
Tuk.. tuk...
Suara ketukan yang di hasilkan oleh jari Lenka di meja belajar yang dia ketuk di kamar nya tampak nyaring, gadis itu sedang menopang dagu berusaha berpikir apa yang dia lihat tadi, dan kenapa keluarga nya berperilaku aneh.
"Ayolah aku ini seorang psikiater, pekerjaan ku menyembuhkan trauma seseorang,"
"Ini aneh, sangat aneh,"
"Aku melihat pandangan itu, siapa dia?"gumam Lenka.
Gadis itu berdiri dari duduk nya, dia berjalan menuju rooftof mansion william sendirian menikmati hembusan angin dari atas rooftof sambil melihat pemandangan indah dari atas dengan hamparan yang asri.
"Bagaimana jika Aku saja baby,"
"Kau gil@ kau itu om-om Aku tidak mau,"
"Kau meminta sugar Daddy tadi baby, wajar jika masalah mu adalah umur, bagaimana?"
Bruk...
Lenka terjatuh dari berdiri nya di tepi pembatas rooftof william itu ke lantai, dia memutar badan nya mencari sumber suara, Lenka tampak memegang kepala nya, tidak ada siapa pun. Ingatan itu muncul tiba-tiba bagaikan sebuah pertanda, lagi-lagi seorang pria. Wajah nya yang samar tapi dengan suara yang jelas.
"Si@l sebenarnya kenapa aku,"umpat Lenka yang sudah tidak tahan.
"Sabar Lenka, tarik nafas mu dan tetap tenang,"gumam Lenka.
Huft... huft..
Gadis itu melipat kedua kaki nya dia mengedarkan seluruh pandangan nya ke rooftof itu, entah kenapa ada kenangan yang memang tidak terjadi di sini tetapi tempat yang mirip membuat nya mencerna ini semua.
"Aku melupakan sesuatu?"
"Apa itu penting?"
"Aku yakin, sesakit apa pun aku, jika soal bidang psikolog aku masih tetap ahli nya,"
"Tapi jika aku memaksa untuk mengingat nya bukan kah itu akan berakibat fatal, harus kah aku mencoba mengingat nya,"
Lenka terdiam dengan perkataan nya, entah kenapa perkataan terakhir yang mengatakan harus kah aku mengingat nya? Membuat dada nya terasa sesak seolah mengatakan kenapa tidak? Kau harus mengingat nya.
"Baik aku harus,"gumam Lenka berdiri dari duduk nya.
Gadis itu berjalan melewati jalanan menuju rooftof, saat itu ada seorang pelayan yang turun membawa sebuah kotak kardus besar lalu menyapa Lenka dan menunduk, langkah Lenka terhenti.
"Bi bentar,"ucap Lenka menahan wanita itu.
"I i iya non,"ujar wanita itu gugup seolah berdiri agak jauh, menutupi kotak itu.
Lenka menahan tangan wanita itu dengan kuat, tatapan nya tajam ke pembantu itu seolah mengatakan lepaskan tangan mu, tapi pembantu itu bersikeras untuk tidak mau melepaksan nya.
"Aku yakin ini barang ku, aku melihat ada foto ku di sana, ini hak ku bukan,"ucap Lenka tajam.
"Nona muda tapi ini perintah tuan muda Luis nona, saya mohon nona, nanti saya di pecat jika nona memaksa mengambil ini,"jelas wanita itu gugup.
Gadis itu dengan kesal menyingkirkan tangan pelayan, biarlah dia bersikap arogant kali ini, penasaran membuat nya mati rasa. Lenka mengambil kotak itu paksa dan dia terkejut dengan sebuah foto itu.
"Ini aku, dan siapa pria tampan ini?"tanya Lenka melirik tajam pembantu itu.
Bagai di berikan pertanyaan beruntun pembantu itu bersujud memohon Lenka agar tidak mengingat semua nya, tentu Lenka tambah penasaran, Lenka seorang dokter psikolog memahami ciri-ciri jika pembantu nya ini tengah menyimpan sesuatu.
Dan benar saja, dengan beberapa kali bujukan dan penyampaian kata yang manis dari mulut Lenka kalau dia akan baik-baik saja, pembantu itu akhirnya lepas dalam bicara.
"Jadi pembantu itu bilang tadi nama nya Samuel?"gumam Lenka mengusap sebuah figuran foto diri nya tengah tersenyum bahagia dan pria itu memasang wajah datar tapi dalam posisi memeluk pinggang nya.
"Nona saya tidak mengetahui kisah nya secara detail karena cerita ini cuman terdengar di pekerja seperti saya hanya seperti angin lalu, barang-barang ini adalah milik Anda atas pemberian tuan Samuel. Pria itu adalah pacar anda nona, dia seorang anggota mafia, saya mendengar anda mengalami amnesia dan hanya melupakan tuan Sam. Kami para pekerja di suruh tutup mulut atas kejadian anda atau pun membahas tentang tuan Sam,"
"Kejadian ini cukup parah membuat anda mengalami trauma dan hilang ingatan, hanya itu yang saya tahu nona. Saya mohon jangan beritahu nyonya dan tuan besar, saya masih ingin bekerja,"ucap pembantu itu.
Penjelasan yang singkat padat dan jelas membuat Lenka dapat mendeskripsikan jika pria di foto ini adalah kekasih yang sangat dia sayangi, tapi Lenka sedikit ragu.
"Apa benar aku menyukai pria memasang raut wajah datar saat berfoto, lihatlah dia tidak tersenyum sedikit pun saat aku tersenyum manis,"ketus Lenka.
"Bertanya dengan Aga atau Gisel tidak akan mendapatkan hasil, pembantu itu juga bilang, karena kedua orang itu tidak menjaga benar, aku sampai kabur mengejar pria ini,"gumam Lenka.
Tanpa pikir panjang Lenka yang memang memiliki sifat ambis pergi ke rumah sakit entah kenapa dia hari ini hanya ingin pergi ke ruangan nya, sebelum wanita itu pergi dia membawa kotak cincin itu ke dalam tas nya.
"Aku tidak tahu ini baik atau buruk, tapi seperti nya aku bisa mengingat secepat nya terlebih aku gadis pintar dan setiap di tempat yang sama bayangkan pria itu muncul,"gumam Lenka berjalan keluar menuju mansion di antar supir nya.
Gadis itu sampai di RS tidak butuh lama waktu di perjalanan, dengan langkah tersenyum dia memasuki rumah sakit, teman-teman nya menyapa.
"Eh dokter Lenka anda kembali?"tanya seorang perawat itu.
"Dok jangan lupa ya walaupun anda cuti, tetap datang ke pernikahan ku dengan pacar anda yang tampan itu,"ucap perawat itu.
Lenka tersenyum kecil, seperti nya pria ini memang sangat dekat dengan keberadaan nya, takdir memang tidak bisa memisahkan nya dengan kenangan pria itu, satu persatu Lenka mengunjugi tempat, hingga akhirnya dia sampai di trotoar seorang anak kecil pembawa bunga mawar, menawari gratis.
Lenka berterimakasih, dan di sini lah puncak nya, saat dia melihat seolah waktu berputar mundur, semua orang tampak menatap ke arah nya dan seorang pria mengatakan "Apakah Lenka mau menjadi istri nya,"
Hosh.. hosh..
Dada nya begitu sesak, dia bernafas dengan keadaan cepat, air mata nya jatuh dengan sendiri nya. Satu persatu wajah pria yang samar itu semakin jelas, pria memberikan senyum kecil nya, Lenka mengingat ini, siapa pria itu dan siapa dia sebenarnya.
"Hiks hiks sakit,"gumam Lenka terjatuh dan menangis di jalanan yang ramai itu.
"Ini sakit, jangan tinggalkan aku, kenapa kau berkata kau baik-baik saja, kemana? Kenapa kau tidak ada saat aku melupakan mu!"teriak Lenka tanpa malu di jalanan yang ramai itu.
Bruk...
Pandangan Lenka kabur dia pingsan, sebelum dia pingsan Lenka menatap orang-orang berkumpul dan membantu nya.
Di dalam kamar, sebuah gadis cantik mengerjapkan mata nya, dia memegang kepala nya. Hal pertama yang dia lihat adalah semua anggota keluarga nya yang tampak khawatir.
"Lenka kau baik-baik saja?"tanya Lukas memeluk gadis itu.
Tidak ada jawaban sama sekali, wajah pucat gadis itu mengisyaratkan dia tidak baik-baik saja, semua orang tampak panik, Lenka mulai memberontak dalam pelukan Lukas sambil berteriak.
"Katakan!"
"Dimana Sam!"
"Dia baik-baik sajakan? Kenapa kalian memb0dohi ku seperti ini, kalian tahu kan aku akan menikahi dia, kenapa dia tidak di sini!"
"Dan kemana dia, aku ingat, ya aku ingat,"
"Dia terkapar hari itu, jangan mengatakan hal aneh, kenapa dia tidak menemui ku!
"katakan!"
Teriak Lenka menangis sejadi-jadi nya mendorong Lukas dengan kuat, gadis itu menatap Lukas marah dan tajam, meminta penjelasan, gadis itu tampak berantakan dengan rambut acak-acakan dan mata memerah karena menangis.
"Lenka kami--,"