
3 hari berlalu
Semenjak hari itu Lenka terus mengurung diri nya di kamar seorang diri, tidak mengizin kan siapa pun masuk termasuk kedua orang tua nya, perkataan Lukas seolah membuat dunia nya hancur. Dia tidak lagi sanggup hidup ketika sudah kehilangan pria yang dia cintai.
Flasback on
"Lenka kami tidak menyembunyikan apa pun,"jelas Luis kepada sang adik.
"Tidak? Lalu kemana Sam, lalu kenapa dia tidak di sini? Apa dia baik-baik saja?"teriak Lenka kepada Luis.
"Kau diam kan? Kau tidak bisa menjawab,"
"Kalian setidaknya katakan sesuatu, jangan menyiksa ku seperti ini,"
Hiks.. hiks..
"Sam,"lirih Lenka.
Tangisan gadis itu terdengar sangat pilu, kejadian malam itu terlihat sangat jelas di otak nya, dia sudah sangat tahu. Perasaan nya saat itu sangat tidak karuan, dia merasakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu, lalu sekarang apa ini?
Seolah cinta nya pergi begitu saja tanpa ada penjelasan, semua orang tampak sedih mendengar rintihan Lenka yang pilu terus menerus memanggil nama Samuel.
"Sam sudah tidak ada,"gumam Lukas.
"Lukas!"teriak Luis tajam kepada sang adik.
"Apa hah?! Kenapa kau berteriak, biarkan dia tahu tentang ini,"ucap Lukas tidak kalah tinggi berteriak kepada Luis.
"Kalian tenanglah jangan membuat Lenka tambah menangis,"kesal Leon memeluk sang adik dalam dekapan nya.
Lenka tampak tidak percaya atas perkataan Lukas, dia sama sekali tidak mempercayai itu, Samuel pernah berkata kepada nya. Kalau dia adalah seorang pemimpin aeros, seorang anggota mafia yang hebat, tidak mungkin pacar nya mati semudah itu bukan.
"Keluar,"gumam Lenka.
"Aku bilang keluar!"teriak Lenka kepada semua orang.
"Daddy dan mommy jangan bicara padaku sampai kalian semua membawa Sam kesini!"teriak gadis itu membentak semua orang dan menunjuk pintu.
"Maaf, maafkan aku. Tapi Lenka sangat tidak ingin bicara sekarang, Lenka mohon tinggalkan Lenka,"gumam gadis itu.
Rere tampak menahan tangisan nya mendengar suara anak nya yang sudah serak karena menangis dan berteriak, Varo berusaha membujuk istri nya keluar ruangan membiarkan Lenka untuk menenangkan diri.
Flasback off
Tapi sudah tiga hari ini lamanya Lenka tidak mau bicara dengan keluarga nya, kalau iya pun dia hanya bicara kepada mom nya seorang diri, walaupun tanpa banyak kata.
Di hari libur ini semua keluarga terlihat tidak memiliki kegiatan jika biasanya mereka menghabiskan waktu bersama dan bercerita hal menyenangkan tapi tidak sekarang.
Brak..
Luis mengembrak meja ruang tamu itu kuat, semua orang menatap Luis, begitu pun Varo yang menatap putra sulung nya itu pasti sudah kehabisan kesabaran nya.
"Dad cukup, jangan bohongi Lenka, bukann nya membaik dia malah seperti itu,"ucap Luis memohon kepada sang Daddy.
"Tapi ini keputusan Reno, dia berkata agar tidak memberitahu Lenka dan tidak memberi nya harapan kau tahu,"jelas Varo mulai membuka suara.
Rere terlihat mengusap lengan suami nya berusaha agar pria itu mau menerima saran Luis, Rere tidak sanggup harus melihat Lenka terus menerus seperti ini.
Varo melirik istri nya sungguh air mata terberat nya adalah air mata istri nya, pria itu tampak mengusap air mata Rere lalu memeluk nya erat.
"Baiklah, terserah kalian,"jelas Varo.
Setelah mendengar jawaban itu Luis dengan raut wajah senang berlari ke kamar sang adik, dia memanggil pelayan untuk mengambil kunci duplikat.
Cklek...
Pintu kamar gadis itu terbuka dari luar, terlihat Lenka sedang duduk meringkuk dengan kedua kaki yang dia peluk. Tatapan nya kosong menatap jendela, sungguh itu membuat hati siapa pun sakit, Leon dan Lukas ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Pindahkan dia ke kasur dulu,"jelas Leon menyarankan.
Seolah tuli Lenka yang mendapat gendongan dari kakak nya hanya menatap Luis datar, gadis itu di biarkan duduk di kasur, Lenka tampak memutar wajah nya menatap jendela.
"Dengarkan ini, Lukas mengatakan Samuel sudah tidak ada bukan berarti dia meninggal,"jelas Luis.
Satu kata itu mampu membuat Lenka yang tadi membuang muka menatap Luis dengan mata yang berkaca-kaca, bibir kering gadis itu bergerak berkata lirih saking lemas nya.
"Aku ingin menemui Sam,"gumam Lenka.
Hah, saking tidak kuat lagi menangis, suara nya pun hilang. Luis tampak mengangguk dan mengusap air mata sang adik, Rere dan Varo yang melihat itu tampak tersayat hati nya melihat betapa pucat nya sang anak.
"Kau bisa menemui nya, kau ingat bukan saat itu Sam mengalami luka tembakan,"ucap Luis berjongkok di depan sang adik dan mengengam tangan nya.
Lenka tampak mengangguk mendengar jawaban sang kakak.
"Kau tahu luka Sam saat itu sangat parah, pria itu pernah membunuh daddy Sam, dia penembak jitu, dia berniat membawa Sam mati bersama nya,"
"Tembakan itu tepat mengenai dada Sam, kau ini adik ku yang pintar bukan, bagaimana menurut mu jika seseorang mengalami hal seperti kau tahu jawaban nya,"ucap Luis bicara selembut mungkin.
Gadis itu dengan air mata mengalir kembali berkata dengan suara bergetar nya.
"Luka tembak di dada dapat membuat seseorang meninggal tanpa rasa sakit atu kemungkinan yang lebih baik koma, karena setiap kali bernafas tulang rusuk akan menyusut, kemungkinannnya 90%,"gumam Lenka dengan suara tercekat.
Pria itu tampak tersenyum kepada adik nya. Luis mengangguk, lalu berpindah duduk ke samping Lenka.
"Berjanjilah kepada ku, jika kau mengetahui kebenaran ini, jangan menangis lagi,"ucap Luis.
"Lalu di mana Sam, apa di RS william, aku akan menemani nya,"gumam Lenka mengusap air mata nya berusaha tidak mengecewakan Luis.
"Tidak, Sam di bawa uncle Reno ke Italia. Dia melalui perawatan di sana, karena uncle berkata dia ingin menjaga Sam sendiri,"
"Kau tahu kondisi Sam dalam seminggu ini sudah sangat baik, tapi dia tidak kunjung sadar dari koma nya,"gumam Luis.
Perkataan itu di sambung oleh Rere, sang mommy duduk di samping Lenka di sebelah nya lagi, wanita itu mengusap rambut panjang sang anak.
"Sayang dokter mengatakan kemungkinan Sam sadar sangat kecil, mommy hanya berpesan apa kau yakin akan menunggu Sam, selama yang kau bisa,"ucap Rere.
Tanpa pikir panjang Lenka mengangguk, dia merasa tanpa Sam dunia nya akan hancur, biarlah orang berkata jika diri nya terlalu di buta kan cinta.
"Daddy yakin kau langsung ingin kesana, maka nya daddy sudah memberitahu uncle Reno, ingat jangan membuat diri mu sakit sendiri, ini semua sudah jalan nya sayang,"ucap Varo menatap sang anak.
"Aku akan menemui Sam,"