SAMUEL

SAMUEL
BAB 159



Pernyataan cinta yang di sampaikan Sadam secara lugas tanpa malu itu membuat Gisel yang polos diam dan mengedip kan mata nya beberapa kali karena bingung, wanita itu tampak lucu karena kebingungan membuat Sadam terkekeh dan menarik pelan hidung gadis itu dengan gemas.


Gyut...


"Hei kenapa kau diam? Aku salah?"tanya Sadam dengan gemas kepada Gisel.


Gadis itu seketika mengeleng cepat mendengar suami nya yang mengatakan salah, bagaiman itu bisa salah. Ini lah yang Gisel harapkan suami nya yang mencintai nya tanpa paksaan, bukan kah dia sudah bisa tersenyum dan bahagia sekarang?


Dia bisa memulai hidup versi baru dengan menyandang nama belakang Indris lalu melupakan masa kelam nya dahulu saat nama nya masih berstatus Kristin. Gisel mengaruk pipi nya.


"Apa aku bermimpi?"tanya Gisel menarik pipi nya sendiri kuat.


Argh...


Gisel meringis kesakitan karena ulah nya sendiri dan memasang wajah cemberut sambil memanyunkan bibir layak nya anak kecil yang tidak di berikan eskrim, Sadam terkekeh lagi dan mengeleng.


"Atau suami yang sakit salah bicara,"ucap Gisel mencek suhu tubuh sang suami menggunakan punggung tangan nya.


"Hmm tidak panas suami, eh suami kau bau dan jengotan haha,"ujar Gisel tertawa melihat penampilan.


Salahkan ini semua atas kegalauan Sadam yang tidak kunjung terjawab karena Gisel tidak terus sadar, mandi dan makan bahkan tidak termasuk dalam daftar kewajiban nya karena lebih mementingkan istri nya itu.


Hidup nya terasa hampa melihat Gisel yang semakin kurus dan tidak kunjung sadar, membuat nya kian menyalahkan diri terus menerus karena kecelakaan ini.


Grep...


Sadam menarik tangan istri nya dan mengecup nya beberapa kali lalu menganti kecupan itu dengan gengaman seadanya, pria itu menatap tulus sang istri.


"Hei jangan bercanda seperti itu, aku serius kau tahu, apa kau tidak mencintai ku juga? Dan aku seperti karena kau tidak kunjung sadar dan mengurus suami,"jawab Sadam cemberut.


"Ih jangan gitu ahaha, kayak om-om ngambek."tawa Gisel mencubit bibir sang suami yang ikut memanyunkan bibir nya itu.


"Aku kan emang om kamu, sugar daddy. Jadi gimana sayang, udah sayang sama daddy belum?"canda Sadam mengoda sang istri.


Gisel tersenyum kecil dia menatap lurus wajah tampan yang sudah di tumbuhi jenggot itu, meskipun seperti itu tetap saja Sadam terlihat tampan, maha karya satu ini memang sangat menakjubkan.


"Suami aku sangat senang jika ini bukan candaan, dari awal aku ingin mencoba membangun kebahagian ku setelah menikah. Tapi boleh kah aku jujur, aku sangat sayang dengan suami, tapi rasa sayang ku belum bisa disebut cinta,"ucap Gisel dengan pelan.


Pria itu tersenyum, dia tidak peduli sama sekali, yang dia pedulikan asalkan Gisel tidak meninggalkan nya itu bukan masalah besar nya dan satu masalah setelah pengutaraan ini akan kah Gisel masih tetap menerima nya jika dia mengetahui anak mereka sudah tiada.


"Aku akan menunggu, sampai aku menua bersama mu,"jawab Sadam kepada sang istri.


"Terimakasih,"ujar Gisel memeluk pria itu terlebih dahulu.


Membuat Sadam jadi salah tingkah karena sang istri yang mencium pipi nya sambil cengegesan dan memperlihatkan deretan gigi putih nya yang tersusun rapi itu.


Bruk...


Pintu terbuka dari luar, Lenka dan yang lain nya terlihat masuk sambil memasang wajah acuh tak acuh melihat keromantisan itu.


"Halah niat nya aku jika kau tidak ingin Gisel, aku bisa menjadi suami kedua nya,"canda Arbian mengatakan itu.


"Ahaha bangsaat sok banget,"


"Halah kak Sadam punyaku punyaku, sebelum nikah sama kak Sadam, Gisel itu punya aku tahu, benarkan sayang?"kesal Lenka melirik pria itu.


Samuel yang hanya berusaha diam agar tidak di salahkan sang istri hanya bisa membenarkan ucapan gadis nya yang manja ketika hamil itu.


"Benar, Gisel itu punya Sadam,"ucap Samuel mengangguk.


"Ih kok punya kak Sadam sih! Punya Lenka!"teriak bumil itu kesal menarik rambut suami nya gemas.


"Ya karena kamu punya aku sayang,"ucap Samuel yang tidak merasa sakit menerima tarikan itu dan memeluk sang istri lalu mengecup perut nya penuh kasih sayang.


"Dasar mafia bucin kalian,"ketus Arbian.


Seketika ketiga pria yang ada di sana menatap tajam Arbian seolah siap menikam pria itu, mereka seolah sangat kesal menerima kenyataan ya kalau mereka benar benar bucin.


"Iri bilang bos, maka nya punya istri,"ejek Agalista mengandeng Kevin yang hanya diam itu.


"Halah pasangan tom jerry ga usah bacot deh, ngeri saya,"ucap Arbian melirik Agalista dan Kevin itu.


Semua orang seketika tertawa keras, ruangan yang sebelum nya di hiasi oleh tangisan dan kesedihan selama seminggu itu berubah menjadi ruang tawa dan bahagia bagi siapa saja, begitu pun Sadam yang paling utama.


Gisel yang heran karena melihat interaksi Samuel dan Lenka sedikit aneh pun bertanya, ya bagaimana tidak pria itu terus seolah berbicara di depan perut Lenka dan mengusap serta mengecupi nya.


"Kak Sam kenapa dengan perut Lenka, wajah Lenka kan di atas kok ngomong nya di bawah?"tanya Gisel dengan polos.


Syu....


Suara angin lewat terdengar karena keheningan, semua orang terkekeh mendengar pernyataan konyol itu, Lenka yang baru sadar belum memberitahu sahabat nya itu pun mendekat.


Dia menarik pelan tangan sang sahabat dan meletakan nya di atas perut nya, membuat Gisel merasa heran karena tingkah Lenka yang aneh.


"Kenapa? Apa kau lapar, tapi aku belum bisa memasak yang biasa nya Lenka,"jawab Gisel kembali.


"Hei ayolah, sampai di sini kau belum mengerti? Kau benar-benar sahabat ku yang lemot,"tawa Lenka.


Gisel tidak marah sama sekali atas perkataan Lenka, karena dia tahu Lenka yang mengatakan itu tidak serius dan hanya memuji sisi kekurangan nya itu. Ya, Lenka selalu mengerti apa yang Gisel rasakan lebih dari keluarga nya sendiri.


Tanpa Lenka mungkin saat dia pulang kampus, dia akan lebih banyak mendekatkan lebam yang parah. Lenka sering mengatakan itu kepada Aiden karena ulah kakak dan ibu nya.


Tapi Aiden sama sekali tidak percaya atas perlakuan keluarga nya, keluarga Gisel yang mengenal Lenka juga sedikit tidak memperlihatkan ulah mereka karena mereka bersahabat.


"Ayolah aunty, di sini twins ingin di sapa? Apa maksud nya dengan baby ku lapar,"tawa Lenka.


Gisel mengedipkan mata nya beberapa kali hingga baru tersadar apa yang terjadi, Lenka mengangguk mengiyakan keterkejutan sang sahabat.


"Kyaa selamat!"