
Pria itu yang sudah lama menunggu seketika mendengar suara sang istri yang dia tuju, Samuel tersenyum melihat Lenka yang juga tersenyum kepada nya. Pria itu berjalan dan memeluk sang istri gemas.
"Tidak lama kok,"gumam Samuel memeluk manja Lenka.
"Maafkan aku yah by, kau pasti lelah?"tanya Lenka mengusap rambut sang suami dengan kasih sayang.
Pria itu mengeleng menjawab perkataan Lenka, dengan pelan pelukan itu Lenka lepaskan, melihat suami nya yang terus tersenyum gemas kepada nya.
"Kenapa tidak memberitahu ku dulu jika kau akan datang? Aku kan jadi membuat mu menunggu lama seperti ini,"keluh Lenka yang merasa bersalah.
"No, No, No baby aku yang membuat diri ku sendiri menunggu, apa pun itu. Jika tentang mu aku siap menunggu,"ucap Samuel dengan romantis.
"Astaga kau ini bisa saja, kenapa kau sangat imut,"gemas Lenka kembali memeluk suami nya.
"Kau belum makan kan?"tanya Sam.
Gadis itu mengangguk cepat lalu cengegesan di depan Samuel, suami nya itu memang biasa nya tidak suka jika Lenka terlambat makan karena dia bilang itu sangat tidak dia suka!
"Dasar, aku sudah membuat kan mu makanan tapi seperti nya itu sudah dingin, bagaimana kita makan di luar saja?"tanya Samuel menawarkan.
Lenka yang mendengar Samuel memasakan nya seketika mata gadis itu aktif melihat kantung yang di bawa Sam, ternyata itu ada di kursi tempat Sam duduk tadi.
"Tidak! Aku mau memakan masakan suami ku ini, ya?"tanya Lenka dengan senang.
"Tapi makanan nya sudah dingin, tidak apa-apa?"tanya Samuel kepada sang istri.
"Iya tidak apa-apa, aku sudah lama tidak memakan masakan suami ku, terakhir saat kita masih pacaran hehe,"ujar Lenka mengingat Sam yang pernah memasaki nya.
Akhirnya Sam mengalah dan membawa makanan itu ke ruangan Lenka, mereka berdua akhirnya duduk di ruangan Lenka. Sam membuka kotak makanan nya satu persatu.
"Wah jika begini aku bisa memakan semua nya, ini terlihat enak,"ucap Lenka dengan senang seperti anak kecil.
"Benarkah? Coba dulu mana tauan itu tidak sesuai selera mu,"ucap Samuel mengusap rambut Lenka.
Gadis itu mengangguk menyetujui perkataan Samuel, dengan lahap Lenka memakan makanan yang di masakan Sam. Tapi jujur gadis itu tidak berbohong itu memang sangat enak di lidah nya, sangat sesuai dengan apa yang dia rasakan.
"Enak by, kamu coba aaa,"ucap Lenka menyuapi Samuel.
Pria itu menerima dengan senang hati, entah kenapa makan dalam satu sendok yang sama membuat Sam merasakan makanan itu lebih enak terlebih makan nya bareng istri ye kan.
Sangat romantis hubungan mereka, untuk kali ini tidak ada nyamuk. Jika tidak seperti nya makanan yang di tawarkan pun tidak akan tertelan, Lenka dan Sam menghabiskan makanan itu bersama.
"Astaga kenyang, enak banget masakan suami ku, makasih sayang,"ucap Lenka mengecup pipi Samuel bertubi-tubi.
Samuel hanya bisa memejamkan mata nya dan tertawa kecil merasakan kecupan yang di berikan Lenka, pria itu membalas ciuman Lenka.
"Jadi apa kita bisa pulang sekarang?"tawar Sam kepada sang istri.
"Tentu ini sudah sore, mari kita pulang,"ucap Lenka membereskan kotak makan itu.
Kedua orang itu saling bergandengan tangan sepanjang perjalanan ke luar RS, Lenka terus berceloteh sedangkan Sam hanya bisa mengangguk menjadi pendengar yang baik untuk cerita istri nya yang selalu random itu.
"Dokter Lenka beruntung banget ga sih dapat suami kayak itu,"
"Iya awal nya aku kira mereka nikah paksa, gara suami nya kayak seram,"
"Iya tadi aja dia nganterin makanan buat dokter Lenka, nungguin di sana kayak bocah lucu banget,"
"Duh suami kayak dokter Lenka kayak nya udah soul out deh,"
Bisik bisik para perawat wanita dan dokter serta karyawan wanita yang ada di meja resepsionis itu memuji kedua pasangan sejoli yang sangat di mabuk asmara, entah itu pernikahan mereka masih muda atau tidak.
Ya, kita lihat saja sampai mana mereka mampu mempertahankan pernikahan itu.
Sore yang sudah menunjukan pukul empat membuat Sadam yang baru balik markas aeros merasa lelah, ya karena ulah siapa lagi kalau bukan Arbian yang meninggalkan pekerjaan nya mendadak itu.
"Pria itu,"gumam Sadam mengeleng.
Mobil sport pria itu berhenti di komplek perumahan mewah, Sadam memarkirkan mobil nya di rumah nya itu. Langkah besar nya memasuki rumah milik nya itu, Sadam melirik mama nya dan Rara yang sedang menonton televisi.
"Ma mana Gisel?"tanya Sadam heran mencari sosok sang istri yang tidak terlihat ikut berkumpul di sana.
"Mama sudah bangunin, tapi Gisel kayak nya cape banget dia sampai ga bisa bangun, yaudah mama selimutin aja kasihan,"ucap Adelia kepada sang anak.
Pria itu baru ingat jika Gisel tertidur tanpa dia pakai pakaian nya lagi, Sadam baru ngeh.
"Sadam apa kau melakukan nya sampai pagi, Gisel terlihat sangat lelah, lain kali jangan berlebihan yah,"tawa Adelia.
"Mama! Ada Rara, jangan bicara sembarangan,"malu Sadam berjalan cepat ke kamar nya.
Sedangkan yang di bicarakan hanya bisa cengo melihat kakak dan mama nya itu.
"Apanya sih ma?"tanya Rara heran.
"Bukan sayang, kamu pr nya udah di kerjain?"
Sadam melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kamar nya, dan benar saja ketika pria itu membuka pintu dia melihat sang istri yang masih dalam posisi tidur tengkurap.
"Apa itu tidak sakit terhimpit?"gumam Sadam menyingkap selimut itu tanpa berdosa.
Glek...
Sadam menelan saliva nya, pria itu kembali menyelimuti Gisel dan membangunkan istri nya itu dengan penuh kesabaran tingkat tinggi yang sangat tinggi.
"Gisel, bangun lah, sudah sore"ucap Sadam melakukan segala cara.
Dari mulai berteriak berbisik dan mengelitiki atau pun mengigit pipi gadis itu gemas karena diri nya yang tidak kunjung bangun, Sadam menghela nafas hanya ada satu cara, Sadam mengangkat tubuh Gisel dan membawa nya ke kamar mandi lalu seketika.
Byur..
Gadis itu sudah berada di kamar mandi dalam bath up nya, seketika Gisel terkejut dan langsung jreng karena merasa air yang mmebasahi nya.
"Eh astaha naga, kok aku bisa mandi perasaan tadi di dalam mimpi lagi main di atas awan,"ucap Gisel kaget.
Duk..
Sadam menjentikan kening gadis itu, bahkan mimpi nya seperti bocah, Sadam mengeleng.
"Nyonya indris sampai kapan kau akan tidur, beruntung lah mama mertua mu itu mama ku, jika seperti di novel yang kau baca, kau mungkin sudah di buang,"