SAMUEL

SAMUEL
BAB 209



Misi A di turunkan itu artinya dimana tingkat misi sulit akan di berikan kepada para petinggi aeros saja, terlihat semua anggota yang menggunakan mobil hitam dan holekoptet menuju titik koordinat yang di berikan sadam tersebut kepada mereka.


“Are you kidding with me sadam!”teriak arbian di sebalik earphone yang terhubung kepada seluruh bodyguard di sana.


“Apa maksud mu bian?”heran sadam yang masih menahan posisi wanita itu untuk terus di lacak.


Dengan kesal sadam menekan kembali tombol earphone yang melingkar di telinga kanan nya itu, pria itu berdecak kesal kepada sadam yang seolah sedang mempermainkan tugas tim pengejar.


“Ini gudang kosong kau tahu?!”teriak Arbian kepada sadam.


Ya saat mereka semua sampai di ruangan itu dengan mengatur strategi dan masuk dengan perlahan menggunakan posisi yang Sudah di rencanakan Jastin masuk terlebih dahulu ke dalam.


Jastin menargetkan pistol nya menatap kanan dan kiri lalu memberi tanda dengan tangan nya, semua orang masuk tapi setelah mencari ke segala sudut gudang itu tidak ada siapa pun di sana.


“Bos target tidak di temukan,”ucap Jastin menginformasikan keadaan.


Semua yang mendengar itu termasuk Samuel yang berada di markas seketika mengebrak meja nya dengan kasar, bagaimana tidak pemimpin aeros itu kesal jika persiapan mereka malah di permainkan.


“Jastin jaga bicara mu kalian jangan lengah! Aku tidak pernah salah melacak koordinat seseorang dari ponsel aktif yang mereka gunakan,”teriak sadam dengan kesal.


“Aku juga melacak para bawahan mereka kau tahu!”kesal sadam sekali lagi.


Tidak ada guna nya sadam marah yang terjadi telah terjadi memang sudah tidak ada siapa siapa di dalam sana, Samuel melihat ruangan kosong itu dengan pemindai yang ternyata benar benar tidak ada siapa pun di sana.


Brak…


“Lacak dengan benar kau kira kami bekerja dengan cara bermain!”teriak arbian dengan kesal.


Saaat semua penjagaan mulai lemah semua orang mulai kesal, Samuel yang fokus melacak dengan kamera itu seketika kaget melihat sebuah siluet lampu merah kecil yang berdenyut dengan angka mundur yang sangat cepat.


“Sial wanita licik itu!”teriak Samuel.


“Arbian tarik semua anak buah mu keluar, gudang itu akan hancur karena bom!”teriak Samuel dengan keras menggunakan mikrofon itu.


Semua orang yang mendengar itu seketika kaget mereka belati keluar mengikuti jalur masuk mereka satu persatu hanya dalam hitungan beberapa detik setelah mereka keluar dari ruangan itu sebuah dentuman keras terdengar.


Duar…


Arbian seketika terlemapar tatapan nya tampak ingin membunuh wanita itu ternyata trik nya dapat menipu semua anggota aeros. Semua orang di sana terlihat dapat selamat walaupun ada yang terkena puing karena ledakan tersebut.


“Ssst tangan ku bian!”teriak Jastin kepada arbian.


Arbian yang fokus menatap gudang yang hancur itu mencari sumber suara dia menatap Jastin yang memegang lengan nya yang terluka bagi seorang penembak tangan ada lah sebuah harta sekali pun kaki mu patah jika tangan mu sehat maka tidak ada alasan untuk berhenti menembak.


Semua orang saling membahu karena ledakan itu bersdampak besar bagi tim pengejar, sedangkan sadam ternganga tidak percaya titik koordinat yang dia tahan tadi seketika hilang begitu saja seperti buih ombak.


Sadam sangat tidak percaya karena diri nya yang sudah bangga dengan cepat sampai lupa meniliti dua kali teman teman nya terluka, sadam terlihat sangat terpukau karena hal itu.


“Sadam jangan menungkan kesalahan mu, hubungi Lenka dan katakan siapkan beberapa dokter ahli kulit untuk anggota kita. Jika kau tak ingin menyesal,”ucap Samuel.


Pria itu yang mendengar teriakan Samuel seketika tertegun dengan cepat dia menghubungi Lenka dan memberitahu hal itu, Lenka segera menelpon rumah sakit untuk melakukan perawatan kepada beberapa anggota suami nya.


“Sial wanita itu,”ujar arbian masih tidak percaya.


Sedangkan di sisi lain seorang wanita yang duduk di ruangan hitam itu terlihat menikmati minuman sampanye sambil terkekeh tertawa dia menatap sebuah monumen paris yang sangat berharga di sebalik jendela nya dengan cahaya yang indah.


“Aeros bodoh, ternyata bukan diri ku yang di bawah rata rata tapi mereka yang di bawah standar,”kekeh wanita itu.


“Apa kalian kira aku bodoh dengan melempar diri ku sendiri dalam urusan besar seperti ini, tangan mulus tidak akan mengotori langsung untuk menghadapi kalian. Ingat ini nyonya regita ananda kau akan merasakan teror ini sampai anak cucu mu, setidaknya anggap ini cobaan hidup haha,”tawa wanita itu menggelegar.


“Nona kau sangat pintar dengan mengubah informasi mu langsung seperti itu,”puji bawahan nya.


“Dan membuat panggilan kita seolah berada di sana,”kekeh pria itu kembali.


Wanita muda itu tersenyum smirik tatapan nya yang seperti iblis itu tidak pudar di kegelapan kamar itu, dia memutar kursi putar nya sehingga terlihat wanita itu yang tersenyum.


“Aku sudah bilang jangan meremehkan diri ku bukan, ayolah aku juga ingin hidup tentram aku hanya memberikan kejutan kepada mereka bukan mati seperti ibu ku yang malang karena cinta nya yang malang,”


“Rasa membunuh ku bukan lebih ke rasa balas dendam tapi lebih ke rasa ingin menghantui mereka dengan rasa ketakutan di setiap hari nya, aku ingin dengan kejadian ini mereka selalu waspada dan ketakutan seolah tidak ada tempat berlindung yang aman,”


“Aku suka itu,”seringai wanita muda itu.


Ya wanita itu sudah berhasil melakukan keinginan nya apa kalian kira aeros selalu sempurna dengan misi mereka? Tidak karena aeros juga bisa berada di ambang kehancuran mereka sendiri karena tindakan gegabah.


Semua orang sibuk di rumah sakit luka yang di alami bawahan Samuel memang tidak parah tapi itu sedikit butuh di perban di berikan beberapa bius untuk menahan rasa sakit nya.


“Sam, dia tidak di sini. Wanita itu hanya ingin bermain, jadi dia hanya menargetkan rere jangan pikirkan ini, tetap lakukan misi ini dengan tersembunyi seolah kalian menghapus nya dari daftar rencana, buat mereka lengah dan suatu hari kau yang akan menghukum nya sendiri.”


“Jangan karena rasa takut menyilimuti mu akan membuat Lenka merasa heran,”nasehat varo menepuk bahu menantu nya.


Samuel yang sedang berada di rs di depan sana terlihat mengangguk menerima nasihat varo, dia mencengkeram baju nya sendiri lalu menghela nafas dengan sabar dan menatap langit dengan tatapan yang sangat dalam.


“Inti nya jangan ganggu kami, jika kau ingin melakukan trik anak kecil ini cukup jangan menyakiti lebih dari ini,”