
Bruk...
Seketika Gisel mendorong dada bidang suami nya dengan kasar, gadis itu mengusap mulut nya yang meneteskan air putih itu. Nafas dia ambil tidak beraturan karena ulah sang suami nya itu.
"Kak!"teriak Gisel malu.
Dia memalingkan wajah nya dan menatap sekeliling nya yang terdapat banyak pasien lain atau pun keluarga pasien dan dokter yang juga sedang berada di taman rumah sakit itu.
"Apa kenapa?"tanya Sadam dengan wajah tanpa dosa nya.
"Aduh emang pasangan muda itu sangat romantis di mana pun ya,"ucap seorang dokter yang sedang lewat sambil mendorong kursi roda milik pasien kecil nya.
Ternyata pria itu adalah dokter psikolog sekaligus teman dekat Lenka di RS tersebut. Dia mengenal kedua orang itu maka nya dia berani untuk menyapa sambil tersenyum penuh arti.
"Kakak dokter kok om itu cium kakak cantik? Apa mama kakak cantik tidak akan marah? Masih di cium om-om,"ucap anak kecil itu dengan polos menunjuk Gisel dan Sadam bergantian.
"Apa kau bilang aku apa?"ucap Sadam langsung berdiri sambil naik pitam.
"Ahaha dia memang om-om sayang tapi dia suami ku,"ujar Gisel mengatakan itu dengan lembut.
Sadam yang mendengar itu tersenyum dengan bangga dan memberikan smirk mengejek ke arah bocah itu yang menatap nya heran.
"Kau dengar? Aku suami nya,"ucap Sadam dengan bangga.
"Kakak cantik kok punya suami nya kayak om-om banyak bulu di dagu, itu juga ada tato pasti bohong kan! Wah kakak pasti di culik, sebenarnya dia ini permen,"ucap anak kecil itu heboh.
"Kakak dokter tolong kakak cantik, permen ini mau menculik dia,"ucap nya sekali lagi.
Gisel yang mendengar itu seketika tertawa oleh tingkah anak kecil yang dia temui itu, bagaimana tidak mood nya yang buruk tadi sudah berubah baik karena kelucuan nya.
"Kok permen sayang? Bukan preman ya?"tanya Gisel terkekeh.
"Eh iya maksudnya itu kakak cantik,"ucap anak kecil itu cengegesan menatap Gisel.
"Si al dia mengatai ku permen, padahal aku anggota aeros. Kau tahu aku bisa saja merobek us---,"
Belum selesai Sadam berbicara mulut nta seketika di sumpal oleh sang istri, bagaimana tidak. Bisa-bisa nya Sadam mengatakan itu kepada anak kecil yang masih polos oleh perkataan ekstrim nya.
"Mmm sayang,"ucap Sadam kepada sang istri melepaskan tutupan pada mulut nya.
Gyut....
Gisel mencubit pinggang suami nya itu dengan gemas menatap nya tajam seolah membulatkan bola mata nya mengancam sang suami yang mana membuat Sadam langsung terdiam dan menduduk.
"Jangan bicara lagi atau jangan tidur dekat dengan ku,"gumam Gisel kepada sang suami.
"Sayangggg,"rengek Sadam sambil mengangguk dan mengerucutkan bibir nya.
"Ahaha kakak cantik kok om permen nya takut kakak cantik, biasa nya kalau adek lihat om permen itu berani sama jahat,”ucap anak kecil itu terkekeh.
"Karena dia bukan om permen sayang, suami kakak ini sangat tampan tapi emang ini nya belum di cukur,”ucap Gisel menunjuk bulu-bulu halus yang bertumbuhan di dagu suami nya itu
Anak kecil itu mengangguk mengerti ucapan Gisel sambil tersenyum, lalu berkata.
"Tapi kalau adek sudah besar jauh lebih tampan bukan, sekarang saja sudah tampan,"ucap anak kecil itu bangga.
"Kak,"lirik Gisel kesal.
"Hmm,"balas Sadam dengan pasrah menuruti perkataan istri nya itu.
Anak kecil itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung baju pasien nya, ternyata itu sebuah permen lollipop yang mana membuat Gisel langsung berbinar.
"Kakak cantik ini buat kakak, aku juga punya satu,"ucap anak kecil itu.
"Untuk ku? Benarkan, ah terimakasih tampan,"ucap Gisel senang tersenyum.
"Apa kau anak kecil sampai sebahagia itu? Seharusnya kau yang memberi nya permen bukan dia,"ucap Sadam melirik Gisel kesal.
"Biarin,"ucap Gisel ketus.
"Baiklah ibu bapak seperti nya Gallen harus pamit, karena dia memang tidak boleh di luar terlalu lama, ucapkan sampai jumpa Gallen,"ucap dokter itu.
"Dadah kakak cantik dan om permen,"ucap gadis itu melambaikan tangan nya yang menjauh dengan kursi roda memasuki lorong rumah sakit.
Gisel dengan senang melambaikan tangan nya seorang anak kecil saja bisa mengembalikan mood nya sedangkan suami nya terus membuat nya kesal, tapi tanpa Gisel sadari Sadam menjatuhkan kepala nya di paha gadis itu.
Membuat Gisel yang fokus melambaikan tangan nya menatap suami nya yang menutup wajah nya di paha nya itu, membuat Gisel menaikan satu alis nya merasa heran karena tingkah suami nya itu.
"Kau kenapa kak?"tanya Gisel heran mengusap rambut hitam suami nya itu dengan lembut.
Sadam mendongkak wajah nya yang terduduk di depan kursi roda Gisel, dia menatap wajah istri nya yang cantik lalu kembalikan menjatuhkan kepala nya kayak nya anak kecil yang sedang ngambek.
"Ih kenapa sih malah diam di tanyain juga,"ucap Gisel memaksa kepala wanita itu menatap nya.
Gisel mengatup kedua tangan nya lalu menarik wajah tampan sang suami agar mengarah kepada nya, membuat Sadam menatap Gisel secara mau tidak mau.
"Kenapa?"tanya Gisel untuk kesekian kali nya.
"Apa aku terlihat seperti om-om untuk mu, tapi aku baru 30 an apa itu terlalu tua?"tanya Sadam satu kali lagi.
Gadis itu terdiam untuk beberapa saat lalu terkekeh dengan pertanyaan Sadam, seperti nya Gisel tahu kenapa Sadam sampai seperti ini. Pasti karena anak kecil tadi yang mengatakan itu kepada nya.
"Sayang apa kau mendengarkan perkataan anak kecil tadi?"tanya Gisel lembut terkekeh.
"Jangan tertawa tapi apa yang dia katakan mungkin benar,"kesal Sadam membuang wajah nya dengan kesal.
"Ayolah kemana suami ku yang percaya diri? Tumben sekali kau gampang merasa jatuh biasanya tidak,"ucap Gisel.
"Ya aku hanya merasa tidak pantas untuk mu yang cantik,"gumam Sadam dengan nada kecil nya.
Ayolah seperti nya pria yang berwajah datar itu sekarang sudah berubah manja di depan istri nya, raut wajah nya yang judes dan kasar sekarang menatap istri nya dengan tatapan lembut dan penuh perhatian.
"Dia melihat mu karena brewokan, nanti cukur ini kau pasti tampan dan seperti umur 20 an. Sekarang saja sudah tampan, aku sampai takut suami ku akan di kira masih belum punya istri,"ucap Gisel dengan gemas.
"Benarkah?"tanya Sadam menatap sang istri dengan tatapan penuh harap.
Gisel mengangguk dia mengatup pipi suami nya lalu mencium bibir pria itu terlebih dahulu dengan berani lalu tersenyum manis yang mana membuat Sadam terkejut karena Gisel sangat jarang ingin memulai nya dahulu.
"Ya, karena bagaimana pun suami ku, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Bukan kah suami yang bilang kalau hanya ingin menikah sekali dan begitu pun aku, mari kita mulai ini semua dengan perasaan yang jujur,"