
"Aku sudah bilang jika minum sampanye waktu perayaan saja dia tidak kuat apalagi wine itu,"
"Aku ingin menangis apa boleh, kakak pria ku memang paling baik di keluarga ku terhadap diriku,"
"Tapi apa kau itu tahu Lenka, itu wine yang tahun produksi nya 1907 jenis shipwrecked heidsieck,"teriak Gisel frustasi mengacak rambut nya.
Gadis itu berdiri dari diam nya yang duduk di sudut menonton drama sudah tidak tahan, Gisel mengambil satu botol yang utuh dan setengah yang di depan meja Sam dan Lenka.
Dia menyimpan minuman itu terlebih dahulu, baru mendekati Lenka dan menguncang tubuh gadis itu dengan menangis.
"Huaa bagaimana ini, itu sangat mahal,"
"Sahabat ku satu ini sangat bodoh!"teriak Gisel mengoyangkan tubuh Lenka kuat.
Sedangkan yang di marahi hanya memasang raut wajah sedih lalu menoel pipi Gisel.
"Gisel jangan menangis, apa ini gara-gara orang tua mu lagi hah? Aku akan membela mu, mereka semua jahat!"teriak Lenka memeluk Gisel dengan wajah linglung mengatakan itu.
Samuel hanya bisa memijit pelipis nya dan juga semua para pria yang melihat kedua gadis muda itu menjadi tontonan yang heran, yang satu menangis yang satu lagi sok seperti pahlawan hingga akhirnya, Samuel menarik ujung baju Gisel menjauhi Lenka.
"Pegang kartu nama ku ini, aku jamin akan menganti wine kakak mu itu besok,"jelas Samuel kepada Gisel yang terjatuh di sofa akibat tarikan Sam.
"Janji yah pacar Lenka, awas tidak,"ancam Gisel mengancam dan memasang wajah cemburut.
Sedangkan yang di ancam hanya memasang wajah datar, lalu Sadam yang terdiam dari tadi menonton drama yang masih di putar melihat langkah Gisel yang duduk di sofa samping nya dengan ekor mata.
"Jadi bekas luka itu dari keluarga mu?"tanya Sadam dengan suara pelan.
Gisel yang mendengar ada yang megajak nya berbicara langsung melirik Sadam di samping nya, Sadam yang tadi atau pun kemarin di ajak bicara hanya membalas dengan singkat kata sekarang berbicara panjang kepada nya, membuat Gisel sedikit merasa bingung.
"Ah maksud kakak yang ini?"tanya Gisel memegang pergelangan nya yang tampak masih memar.
"Aku mengira itu ulah ku, sampai-sampai aku merasa bersalah, tapi mendengar ucapan nona Lenka membuat ku berpikir dua kali,"balas Sadam dengan suara tenang nya.
"Ya ya memang, tapi maaf aku tidak bisa menjelaskan nya ini masalah pribadi,"gumam Gisel pelan memilih masuk ke kamar nya.
Sadam hanya melirik Gisel yang tampak bingung ketika Sadam menanyakan tentang keluarga nya, apakah ini terlalu lancang untuk seorang pria yang baru menemui gadis itu dua kali.
Dasar b0doh, tentu itu sangat lancang terlebih ini baru pertemuan dua kali, dan kau bertanya tentang masalah yang sangat pribadi, Sadam menghembus nafas nya kasar.
"Aku tidak mengerti pikiran wanita,"gumam Sadam meneguk kaleng bir yang Lenka beli tadi di swalayan.
Disisi lain terlihat Lenka mencari ingin meminum wine itu lagi, tapi gadis itu mengerucutkan bibir nya tidak menemukan botol wine tadi,
"Gadis bod0h! Jika aku tahu kau minum sampanye hari itu saja mabuk, apalagi wine ini, berapa kadar alkohol nya tadi, kau memang tidak baik nona,"kesal Samuel mengusap wajah nya.
Mengurus Lenka sudah seperti mengurus seorang adik bagi Samuel, terlebih pria itu sama sekali tidak pernah merasakan memiliki adik.
Sam pun berpikir bagaimana nantinya jika ia minum beberapa gelas lagi? pasti gadisnya ini akan sangat menggila.
"Hei, berikan.. hik.. aku masih ingin mencicipinya,"ucap Lenka dengan cecegukan sambil meracau.
"Apa itu 0 persen alkohol?"tanya Sam menatap tajam Arbian.
"Ekhem iya bos, tapi sebaiknya jangan di berikan lagi,"jelas Arbian sok sok menjadi pahlawan padahal awal mula nya adalah karena pria itu.
Ck..
Samuel berdecak kesal mengambil semua botol bir itu dan berdiri bersiap membuang nya ke tong sampah, tapi saat berdiri tiba-tiba Lenka ikut berdiri dari duduk nya dan mencoba mengambil bir itu, dengan cepat Samuel ulurkan kebelakang dan mengangkat nya lebih tinggi.
Samu terkejut bukan main saat Lenka memanjat ke tubuhnya tidak mau menyerah ataupun mengalah.
"Lenka jika kau seperti ini, aku akan memberitahu tuan Varo,"ancam Samuel.
Gadis itu tidak mendengar yah orang mabuk mana yang paham dia terus mencoba mengambil kaleng bir itu dari tangan Samuel dengan gadis itu menaiki tubuhnya yang terduduk dikursi.
Bisa Samuel rasakan aroma wangi tubuh Lenka menguar dari tubuh mungil Lenka saat tubuh mereka berdempetan satu sama lain, Samuel tersadar dari keterpakuannya, di tahannya pinggang gadis nya itu agar tubuhnya tidak terjatuh saat memanjat, Samuel semakin menjauhkan bir berbahaya ditangannya yang hampir diraih Lenka.
Tidak mau mengalah, Lenka semakin memanjat tubuh Samuel lagi, dan kini kedua pahanya sudah berada di kedua sisi tubuh Samuel meng@ngkang. Tangan nya yang mungil meraih tengkuk Samuel dan merapatkan wajah datar itu ke sebuah benda bulat milik nya.
'Si@l' batin Samuel menjerit.
Tiba-tiba miliknya berdiri mencuat keras dibawa sana, saat merasakan wajahnya menyentuh dada yang masih tertutupi oleh pakaian namun terasa kenyal itu! D*mn it! benar-benar benda empuk yang lebih mematikan!
Prank..
Samuel yang berusaha mengontrol diri nya seketika menjatuhkan semua bir itu ke lantai dan mengangkat tubuh Lenka seperti karung beras.
"Sadam panggil teman Lenka, katakan kami akan pulang, sebaiknya kita pergi,"ucap Samuel berjalan terlebih dahulu meninggalkan apartemen.
"Baik bos,"angguk Arbian.
Tok.. tok..
"Ada apa, mana Lenka?"lirik Gisel yang seperti nya sudah tertidur saat orang lain sedang berpesta di rumah nya itu.
Arbian mengangguk seperti anak kecil menjawab pertanyaan Gisel, lalu semua nya pamit pergi.
"Nona kami pergi dulu maaf merepotkan mu,"teriak Arbian dengan senyum andalan nya melambaikan tangan.
Drap.. drap..
Di sisi lain, Samuel sudah masuk ke dalam mobil sport nya dan mendudukan Lenka yang terus meracau dan ngambek karena gadis itu tidak mendapatkan keinginan nya, mobil Samuel membelah jalanan ibu kota yang masih ramai di tengah malam itu.
"Tunggu sampai urusan dengan darkness berakhir aku jamin kau akan menyesali nya dan aku akan memakan mu hidup-hidup,"senyum kesal Samuel menatap sang kekasih yang sudah tertidur lelap.
Bruk..
Tanpa di sadari Samuel, Lenka yang setengah sadar, saat itu naik dan duduk di pangkuan Samuel yang sedang menyetir, gadis itu dengan senyum mengoda nya menjil@ti leher Samuel dan mengigit leher pria itu.
"Akh Lenka!"