
Lenka mendorong dengan lembut dada bidang Samuel, dia memberanikan diri menatap mata biru Samuel dengan tatapan kesal nya.
"Kenapa mengambilnya? Itu milik ku jika ingin kau boleh mengambil yang lain Sam,"protes Lenka dengan nada tidak suka.
"Kau tidak boleh meminumnya,"larang Samuel lalu meminum habis wine milik Lenka yang sudah di tuangkan ke gelas tadi.
"Memangnya kenapa?"tanya bingung Lenka.
"Kau akan mabuk Setelah menelannya,"jelas Samuel.
"Tapi Samuel kau baru saja meminumnya!!"ujar Lenka tidak mau kalah, dia juga mulai berani menatap sang pacar.
Glek..
Semua orang menelan ludah gusar, terlebih Samuel yang sedang menahan tangan Lenka, lalu pria itu menatap tajam Arbian seolah mengintrusikan.
"Ini salah mu,"
Kaki pria itu tampak bergetar, Arbian pura-pura mengunyah keripik kentang nya dan menatap apa pun agar tidak menatap tajam mata bos nya itu. Pria itu mulai menatap kembali sang kekasih dan mengatakan.
"Itu karena aku kuat minum,"bela Samuel.
Lenka mengembulkan pipinya kesal, pasalnya dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang kekasih itu.
Lenka tidak pernah di kenali dengan yang nama nya alkohol, bukan dia tidak tahu apa itu alkohol, tidak ada yang pernah menjelaskan nya sama sekali apa salah nya meminum alkohol, dan apa saja jenis dan bentuk alkhol.
Karena masalah ini atas ketidaktahuan nya yang malah membuat nya penasaran semakin menjadi tentang alkohol. Lenka menghadap menatap Arbian disamping Kanan nya.
"Arbian, bisa beri aku segelas lagi, cepat?!" Pintanya dengan wajah polos nan menggemaskan.
Seketika Samuel membuat ekspresi kesal mendengar nada panggilan Lenka yang seolah-olah Arbian akan lebih mengizinkan nya, padahal pria itu bukan siapa-siapa saat ini, Arbian yang menjadi awal pertengkaran itu ketar ketir.
'Tolong jangan libatkan aku kakak ipar, aku masih belum ingin mati muda,' batin Arbian bingung harus menuruti siapa karena mereka sama-sama keras kepala.
Tiba-tiba semua orang merasa ada aura begitu dingin di ruangan mereka, semua orang itu melirik Samuel, seketika mereka merinding mendapati tatapan mematikan dari big bos mereka.
Samuel yang kian tidak mengizinkan nya dan malah beralih pandang membuat Lenka seketika tersenyum kecil. Lenka yang sangat penasaran dengan rasa dari wine itu berdiri dan mengambilnya dari meja tempat Arbian menuangkat botol wine itu.
Setelah dia dapat, gadis itu kembali duduk di sofa dan menatap senang botol di tangannya. Satu botol wine sudah berada ditangan mungil Lenka, dia mulai menuangkan nya namun lagi-lagi Samuel merebutnya.
"Aku melarang mu untuk meminumnya"ujar Sam mencegah kekasih nya, pria itu menatap Lenka datar.
Lenka hanya membalas menatap wajah datar didepannya dengan kesal, gadis itu kembali meraih botol wine lalu kembali menuangkan nya.
Dengan satu tangan nya mendorong dada Samuel agar pemuda itu tidak merebut kembali botol wine ditangannya.
Tingkah keduanya tak pernah teralih kan dari tatapan semua orang yang lain, bahkan semua orang diruangan itu juga memperhatikan kelakuan Samuel dan Lenka seperti remaja yang bertengkar.
Gisel seketika mulut nya tergangga melihat adegan saat pacar Lenka itu kini sedang memegang pinggang sahabat nya dengan posesif, ayolah mereka tidak tahu tempat bersikap romantis saat ini. Lenka terus mendorong-dorong dada yang bidang milik Sam agar tidak mengambil gelas nya lagi.
"Apa kita biarkan saja mereka seperti itu Sadam?"bisik Gisel yang mulai merasa Sam sudah sangat kesal.
Sadam menatap Gisel yang duduk di sudut apartemen sambil menjauh dari adegan pasangan itu, lalu mendekat kepada Gisel.
"biarkan saja,"jawab Sadam singkat.
Lenka kesal bukan main sekarang, gadis kurcaci itu meraih tangan Samuel, tangan yang selalu merebut wine nya, dengan cepat Lenka mengigit keras ibu jemari kekasih nya dengan kencang.
Samuel tak bergeming, bahkan pemuda itu tidak merasakan sakit sedikitpun, dia bahkan saat ini ingin tertawa melihat aksi imut gadisnya yang mencoba menyakitinya dengan mengigitnya.
"Sayang kau tahu sendiri kalau aku lebih sering mendapat luka tembakan, gigi kelinci mu ini tidak akan menyakiti ku,"bisik Samuel mengoda Lenka yang sudah sangat kesal.
Lenka melepaskan gigitan nya dari tangan Samuel dan mendongak menatap wajah datar Di depannya yang memberikan smirk andalan nya.
"Bisakah kau berhenti merebutnya dariku," tanya Lenka dengan melingkarkan tangannya di depan dada dan mengunakan ekspresi marah diwajahnya.
Bukannya takut, Samuel bahkan lebih ingin tertawa melihat keimutan gadisnya itu, apakah segitu nya Lenka ingin mencoba wine itu.
Lenka mengalihkan tatapannya kepada Samuel menampilkan wajah sangat imut guna meruntuhkan pertahanan sang pacar untuk tidak melarang nya meminum wine itu.
"Bisakah aku mencicipinya sedikit saja? Kumohon, warna cairan botol itu sangat menggodaku,"ucapnya berharap sambil menunjuk-nunjuk botol wine di depannya.
"Apa aku tidak lebih mengoda dari wine itu?"tanya Samuel datar.
Sontak pertanyaan itu seolah-olah menjadi drama bagi semua orang, Gisel serta Arbian yang lebih keras ingin menahan tawa mendengar pertanyaan Sam, tapi mereka memilih menahan nya saat tahu pria itu menatap mereka tajam.
"Kau memang mengoda, tapi aku lebih tergoda dengan wine itu saat ini,"gumam gadis itu mengerakan bibir nya sambil mengerutu.
Meski wajah Samuel datar-datar saja di depan Lenka saat ini, itu tidak membuat bahwa kini fikirannya akan tenang-tenang saja seperti wajahnya.
Samuel kini hanya menahan diri untuk tidak *****@* bibir manis Lenka di depannya, atau juga menahan diri untuk tidak menerkam gadis kecil nya saat ini.
Pria dewasa itu sudah sangat gatal ingin memakan hidup-hidup gadis di depan nya saat ini, hei Sam juga pria dewasa, Lenka sang pacar terlalu imut untuk diri nya.
"Kumohon Sam, aku berjanji hanya akan meminum sedikit!!"pinta Lenka lagi dengan mata berbinar-binar menunggu izin dari pria itu.
Samuel meraih botol wine anggur itu, dia lalu menuangkan nya ke gelas tanpa mengalihkan tatapannya dari Lenka.
Wajah nya begitu cantik, dia imut hingga rasanya ingin Samuel santap sekarang juga, apakah ini efek beberapa hari tidak melepas rindu dengan kekasih kurcaci nya itu, entahlah.
Sam meyodorkan nya, gelas kecil yang berisikan wine anggur di dalamnya, sekilas Samuel melihatnya, gadis nya begitu senang, dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya lalu mengambil gelas itu dari tangan Samuel.
Perlahan ujung gelas itu akan menyentuh bibir nya, Lenka mengulurkan lidah nya lalu menariknya kembali masuk ke mulutnya dan merasapi dengan Indra perasanya wine itu.
Seketika mata Indahnya membulat kagum, tanpa Lenka tahu apa yang akan terjadi berikutnya, gadis itu meneguk dengan sekali tegukan isi gelasnya.
Samuel bersyukur karena hanya mengisi gelas itu setengah wine saja, jika saja penuh dia yakin Lenka mungkin akan cepat mabuk.
Setelah meneguk habis wine anggur itu, Lenka sontak menjatuh kan keningnya di dada bidang kekasih nya.
"Sayang, kau baik-baik saja?"tanya Samuel dengan suara datar tapi terkesan sedikit ke khawatiran.
Tiba-tiba Lenka mendongkak kan kepala nya menatap Samuel bersinar begitu ceria dan kagum.
"Wow, enak sekali!!"girangnya dengan wajah merona.
Tunggu, Itu bukan wajah merona malu ataupun kekaguman, wajah itu lebih terlihat seperti merah karena mabuk!!
"Ck aku sudah memperingatkan mu kurcaci!"