
Lenka terlihat memasang wajah cemberut kepada Samuel yang malah melakukan kesalahan itu, saat ini gadis itu masih menunggu kedatangan sahabat nya.
"Lenka berapa umur mu?"tanya Agalista yang mengunyah cemilan yang entah dari mana gadis itu ambil.
"19 tahun, kenapa?"tanya Lenka yang juga merasa cocok mengobrol dengan Agalista.
Brak..
"Sam kau mengencani gadis muda, wah-wah parah,"ucap Agalista dengan raut wajah kaget dan langsung mengebrak meja nya.
Pantas saja wanita itu merasa kalau Lenka terlihat masih imut-imut tapi Kevin mengatakan kalau Lenka sudah menjadi seorang dokter, jadi dia mengira Lenka sudah sekitar berumur 27 tahunan mungkin walaupun wajah nya terlihat muda.
"Terserah Aku,"ketus Samuel yang menatap Agalista tidak suka.
"Memang kenapa Agalista kau terlihat kaget sekali,"tawa Lenka yang malah heran.
"Tentu Aku kaget, umurku 32 tahun dan para pria di sini sudah lebih tua dari mu Lenka, tapi wajah mereka memang dapat menipu kita,"geleng Agalista menatap wajah tampan Kevin dan Samuel bergantian.
Lenka mengangguk menyetujui perkataan Agalista, kalau tidak salah Kevin dan Samuel memiliki jarak umur sekitar tujuh tahun beda nya, berarti Kevin jauh lebih tua dari pada diri nya, Lenka mulai merasa dia sedang duduk dengan para paman nya, memikirkan nya saja membuat Lenka ingin tertawa.
"Tapi Agalista, maksud ku kak, kau juga terlihat sangat muda di umur mu yang sekarang, Aku malah mengira kau masih berumur 20 an,"ucap Lenka menimpali perkataan wanita itu.
"Benarkah? Wah akhirnya ada yang mengakui Aku cantik, setelah Daddy ku,"bangga Agalista dengan percaya dirinya.
"Jangan memuji nya nona, tingkah nya jadi aneh,"ucap Kevin melirik Agalista yang malah kesenangan itu.
"Lah kenapa? Iri bilang dong,"kesal Agalista mengibaskan rambut nya di depan wajah Kevin.
Membuat pria itu dengan kesal menyingkirkan rambut Agalista yang bertebangan dengan slowmotion nya di depan wajah nya dengan cara mengibaskan dengan tangan nya kasar.
"Haha kalian sangat lucu, memang cocok, benarkan sayang,"tanya Lenka meminta persetujuan Samuel yang hanya menyimak dari tadi itu.
"Apa yang dikatakan kau, itu selalu benar,"angguk Samuel tanda setuju.
"Tidak,"
Jawab Kevin dan Agalista secara serempak dan memang wajah kesal merasa jijik satu sama lain di bilang cocok, padahal saat Agalista menumpang di apartemen Kevin pun, gadis itu selalu saja mengerjai nya, jadi kalau untuk pasangan luar negri tinggal bersama sebelum nikah adalah hal umum yah.
Saat mereka tengah asik berbincang, suara pintu apartemen terbuka menampilkan Gisel yang datang dengan wajah sedih dan langsung memeluk Lenka, gadis itu langsung nyerocos curhat tentang kegilaan nya.
Grep..
"Lenka bagaimana ini mobil ku huaa, masa hilang sih di parkiran restoran,"keluh Gisel yang memeluk Lenka dan menyingkirkan Samuel yang duduk di samping nya.
Sedangkan Lenka yang menatap kekasih nya itu ingin memarahi Gisel yang datang dan langsung memeluk nya seketika menatap tajam Samuel seolah mengatakan "Tetap diam jangan ikut campur,"
Samuel hanya bisa menghela nafas melihat posisi nya yang nyaman tadi memeluk Lenka malah di ambil alih oleh Gisel sahabat kekasih nya itu.
"Sabar nanti Samuel akan membantu mencarikan nya,"ucap Lenka melepas pelukan itu.
Tanpa mereka sadari Sadam baru masuk dan menyapa atasan nya itu.
"Selamat siang big bos, wakil ketua,"ujar Sadam menunduk menyapa kedua orang itu.
"Sadam selain mencari informasi pria yang Aku tuju kau tidak becus, menjaga seorang bocah pun kau tidak becus,"kesal Samuel yang ingin memukul pria itu.
"Tapi b--,"
Belum selesai Sadam memberikan alasan nya Samuel sudah memotong dan menyela.
"Aku tidak butuh alasan,"kesal Samuel yang masih melirik Lenka yang telah melepas pelukan nya dari Gisel.
Agalista yang mengunyah makanan nya itu juga mengingat Gisel yang kemarin malam juga datang ke restoran itu.
"Betulkan Kev, mobil semalam,"ucap Agalista melirik Kevin yang memaksa nya pulang kemarin.
Pria itu tampak berpikir memutar otak atas perkataan Agalista, seperti nya dia memang ingat ada satu mobil sedan butut yang di derek oleh petugas karena tidak masuk parkir wilayah restoran mewah itu.
"Hmm seperti nya benar,"jelas Kevin mengangguk merasa mengingat itu.
Seketika rengekan Gisel menjadi, bisa-bisa nya dia salah memarkir mobil nya sembarangan, astaga dia sangat malas harus mengurus mobil itu.
"Beli baru saja,"sambung Samuel enteng.
"Ya beli baru saja,"ucap Agalista setuju.
"Itu benar, beli baru saja mobil mu sudah sangat jelek,"balas Kevin.
"Ben--,"
Sadam yang ingin ikut menimpali juga seketika perkataan nya lagi-lagi terpotong oleh gebrakan meja yang sangat keras oleh ulah Lenka sendiri.
Brak..
"Kalian orang kaya memang gampang bicara,"kesal Lenka menatap semua orang itu.
"Tapi kau juga kaya sayang,"balas Samuel yang menyela perkataan Lenka.
"Benar nona anda lebih kaya,"jelas Kevin yang menyetujui.
"Kau anak bilioner pasti kaya Lenka, apa maksud mu dengan orang kaya,"sambung Agalista yang mengunyah makanan nya santai.
Brak...
Untuk kedua kalinya Lenka kembali megebrak meja itu dengan kasar, menatap tajam mata semua orang satu persatu, dia tidak menyangkal kalau dia juga memang kaya, tapi tunggu kenapa mereka harus menyela perkataan Lenka, membuat gadis itu naik pitam dan darah tinggi.
"Kalian semua diam, sebelum Aku memerintah kan bodyguard ku untuk menutup mulut kalian,"kesal Lenka.
Glek..
Semua orang terdiam tanpa berani menyela kembali perkataan Lenka.
"Seperti nya nona william memang kesal,"bisik Agalista kepada Kevin.
"Diam,"kesal Lenka menatap tajam semua orang.
Benar-benar orang-orang ini sungguh membuat Lenka pusing, padahal mereka semua lebih dewasa tapi tingkah mereka seperti anak-anak saja, Lenka mengatur nafas nya agar tidak terus kesal dan marah, begitu pun Samuel yang menutup mulut nya agar tidak membuat sang kekasih marah.
"Dengar, kita memang kaya, tapi Aku bilang di sini Gisel, jika aku mampu membelikan nya mobil baru memang masalah selesai dan mobil jelek itu jadi bagus, tapi ayolah Daddy Gisel pasti akan memarahi nya menanyakan itu dari mana, kalau Gisel di perlakukan buruk lagi bagaimana,"jelas Lenka yang memang mengetahui keadaan keluarga Gisel.
Sadam seketika melirik gadis culun yang menunduk itu, pria itu mulai bertanya-tanya apa maksud perkataan Lenka, jadi Gisel salah satu anak broken home yang menjadi pelampiasan keluarga, pantas saja Sadam melihat luka memar pada pergelangan tangan Gisel, padahal dia merasa tidak mencengkram Gisel tadi dengan kuat.
"Si@lan bagaimana jika Aku bunuh ayah nya?"tanya Samuel to the point.
Duk..
Lenka memukul kepala sang pacar kuat agar pria itu sadar, tidak segampang itu mengambil nyawa seseorang.
"Jangan pikirkan penyelesain masalah dengan otak pyso mu itu,"kesal Lenka.
"Sudah tuan, nona semuanya ini hanya masalah kecil Aku akan membawa mobil itu malam ini kesini, kalian terlalu memikirkan nya sangat berbelit belit bukan,"balas Sadam yang ambil bagian bicara.
"Akhirnya otak mu di pakai Sadam, yasudah pergi,"usir Samuel kepada pria itu.
'Dari tadi juga Aku ingin bicara tapi kalian saja yang sangat ribut,'