SAMUEL

SAMUEL
BAB 130



"Suami kau?"tanya Gisel kaget melihat sekeliling nya yang ternyata memang kamar mandi.


"Aku kira mimpi hehe,"gumam Gisel tertawa kecil membuat Sadam yang mendengar nya memutar bola mata nya malas.


Pria itu menutup pintu kamar mandi lalu ikut melepaskan pakaian nya, Gisel yang sudah dalam mode sadar seketika kaget melihat kelakuan Sadam.


"Eh mau ngapain, jangan macam-macam yah!"teriak Gisel menunjuk Sadam yang membuka baju.


"Aku ingin mandi, sekalian saja agar tidak membuang waktu, dan kau jangan memasang ekspresi aneh, aku suami mu kau lupa?"kesal Sadam ikut masuk ke dalam bath up.


Gisel menutup wajah nya menggunakan kedua telapak tangan nya, gadis itu mengangguk tapi tetap saja dia tidak bisa melakukan hal di luar dugaan nya seperti ini.


"Hih suami ku sangat terobesesi dengan mandi bersama kah?"gumam Gisel masih menutup wajah nya.


"Siapa yang terobsesi kau ini,"kesal Arbian menghela nafas nya.


Akhirnya perdebatan kecil memang terjadi tapi yah nama nya pasangan suami istri ujung-ujung nya tetap ehem kalau ada kesempatan ya kan, setelah selesai mandi akhirnya pasangan itu ikut makan malam bersama di meja makan.


Suara dentingan sendok dan piring berada, semua orang terlihat menikmati makanan mereka kali ini, begitu pun dengan Gisel yang terlihat lahap makan.


"Ma, minggu depan Sadam dan Gisel mau ke italia yah,"ucap Sadam di sela suapan makan yah.


"Hah kapan?"tanya Gisel yang mendadak panik.


Padahal yang di beritahu itu mama nya tapi kenapa Gisel yang terlihat sangat panik, gadis itu menelan air minum nya dan menyelesaikan acara makan nya dengan cepat.


"Boleh, sekali bulan madu aja kalian,"jawab mama Adelia menimpali juga.


"Apa bulan muda?"ucap Gisel yang sekali lagi terkejut atas perkataan mama Adelia.


Adelia hanya terkekeh melihat menantu nya yang kebingungan itu, sedangkan Sadam dan Rara secara kompak hanya memutar bola mata mereka malas untuk kedua kali nya melihat tanggapan Gisel yang cukup lebay.


"Kak Gisel kenapa harus teriak sih? Rara kan kaget tahu,"dengus gadis itu mengunyah makanan nya kasar.


"Ah maaf Rara, aku hanya bingung, soal nya suami belum memberitahu ku,"cengegesan Gisel mengaruk belakang kepala nya yang tidak gatal.


"Mama benar, aku bisa sekalian bulan madu di sana, kita akan memberikan mama cucu,"ucap Sadam dengan santai.


Dan untuk ketiga kali nya Gisel berteriak karena kaget atas perkataan Sadam, siapa yang tidak kaget perkataan Sadam adalah hal yang menurut nya sangat sakral di telinga nya itu.


"Bayi siapa? Cucu? hah?"ucap Gisel kaget mengatakan itu.


"Cucu mama, dari kamu sama Sadam kan, kok kaget sih haha,"tawa Adelia.


"Tahu nih kak Gisel, aneh,"ucap Rara mengeleng.


"Suami?"tanya Gisel memelas meminta penjelasan.


Pria itu hanya menaikan bahu nya ke atas seolah tidak peduli dengan Gisel yang kaget tiga kali karena omongan nya di tambah omongan mama Adelia, gadis itu mengusap perut datar nya.


"Kalau Gisel hamil, bisa pindah ke suami aja ga sih? Nanti ga pas lagi dong baju nya,"gumam Gisel.


"Kau hanya memikirkan hal sepele itu? Aku akan membeli nya, jadi kita akan memiliki anak setuju?"tanya Sadam tajam.


"Setuju,"ucap Gisel tersenyum manis.


Sedangkan Adelia hanya terus tertawa tidak tahan melihat tingkah itu, Adelia tidak akan marah. Wanita paruh baya itu juga tahu jika kedua orang itu menikah mendadak.


Cinta tidak bisa tumbuh begitu saja bukan, jadi Adelia hanya bisa menikmati proses pendekatan kedua orang itu tanpa mau ikut campur, apalagi Sadam yang memegang prinsip hanya menikah satu kali dalam hidup nya membuat Adelia yakin pria itu akan mempertahankan Gisel.


Beberapa hari berlalu


Akhirnya keberangkatan mereka ke Italia sudah di putuskan, mereka semua naik dalam satu pesawat yang sama di miliki keluarga william. Pernikahan Aga dan Kevin kali nya ini hanya di hadiri teman mereka dan orang di sana tidak terlalu banyak tamu undangan.


Sedangkan yang akan menikah saat ini sangat gelisah, hari h sudah di depan mata. Agalista yang sedang berbaring di kamar nya terus berguling kesana kemari.


"Serius? Aku akan menikah besok? Tapi aku baru berumur 32 tahun,"


"Tidak umur segitu sudah tua, aku memang harus menikah,"


"Tunggu, tapi aku belum siap bagaimana ini?"


"Siaal ini semua gara-gara Kevin kenapa pria itu sangat terburu-buru, dan daddy baik-baik saja and selalu have fun aku lihat,"


Ucap Agalista mengigit jari nya yang merasa bingung dan gelisah atas apa yang dia rencanakan kali ini, tanpa pikir panjang Aga seperti nya tidak akan bisa menikah. Gadis itu membuka koper dan membawa sedikit pakaian nya.


"Cabut lah, ogah nikah,"ucap Agalista tertawa puas melihat suasana rumah yang sepi karena semua orang sudah tidur.


Gadis itu mengendap keluar rumah tanpa sadar seorang pria sedang berdiri di balkon rumah itu sambil merokok, pria itu tersenyum menyeringai melihat gadis itu yang keluar dari rumah dengan celingak celinguk.


"Apa dia akan kabur?"


"Tapi itu tidak bisa baby,"


Gumam Kevin menghisap putung rokok nya yang sudah memendek, pria itu tertawa dan hanya mengeleng melihat tingkah kekanakan Aga. Kevin memilih tidur di kasur nya membiarkan Aga yang pergi menjauh.


Malam di lewati terasa singkat oleh pria itu, semua orang sudah terlihat bersiap, begitu pun dengan yang lain nya Lenka Sam, Sadam Gisel dan semua nya sudah berkumpul.


Lenka yang memakai pakaian serasi dengan suami nya itu tidak melihat Aga sama sekali, padahal semua orang sudah bersiap, hingga Lenka dan Gisel memutuskan menanyakan itu kepada Kevin.


"Kak, Aga nya mana? Kami mau ketemu dulu,"ucap Lenka meminta izin.


"Ah dia kabur semalam,"jawab Kevin dengan santai.


Seketika Gisel yang mendengar itu berteriak keras, membuat suami nya malu sendiri dan menutup mulut Gisel kuat.


"Mmm suami lepaskan, ck,"ketus Gisel memukul tangan Sadam pelan.


"Maka nya kau jangan berisik malu, suara cempreng mu menodai semua telinga orang,"kesal Sadam.


"Lalu bagaimana pernikahan nya, Aga sangat nekat yah,"ucap Gisel mengangguk takjub.


Sedangkan Kevin yang mendengar perkataan semua orang yang panik hanya tertawa kecil dan mengeleng, tanpa mencari tahu Kevin tahu kemana Aga akan kabur.


Mungkin saja pria itu sudah memprediksi nya melihat tingkah kekanakan Aga yang dapat dia pahami.


"Jangan takut, sebentar lagi juga di akan datang kesini, pernikahan ini juga tetap akan berlangsung,"