SAMUEL

SAMUEL
BAB 47



"Morgan si@lan mati pun dia masih sempat menyelamat kan darah daging nya,"umpat pria itu nyalang merasa tidak terima.


Dia adalah Josen Darkness, kaki tangan dari kumpulan mafia, Darkness yang selama ini Samuel cari bersama bawahan nya untuk membalas dendam atas kematian sang Daddy sebuah penghianatan yang tidak ada artinya, sekaligus pria yang mengejar Samuel kala itu.


Tapi sedangkan pemimpin mereka seperti nya tidak langsung turun tangan, apa pria tua itu menganggap Samuel kumpulan geng kecil yang memerintah tanpa ada kekuasaan.


Kelompok mafia Darkness sepertinya rela datang jauh dari benua amerika hanya demi membunuh Samuel yang menjadi saksi bisu atas penghianatan ketua mereka.


"Well, ready to die Samuel Morgan,"(jadi, siap untuk mati Samuel morgan,)tanya Josen pada Samuel.


"Jangan panggil nama Daddy ku dengan mulut busuk mu, dan jangan bermimpi terlalu tinggi, jika kau jatuh akan sangat sakit,"gertak Samuel nyalang.


"SHUT UP!!"ucap Josen tidak terima dengan ejekan Samuel.


Samuel tersenyum kecil melihat lawan nya yang sudah naik pitam hanya gara-gara perkataan remeh nya itu.


"Start the game,"(mulaikan permainan nya,)ujar Samuel.


Setelah perkataan itu dengan serempak kedua kubu saling adu tatap dan membuat baik Samuel serta Kevin dan Darkness menodongkan pistol satu sama lain ke arah depan mereka.


Brak..


Tanpa di sadari tim pengejar sudah tiba, Arbian datang memimpin masuk dan saling menodong pistol dengan anggota Darkness yang lain.


"Lawan kami, jika Darkness ingin mencari kematian,"teriak Arbian dengan nyalang nya membuat Samuel bangga kepada anak buah nya itu.


Pertarungan sengit dimulai dengan Samuel yang menembaki kedua lengan Josen. Kevin, Arbian dan Aeros berlari keluar bermaksud untuk membuat bos mereka leluasa dan mengurangi resiko Samuel dikeroyok, sungguh akal-akalan yang bagus, Kevin.


Dor.. dor..


Suara tembakan saling bersahutan di dalam ruangan gelap itu, membuat suasana kian mencengkam.


Josen tidak tinggal diam, dia menembaki Samuel ke segala arah hingga mengenai benda-benda di sekitar Samuel.


Samuel dengan mudah menghindar dan berlari menubruk tubuh besar Josen dan membuang senjata Josen dengan cara menendang pergelangan tangan pria itu.


Bruk..


"Si@l,"umpat Josen yang merasa mulai di sudut kan oleh perlawanan Samuel yang terus menerus di berikan pria yang lebih muda dari pada diri nya itu.


Sementara itu Kevin yang mengiring tim Darkness ke tangga darurat apartemen mulai bertarung hebat di sana melumpuhkan satu persatu anggota Darkness dengan tembakan ahli nya.


Dor..


Dor..


Bugh..


Bugh..


Pukulan dan suara tembakan saling bersahutan di tangga apartemen itu, Arbian melompat dengan gesit dari tangga satu ke satu lain nya menimpa tubuh seseorang lawan nya, tanpa ampun langsung menondong pistol.


Dengan mudahnya Kevin melumpuhkan salah satu anggota Darkness dan menjadikan nya salah satu musuh hidup untuk di tanya, dengan membanting tubuh pria itu dengan keras ke lantai. Kini pria itu tersungkur tak berdaya.


"Tetap diam, sebelum Aku menc0ngkel bola mata mu,"umpat Kevin tajam kepada sang musuh yang tampak mengertak kan gigi nya.


Di sisi lain, Josen yang pergerakan nya di lumpuhkan dengan tidak terduga dia mengambil vas kaca kecil yang terjatuh dari atas meja dan memecahkannya tepat di dahi kanan Samuel.


Brak..


"Di dalam perkelahian tidak ada yang nama nya pengecut seperti itu, kami hanya mengambil kesempatan di saat kalian tidak menganalisis keadaan,"seringai Josen merasa menang.


Tapi Samuel tidak kalah cepat dia mengambil pistol yang tergeletak di belakang nya dan langsung membenturkan ujung pistol itu ke wajah Bastian berkali-kali.


Dor.. dor..


Darah mengucur deras dari wajah Josen, pria itu sudah mati meregang nyawa dalam keadaan Samuel yang berselimutkan darah, terkena pada baju tangan dan tubuh nya.


Josen kini sepenuhnya tidak sadarkan diri. Senyum mengembang dari bibir Samuel, dia menang melawan pria itu, tapi seperti nya dia lupa untuk membiarkan pria itu tetap hidup untuk menanyakan tentang Darkness.


"B@jingan, aku lupa membiarkan nya hidup,"umpat Samuel memukul kembali wajah Josen yang sudah tidak bernyawa.


Brak..


"Big bos tenang, kami seperti nya menahan satu anggota darkness yang hidup,"senyum Kevin melihat pria yang terikat dan pingsan dalam pengaruh obat.


"Kerja bagus semuanya, mission accomplished(misi selesai,)"senyum Samuel berdiri dari posisi menghimpit Josen.


Disaat yang bersamaan, tim pengejar Aeros kembali dengan senyum yang juga terpampang di wajah mereka.


"Misi rank b di tuntaskan bos, lapor markas, pastikan lacak koordinat tim darkness yang datang dengan helikopter dari lapangan,"hubung Arbian melapor ke markas.


"Mission clear, markas sudah melacak koordinat helikopter dan sudah menandai lokasi, pastikan informasi sampai ke big bos,"balas Sadam memberikan senyum kepada bawahan nya yang juga tampak sudah bekerja keras.


"Arbian, bersihkan lokasi dengan histeril tanpa ada kecurigaan sedikit pun, perintahkan anak buahmu sebanyak nya, karena Aku mau malam ini lokasi bersih tanpa barang bukti,"jelas Samuel memerintah.


"And Kevin, kali ini kita akan membasmi Darkness, bawa pria itu dan ikat di markas Aeros,"senyum seram Samuel membuat siapa pun pasti merinding.


Samuel kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tanpa berinisiatif membersikan lukanya terlebih dahulu, dia lebih mementing kan gadisnya yang masih dia sembunyikan di dalam lemari, Samuel takut salah satu anggota darknesa akan mengacak-acak apartemen dan menyadari ruangan rahasia itu.


Lampu baru kembali hidup, mengingat kalau lampu tadi ditembaki oleh darkness.


Dulu Samuel memang seorang anak kecil yang bisa berlari dan menangis menyelamatkan diri, tapi sekarang dia adalah raja di segala raja di dunia bawah, julukan iblis berdarah dingin, dia dapatkan bukan hanya berita angin lalu, tapi itu memang benar karena kemampuan nya sendiri.


Aeros memang sudah sangat di kenal dan di takuti di benua eropa yang terkenal, tapi di amerika mereka lebih mengenal darkness, mafia terbesar di sana.


Samuel memencet kembali tombol ruangan rahasia itu, dan pintu pun terbuka.


Cklek..


"Dimana Lenka,"tanya Samuel yang terlebih dahulu mencari sosok gadis pujaan nya itu.


Agalista tampak berdiri dengan posisi berjaga, dia melihat penampilan Samuel yang sudah acak-acakan dan darah yang mengenai pakaian pria itu, seperti nya misi mereka berhasil.


"Dia tertidur dan terus mengingau nama mu, seperti nya dia sangat khawatir,"ucap Agalista menunjuk seorang gadis yang tertidur di paha Gisel yang mengusap rambut sahabat nya itu pelan.


"Terimakasih telah menjaga nya, sebaiknya kalian keluar, kita tinggalkan apartemen ini sementara, karena musuh sudah mengetahui nya,"gumam Samuel dengan raut wajah serius.


Sementara itu Samuel berbicara serius, Agalista hanya bisa tersenyum kecut, Samuel untuk pertama kali nya berbicara hangat kepada nya, tapi bukan karena hal lain, tapi karena diri nya menjaga kekasih pria itu.


'Seperti nya kebahagian mu memang ada pada Lenka, Sam berbahagialah,'