
"Seperti nya aku mulai suka program game ini bos,"ujar Sadam mengunyah permen nya dengan semangat, memantau tim darkness yang mulai panik.
Koneksi tim darkness di putus oleh Sadam, apa lagi posisi mereka yang berpencar dan tempat yang mereka masuki awal tadi berbentuk labirin membuat mereka bingung di mana awal mula mereka masuk, dan di mana jalan keluar?
Drap.. drap...
Suara langkah kaki sekali lagi mulai mengema, Javier yang berjalan mengejar pria yang berlari itu terpisah dengan bawahan nya.
"Tunggu kau!"teriak Javier dengan nada kesal nya.
Yang berlari dan tahu seluk beluk jalan itu hanya terus tertawa, pria yang memakai topeng dan memegang senjata itu ternyata adalah Samuel yang sengaja memisah kan Javier dengan bawahan nya.
"Kejar aku jika kau bisa tua bangka haha!"teriak Samuel berjalan masuk ke pintu satu dan pintu lain nya seoalah-olah tempat itu memang benar seperti labirin.
Javier kehilangan jejak pria yang memakai topeng itu, dia melihat sebuah pintu besi yang terkunci kuat, di sebalik pintu terdapat meja yang berlumuran darah di mana-mana. Javier menekan earphone nya.
"Will kalian mendengar ku, siapa yang terbunuh lawan atau kawan!"teriak Javier dengan suara mulai panik.
Bruk...
"Si@l aku lupa, ini sudah tidak berfungsi lagi,"umpat Javier menarik earphone itu dan menginjak nya dengan penuh emosi.
Dia menendang kuat pintu besi itu supaya melihat siapa mayat yang ada, tapi itu tidak bisa terbuka sama sekali, dengan pikiran kalut Javier menembak pintu itu agar terbuka.
Dor.. dor...
Di sisi lain Willy yang mencari keberadaan Javier terus menyusuri pintu satu persatu dengan waspada hingga akhirnya salah satu bawahan nya yang menodong kan pistol ke pintu bewarna hijau untuk mengecek ke dalam nya di tarik seseorang dari dalam.
Bruk..
Pria yang di tarik itu terjatuh dan membentur meja dapur di ruangan itu dengan kuat, membuat nya oleng dan terjatuh, pintu tertutup dengan suara yang keras dari dalam sebelum Willy bisa masuk.
Brak...
"Buka pintu nya, kalau kalian berani jangan main @njing kucing!"teriak Willy.
Seseorang yang ada di dalam ruangan yang menarik salah satu bawahan Willy itu hanya mengaruk belakang kepala nya malas merasa di ejek.
"Ck, kalian menghina kami bermain seperti ini, nikmati permainan kami, benar bukan?"senyum Arbian kepada pria yang sedang terjatuh di lantai dan terlihat wajah panik nya.
Tanpa ampun Arbian menendang pistol pria itu menjauh, tanpa aba-aba Arbian langsung menembak lengan pria itu.
Dor.. dor..
Darah mengucur dari lengan nya, membuat Arbian tertawa puas, suara teriakan kesakitan oleh siksaan Arbian dari dalam terdengar jelas oleh Willy.
Argh......
"Buka pintu nya b@ngsat!"teriak Willy.
Dor.. dor..
Saat mereka tengah asik berteriak dari belakang muncul juga pria bertopeng yang menembak Willy dan tim darkness yang lain semua nya hingga tumbang, pria itu ternyata adalah Kevin.
"B0doh jika kau masih berperang, utama kan diri mu dulu, baru orang lain, sungguh malang,"ejek Kevin menendang mayat semua orang yang sudah mati itu.
"Hmm apa pria ini yang bilang tadi ingin berlibur?"
"Seperti nya iya, berlibur lah di akhirat,"ejek Sadam kepada pria yang sedang menodong kan pistol nya, dan di pantau itu.
"Orang oi!"teriak salah satu tim darkness.
Mereka tentu terkejut dan langsung saja menembak ke dalam ruangan itu tanpa pikir panjang menghabiskan peluru mereka.
Tapi lagi-lagi seperti nya mereka salah mengenali orang dan malah menembak manekin, sungguh suasana yang gelap dan mati lampu itu membuat pandangan mereka sangat terbatas.
Kevin yang bersembunyi di sebalik boneka itu mengejutkan mereka yang sedang mengintip dengan cara menembak nya, tanpa ampun.
"Kejutan!"
Dor.. dor..
"Akh tembakan ku meleset,"kesal Kevin berlari dan bersembunyi menuju pintu rahasia lain nya yang terhubung dengan tempat utama.
Satu persatu kejadian aneh mulai di rasakan darkness, dari mulai anggota mereka yang satu persatu tiba-tiba terpisah dan saat mereka berusaha bersandar ke dinding mencari tumpuan dari atas sebuah tali jatuh dan tepat melingkar di leher mereka.
Keadaan itu seperti seseorang gantung diri, tapi itu bukan karena kemaun mereka, itu karena mereka di gantung oleh lawan mereka sendiri.
Sadam yang memantau jebakan mereka satu persatu terkena oleh musuh berteriak senang mengertak kan gigi nya, jika mereka di bilang kejam itu setimpal dengan darkness yang pernah membunuh semua anggota aeros terdahulu.
"Aww itu pasti sakit, good job brother!"teriak Sadam menekan satu persatu tombol jebakan agar semua anggota darkness terkena.
"Haha Javier seperti nya sudah mulai menangis dan kencing di celana nih bos,"ujar Arbian kepada Samuel yang melihat layar monitor Sadam.
"Haruskah aku membantu membersihkan nya,"ejek Kevin.
Mereka menikmati permainan brutal itu tanpa tahu seseorang yang menunggu mereka semua tengah panik di mansion william terutama Lenka yang sedang duduk di kamar nya bersama Aga, dan Gisel.
"Lenka kau tenang lah, Sam pasti baik-baik saja, kau tahu siapa pria gil@ itu bukan,"ujar Agalista berusaha mencairkan suasana di dalam kamar itu.
"Hei aku memang santai saja, apa kau lihat aku menangis dari tadi, aku hanya menikmati acara party bersama kalian,"ujar Lenka mengunyah cemilan nya santai.
Gisel dan Agalista saling menatap, mereka sebenar nya agak curiga dengan Lenka yang tidak panik sedikit pun, biasa nya gadis itu sangat panik, tapi kali ini dia terlihat senang dan menikmati drama korea yang mereka tonton.
"Aku mau ke kamar mandi dulu yah,"jelas Lenka.
"Iya jangan lama-lama,"ujar Gisel.
Lenka berjalan ke kamar mandi melewati walk in closet kamar nya, gadis itu yang berwajah tenang sekarang berubah menjadi pucat dan panik, dia mencari cara agar kabur dari mansion karena penjagaan sangat ketat.
Lenka turun dari lantai dua mansion dengan kain yang di ikat kan lewat jendela walk in closet yang ada di sana, hanya menggunakan piyama tidur dan tanpa alas kaki gadis itu mengendap melalui gerbang samping william dan melompat.
Lenka terus menangis, walaupun kaki nya sudah lecet terkena bebatuan aspal di jalanan itu, dia memanggil taxi dan memilih menuju markas aeros, entah kenapa perasaan Lenka sangat tidak karuan.
"Hiks hiks Sam aku tahu, mereka terlalu kejam untuk mu, aku dengar percakapan itu Sam, mereka mengincar mu, tolong selamat lah untuk ku,"