SAMUEL

SAMUEL
BAB 92



Saat ini di sebuah pasar yang dalam keadaan riuh dan berisik, seorang gadis cantik Tengah menenteng dua kantung belanjaan nya sambil celingak-celinguk ke kanan dan kiri.


Gisel dan bibi Ina pembantu rumah Gisel saat ini sedang berbelanja di pasar tradisional di dekat rumah mereka, bukan tanpa alasan Gisel ikut dalam urusan belanja rumahan itu. Dia disuruh turun tangan untuk membantu bi Ina belanja ke pasar oleh mamanya sendiri.


Gisel memang diperlakukan beda di dalam rumah itu tetapi alasan itu tidak membuatnya marah sedikitpun kepada keluarganya dia hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan dari keluarganya.


"Non Gisel bi Ina aja yang bawain semua nya, Non Gisel cukup berdiri di belakang Bibi saja temani bibi,"ucap wanita paruh baya itu berusaha mengambil alih kantong yang ada di tangan anak majikan nya.


"Nggak papa Bibi Ina ini tidak berat kok oh iya bi Ina masih ada barang yang perlu dibeli tidak?"tanya Gisel dengan penuh semangat.


Dengan helaan nafas panjang bi Ina hanya pasrah kepada anak majikan yang selalu rajin membantu dirinya itu padahal dirinya sendiri lah yang tuan rumah, Bibi Ina menggeleng lalu mengatakan.


"Tidak non cuman ini Mari kita pergi ke mobil sepertinya ini sudah cukup,"ucap bibi Ina membawa kantung belanjaan bersama Gisel.


Kedua orang itu melangkahkan kakinya keluar pasar tradisional tersebut, Sebenarnya Mama Gisel sangat tidak suka makanan dan bahan masakan dari pasar tradisional, tapi mereka sengaja membelinya diam-diam karena Gisel tahu di Pasar tradisional itu barang-barangnya masih sangat fresh.


Bi Ina membantu memasukkan beberapa belanjaan ke dalam mobil Lalu setelah selesai bi Ina masuk kedalam mobil dan Gisel hanya berdiri di luar mobil lalu berkata.


"Bi Ina pulang duluan aja ya sama Mang damang Gisel mau cari sesuatu dulu,"ujar Gisel mengatakan itu sambil memainkan jarinya.


Bi Ina melihat tingkah Gisel yang ketakutan. Wanita paruh baya itu mengerti Gisel pasti tidak ingin pulang karena di rumah pun dia tidak akan diharapkan dan hanya mendapat perlakuan buruk. Bi Ina mengatakan dia akan bilang kepada tuan dan nyonya bahwasannya Gisel ada urusan lain.


"Kemana yah, emang jadi pengangguran tuh bosenin yah, di rumah cuman di marahin mama,"gumam Gisel menyusuri jalanan pasar tradisional yang becek itu entah kemana arah langkah kaki Gadis itu menuju.


Saat Gisel sedang menikmati jalan-jalan sore nya di tempat yang jauh dari rumahnya itu tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang, Gisel yang merasa ada orang menepuk bahunya ketika memutar badannya dan melihat Siapa orang tersebut.


"Gisel? Gisel Apa itu kau?"Panggil seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakang Gisel.


"Eh Mama Kak Sadam?"tanya Gisel kembali dengan wajah bingung nya.


"Mama sudah menebak itu pasti dirimu tapi Sedang apa kau berjalan sendirian di sini Gisel?"tanya wanita paruh baya itu.


"Tadi Gisel habis belanja di sini mah tapi belum mau pulang, jadi jalan-jalan dulu saja,"ujar Gisel tersenyum manis dan mengemaskan di mata mama Sadam itu.


Padahal baru dua kali Gisel bertemu dengan mama Sadam, tapi wanita paruh baya itu sudah sangat akrab dengan nya, Gisel sangat senang berada di dekat Mama Saddam bukan mengharapkan agar pria itu juga menyukainya dengan mengambil hati orang tuanya tapi entah mengapa dekat dengan mama Sadam membuat hatinya senang. Perhatian wanita itu seperti seorang orang tua kandung kepada anaknya membuat Gisel bahagia.


Lama mereka berbincang hingga hari sudah larut dan hampir malam, Mama Sadam seketika panik melihat hari yang sudah hampir malam karena dia juga belum masak untuk kebutuhan nya sendiri.


"Sayang apa kau akan pulang, ayolah main ke rumah, mama tidak punya teman. Rara malam ini menginap di rumah teman nya sedangkan Sadam dia sibuk mengurus pernikahan Samuel kau tahu kan,"ujar wanita itu membicarakan Samuel dengan antusias.


Gisel terlihat berpikir atas tawaran mama Sadam lagi pula walaupun dia tidak pulang keluarga nya tidak akan mencari nya, Gisel mengangguk menandakan bahwa dia menyetujui ajakan dari mama Sadam. Ternyata Mereka pun pulang ke rumah gunakan taksi yang lewat di pasar.


Beberapa puluh menit kemudian


"Ck mama berisik,"dengus Sadam melangkah kan kaki nya menuju dapur dengan wajah baru bangun tidur.


Drap.. drap..


Sadam melangkahkan kakinya ke dapur dengan wajah kesal dan langsung berkata.


"Ma, Sadam baru tidur bisakah pesan makanan saja, ini sangat berisik,"rengek Sadam mengatakan itu kepada mama nya.


Gisel yang sedang memasak di dapur itu ketika menolehkan kepalanya ke belakang mendengar sumber suara, bagaikan slow motion kedua orang itu saling menatap dan terdiam satu sama lain.


Krik.. krik..


Tidak ada percakapan sama sekali yang di lontarkan oleh Sadam atau Gisel. Mereka masih sama-sama saling menatap, hingga akirnya Mama Sadam yang datang dari kamarnya membuat lamunan kedua orang itu buyar seketika.


"Loh Sadam kamu di rumah? Kok mama tidak tahu kapan kamu pulang?"tanya Mama Sadam kepada putranya yang sedang berdiri itu.


Ketika Lamunan kedua orang itu buyar Gisel yang melihat keadaan Sadam yang memakai Boxer dan otot perutnya yang terlihat dan bertelanjang dada membuat Gadis itu syok dan langsung berteriak keras.


"Arghh,,,"Gisel menutup matanya sambil memegang spatula.


Sedangkan Saddam yang juga baru sadar itu dan mendengar teriakan Gisel lalu mengumpat dan langsung berlari ke kamarnya.


"Shlt,"


Langkah cepat dan wajah yang malu karena memperlihatkan tubuhnya kepada orang lain selain keluarganya.


Bruk..


Sadam membanting pintu kamarnya dengan kasar dan langsung masuk ke kamarnya dan memakai baju dengan wajah yang lalu.


"Si@l kenapa bocah itu di sini,"ujar Sadam kesal.


Sedangkan Gisel saat ini tengah duduk di kursi dapur di bantu mama Sadam memberikan air putih, gadis itu melihat penampilan hot pria itu membuat wajah nya kembali memerah.


'Kak Sadam, Gisel gil@ sedang memikirkan apa kau b0doh, arghhh,' Gisel terus berteriak dalam batin nya karena malu.


"Sayang kau kaget ya? Apa kau tidak pernah melihat pria seperti itu? Di Bali banyak pria begitu kok, atau di luar negri,"ujar mama Sadam mengatakan itu hal biasa.


'Aku tidak pernah melihat nya, kakak laki-laki ku saja jarang di rumah, mana aku tahu,'