SAMUEL

SAMUEL
BAB 125



Drt.. drt..


Ponsel Arbian bergetar menunjukan nama seseorang yang dia kenal, dengan sekali ketukan Arbian langsung mengangkat ponsel itu tanpa membuat orang yang menelpon menunggu.


"Malam big bos, apa ada perintah?"jawab Arbian tegas menyapa pria itu sambil menunduk walaupun Samuel tidak akan melihat nya.


"Arbian kau tahu kita di indonesia hanya sampai besok, jadi selesaikan semua informasi dan bawa beberapa orang yang sudah tim mu sergap, siaal aku benci di sini,"umpat Samuel mengerang kesal mengosok kepala nya.


"Sesuai perintah big bos, saya langsung ke markas?"tanya Arbian mematikan.


"YA MARKAS! KAU KIRA DI RUMAH MU HAH?!"kesal Samuel langsung mematikan ponsel nya.


Tut.. tut...


Sambungan telpon mereka langsung saja terputus, Arbian yang melihat panggilan itu sudah mati menghela nafas nya, Samuel pada masa ini masih pria yang penuh emosi dan gilaa di mata anak buah nya.


"Big bos sangat menyeramkan,"gumam Arbian mengeleng.


Pria itu bersiap langsung memakai setelan jas nya sudah seperti orang kantoran, dengan merapikan rambut nya sekilas Arbian merapikan penampilan nya yang memang sudah tampan sejak dalam kandungan itu.


Arbian melirik jam dinding yang menunjukan pukul 00.12 sudah sangat tengah malam, dan pasti nya dia bisa keluar rumah tanpa mendengar pertanyaan aneh dari sang adik.


Drap.. drap..


"Sebaiknya aku pamit kali ini saja, kami sudah lama tidak bertemu,"gumam Arbian berlalu masuk ke kamar sang adik.


Entah kenapa perasaan Arbian sama sekali tidak enak, jika biasa nya jika dia ada perintah tengah malam dia langsung pergi tanpa menimbulkan suara, tapi kali ini dia sangat ingin melihat Fika.


"Dear,,,, kau sudah tidur?"tanya Arbian membuka pintu itu pelan.


Cklek...


Suara pintu kamar Fika di buka perlahan, kamar yang bernuansa biru itu memang Arbian dekor untuk adik nya karena gadis itu sangat suka warna biru langit yang indah, dia berkata jika melihat langit diri nya akan bisa melihat orang tua mereka.


"Fik, Fika?"ucap Arbian yang terus memanggil adik nya itu.


Pria itu sedikit heran, jika pun gadis itu tertidur biasa nya jika di panggil Fika akan langsung menyahut, terlebih Fika bukan tipe gadis yang susah bangun saat tidur.


Bruk...


Arbian membuka selimut itu berharap Fika berbaring di kasur single size nya itu, tapi tidak ada seseorang di sana sama sekali, Arbian awal nya masih bisa tenang. Dia pergi melangkah kan kaki nya masuk ke kamar mandi tapi kosong.


Dapur, walk in closet, kamar, rooftof. Tidak ada siapa pun baru lah pria itu panik sekarang, hingga akhirnya dia mengingat jika Fika meminta izin untuk pergi.


"Tidak mungkin kan Fika nekat pergi? Dia sangat jarang membantah ku,"gumam Arbian yang sudah panik mengusap wajah nya kasar.


Fika adalah satu-satu nya harapan Arbian hidup, pria itu sama sekali tidak tahu jika sang adik menghilang seperti ini, tentu dia sangat panik.


Dengan langkah kaki besar nya Arbian keluar rumah dan menutup pagar pria itu melihat jalanan yang sepi, dia linglung berharap Fika hanya keluar sebentar.


"Nak Sadam udah pulang yah?"tanya tetangga Sadam yang sedang duduk santai di depan rumah dengan suami nya.


"Ibuk apa kabar, iya baru balik kemarin,"sapa Arbian ramah.


"Iyah toh, neng Fika juga tadi bilang sih, bibi cuman basa basi aja haha,"tawa wanita paruh baya itu tersenyum.


'Fika?'


Seketika pria itu mendongkak kan wajah nya mendengar nama Fika, tanpa basa basi Arbian langsung saja bertanya.


"Eh iya tadi teh jam 10 an kalau ga salah mah, kata nya neng Fika pengen belanja keluar, emang belum balik?"ucap wanita itu yang juga heran.


"Ga kok buk, makasih yah, Arbian mau pergi dulu bentar,"ucap Arbian pamit dan menyalakan mobil nya.


Pria itu tentu saja tidak mengatakan masalah nya kepada sembarang orang, ayolah mulut tetangga itu sangat parah kalian tahu bukan, jika cerita nya A malah jadi B. Memang konsep nya tetangga maha benar.


Drt.. drt..


Arbian terus menelpon ponsel adik nya, tapi tidak ada yang menyaut, Arbian tidak menyerah dan menelpon terus menerus hingga akhirnya ponsel itu terangkat.


"Eh hp siapa nih nyala ga sengaja ke pencet sama gua Ce!"teriak seorang pria.


"Goblook matiin itu ponsel siapa!"teriak gadis itu panik.


"Ha--,"


Belum sempat Arbian menyahut, ponsel itu sudah di matikan. Arbian sangat mengenal suara dentuman musik yang keras itu, dia tahu sangat tahu di mana tempat itu.


"Fik, kenapa nekat banget sih kamu,"gumam Arbian sudah panik.


Saat Arbian tengah panik mencari adik nya telpon masuk kembali berdering, panggilan itu langsung datang dari big bos nya, Arbian tahu Samuel pasti sudah menunggu kedatangan nya yang menjadi tiang divisi tim pengejar.


"Big bos maaf tapi s--,"


"5 MENIT ARBIAN, JIKA TIDAK TAMAT RIWAYAT MU,"tegas Samuel dengan tajam.


Bruk...


Arbian memukul setir nya kasar, tunggu? Dia sama sekali tidak tahu di mana klub itu, dia bisa meminta Sadam melacak nya, keputusan terbaik saat ini dia harus ke markas aeros.


Tidak lama perjalanan Arbian, mobil pria itu langsung berhenti anak buah nya di tim divisi sudah menunggu di ruang rapat para petinggi hingga akhirnya sebuah pukulan melayang tepat saat Arbian masuk.


Bugh...


"Sstt, big bos,"ringis Arbian memegang sudut bibir nya yang sobek karena pukulan Samuel yang tanpa belas kasihan.


"Aku sudah mengatakan hanya 5 menit,"bisik Samuel tajam.


"Kau kira pekerjaan kita main-main Arbian!"tegas Samuel tajam.


Pri itu terdiam inilah resiko bekerja di aeros, mereka semua harus siapa 24 jam di perintah atau pun mengerjakan misi.


"Big bos, Fika menghilang,"lirih Arbian menunduk.


Samuel yang tadi nya marah seketika memutat badan nya menatap ke arah Arbian yang masih terduduk di lantai dan tidak mau berdiri.


"Dia hanya menghilang, mungkin pergi dengan teman nya, adik mu sudah besar Bian,"tegas Sam.


"Big bos, bisakah saya meminta bantuan Sadam? Hanya kali ini, perasaan saya benar-benar mengatakan ini adalah hal buruk,"ucap Arbian dengan suara bergetar.


"Kau tahu aku juga lemah jika masalah keluarga, kita undur ke pulangan ke italia. Sadam lacak lokasi Fika, dan Arbian apa kau sudah menghubungi adik mu?"tanya Samuel.


"Sudah dan itu tersambung, tapi langsung di matikan, sungguh ini aneh,"gumam Arbian.


"Dan itu hal mudah untuk Sadam, kau lacak koordinat sinyal nya Sadam, kau harus berperan penting untuan Bian kali ini,"