mereka tampak menyibukkan diri masing masing.


“Hmm tapi aku serius,”ucap Sam berpikir tentang apa yang dia katakan.


“Terserah pokok nya aku mau baju ini sayang. Ayo kita lihat ke malll langsung,”ucap Lenka merengek menggoyang kan tangan Samuel beberapa kali.


Pria itu tampak menghela nafas wajar saja Lenka masih bertingkah kekanakan seperti itu istri nya saja baru berumur 21 tahun di mana gadis nya yang jauh lebih muda pasti masih ada sifat nya yang alami seperti orang lain.


Ya walaupun Lenka ada kala nya bisa berpikir dan bersikap dewasa tapi ada kala nya seperti ini. Samuel tentu menerima hal itu dengan senang hari ini salah satu resiko nya menikahi yang lebih muda pikir Samuel.


“Ayo,”ucap Samuel kepada sang istri.


“Hore makasih suamiku,”ucap Lenka dengan sangat antusias mengatakan itu kepada Samuel.


“Sadam jaga markas sampai Kevin kembali, aku pergi dulu,”ucap Samuel mengatakan itu.


Siap bossss


Ucap mereka secara serempak dengan suara lantang. Samuel tampak melangkah kan kaki nya ke luar dari markas, pria itu mengambil mobil nya yang telah di parkir kan oleh Jastin dengan rapi seolah dia hanya tinggal terima jadi saja untuk pergi.


“Silahkan masuk istri kecil ku,”ucap Samuel mengatakan itu.


“Terimakasih suami ku,”ucap Lenka cengegesan.


“Sam fokus ke jalanan, jangan terus melirik ku,”ucap Lenka kepada sang suami.


“Aku tidak tahu bidadari di samping ku selalu menghipnotis pandangan ku,”ucap Samuel mengatakan itu.


Lenka seketika terkekeh mendengar jawaban sang suami begitu pula Samuel yang bahagia bisa membuat sang istri tertawa pria itu mengecup tangan Lenka dengan amat tulus.


“Tapi aku benar kau adalah bidadari yang di utus untuk ku,”jawab Samuel sekali lagi memastikan agar Lenka percaya dengan ucapan nya.


“Sejak kapan suami ku pintar mengombal bukan kah kau mengatakan itu hal aneh sayang,”ejek Lenka kepada Samuel.


“Tidak masalah jika itu untuk mu,”jawab Samuel kembali.


Samuel pernah mengatakan jika dia tidak akan nama nya berpacaran dengan alay, apalagi mengatakan kata kata manis seperti generasi nya yang terkesan alay tapi bagi Samuel perkataan nya dahulu ya dahulu saja.


Bagaimana pun Samuel harus mengikuti alur jaman sang istri dia yakin Lenka juga ingin merasakan rasa sayang seperti yang di tunjukan anak anak nama sekarang tapi bagi yang sah seperti pasangan satu ini.


“Aku mencintai mu,”ucap Samuel kembali.


Lenka terkekeh pujian pujian manis yang di lontar kan suami nya sangat membuat seorang Lenka melayang bagai angin. Mereka yang asik terus bercanda di perjalanan tidak terasa akhir nya mobil Samuel sampai di sebuah mall terbesar di ibu kota.


Gadis kecil nya tampak sangat antusias sambil mengingat baju apa saja yang akan dia lihat, baru saja Samuel membuka pintu untuk sang istri nya beberapa karyawan yang mengenal mereka selalu saja menunduk hormat.


“Nona William silahkan,”ucap mereka.


Mungkin bagi mereka yang tidak mengenal mereka itu terkesan sangat aneh, dan penasaran tapi bagi Lenka itu sudah biasa terjadi.


“Kalian anggap aku seperti pengunjung yang lain jangan seperti itu aku akan masuk dengan suami ku,”ucap Lenka kepada karyawan itu.


Lenka memang selalu sangat dermawan pelajaran yang di ajarkan keluarga William sangat melekat di benak nya tata krama dari perpaduan seorang regita ananda dan varo William yang tegas menjadikan putra putri mereka sebaik sekarang.


“Nona William selalu sangat ramah,”


“Kau benar dia tidak pernah bersikap sombong,”


“Ada tuh pengunjung ya baru kaya punya mobil satu saja sudah belagu dan seenak nya dengan kaum di bawah seperti kita,”


“Ya nona William yang lebih kaya saja tahu cara menghargai kita,”


Begitu lah pria bisik bisik karyawan yang terdengar di dalam mall itu mereka melihat Lenka yang menjauh dengan suami nya sambil terus memuji.


Kedua orang itu bak amplop dan perangko yang selalu menempel, Samuel selalu tampak menggandeng dan menjaga istri nya begitu pun Lenka yang menerima gengaman itu dengan senang hati.


“Aku sudah lama tidak ke mall bosan melihat rumah mulu walaupun di rumah ada mall pribadi tapi aku suka keramaian dan berbaur,”ucap Lenka dengan puas nya.


“Jika kau merasa lebih baik seperti ini aku akan sering mengajak mu keluar sayang, jika itu membuat diri mu dan baby kita bahagia,”jawab Samuel mengatakan itu.


Lenka yang mendengar itu seketika berhenti melangkah kan kaki nya dia memeluk Samuel dengan senang dan berterima kasih tapi suara seseorang seketika menghentikan kegiatan mereka.


“Tatak,”