
Samuel terlihat menatap tajam bos divisi informan itu kesal, bagaimana dia bisa mengeluarkan Sadam yang briliant. Semua orang tahu kalau kondisi Sadam tidak baik-baik saja kali ini
"Tidak apa-apa, kau fokus saja dengan kesembuhan istri mu Sadam, kami kesini bukan memaksa mu kembali, kami juga turut bersedih dan hanya berusaha memperbaiki suasana, mama mu dan Rara juga sedih melihat kau yang seperti ini,"ujar Samuel menepuk bahu Sadam itu.
"Terimakasih big bos, dan Arbian kau atur itu bersama Megan,"ujar Sadan beralih menatap Sadam sahabat dekat nya itu.
"Ck aku malas berurusan dengan wanita itu, tapi demi Gisel akan aku lakukan,"tutur Arbian mengiyakan perkataan sahabat nya itu.
"Dia benar Sadam, bos Arbian sangat sering bertengkar di markas hari ini, aku sangat pusing,"ujar pria pendek wakil tim divisi pengejar itu menatap sang atasan nya.
"Tapi demi aku kau bisa, atau lebih baik aku yang angkat kaki dari aeros,"jelas Sadam yang menatap teman nya itu tajam.
"Ya ya jangan menatap ku seperti itu,"ucap Arbian.
Beberapa lama merek berbincang agar Sadam juga tidak terlalu stress dan sore pun datang akhirnya semua orang berpamitan untuk pulang, begitu pun dengan Rara dan mama Sadam. Sebenar nya Rara tetap ingin tinggal untuk menjaga kakak ipar nya tetapi sang kakak bersikeras dia akan bisa mengatasi itu sendiri, dengan terpaksa semua orang pulang dan meninggal kan Sadam sendiri yang menjaga sang istri.
Dalam kesendirian nya itu, Sadam menatap dalam wajah cantik istri nya, dia mengelus pipi gadis yang biasa nya sangat cerewat dan tidak pernah berhenti berbicara kepada nya itu.
"Pertama kali aku bertemu dengan mu itu di mana ya? Ah aku ingat saat kau bersama nona Lenka, kau tahu? Aku pertama kali bertemu dengan mu sudah mengakui jika kau cantik, tapi makin lama aku mengenal aku mulai mengetahui sikap mu yang plin plan, bodoh dan lemot. Tapi,"
Sadam mengantung ucapan nya itu lalu mengusap wajah sang istri.
"Semakin aku mengetahui semua tentang mu, semakin aku penasaran tentang diri mu. Semakin aku mengali kehidupan mu satu persatu luka mu kembali hadir karena diri ku, maafkan aku yang seperti ini,"
"Aku tidak bermaksud hadir sebagai luka, tapi aku ingin hadir sebagai obat di saat kau terluka, aku ingin kau membutuhkan ku,"
"Ahaha siaal orang-orang benar cinta itu buta, saat aku pertama mengenal kriteria ku sama sekali tidak ada pada mu Gisel. Tapi aku akui, cuman kau yang mampu membuat aku merasakan segala perasaan sedih, marah, cemburu, cinta dan semua nya,"
"Aku mencintaimu, jadi tolong dengarkan,"ujar Sadam tersenyum sendu menatap wajah istri nya yang terlihat sangat pucat itu.
Tidak terasa pria yang bersifat dingin, kejam dan Arrogant itu mengeluar kan air mata nya, dia sangat sedih sampai air mata yang dia tahan tidak dapat terbendung lagi, tangisan pria itu terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
Hiks hiks
Tidak pernah sekali pun Sadam menangisi suatu hal, dari kecil hingga dewasa Sasam merasa dia bisa melakukan apa yang dia mau dan memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain karen kepintaran nya, Sadam tidak pernah cemburu dan mengambil paksa apa yang di miliki orang lain karena dia tahu, dia bisa memiliki apa pun yang dia mau.
"Dari dulu aku tidak pernah egois untuk memaksa papa kembali ke sisi ku, aku selalu berusaha menutupi kesedihan ku menjadi pria satu-satu nya, tapi kali ini tolong bangun lah dan jadi lah tempat untuk ku mengadu,"ujar Sadam mengengam tangan Gis dengan gemetar dan air mata yang sudah tidak dapat di kondisi kan lagi.
Saat kehilangan papa yang paling dia cintai pun, Sadam tidak menangis dia hanya bisa emosi dan berusaha menjadi kepala rumah yang baik untuk mama dan adik nya, tidak pernah sekali pun air mata nya runtuh dari pertahanan nya. Tapi kali ini berbeda dengan mudah nya gadis kecil yang dulu dia anggap bukan cinta nya membuat nya dengan mudah menetes kan air mata.
"Sayang bangun lah, aku bersalah sudah meninggalkan mu dan anak kita,"
"Sayang jika kau bangun kau pukul saja aku,"
"Kau marahi aku, kau cekik aku apa pun itu agar emosi hilang,"
"Tapi jangan pernah mengatakan kau akan pergi meninggalkan ku karena kesalahan ini,"
Tiada henti nya Sadam terus mengajak istri nya itu untuk berbicara, seolah dia merasa bahwasan nya gadis itu juga membalas ucapan nya.
Waktu terus berjalan hari demi hari terus berganti, tepat satu minggu hari setelah di tetap kan bahwasan nya Gisel koma, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda bahwasan nya gadis itu akan segera bangun dari tidur nya.
"Sayang bangun lah sampai kapan kau akan tidur,"ujar Sadam mengelus tangan istri nya.
Saat ini di ruangan itu ada mama Sadam, Rara, Lenka dan Agalista yang juga datang berkunjung. Mama Sadam yang melihat anak nya sudah beberapa hari selalu seperti itu sangat sedih dengan keadaan nya yang kini juga tidak kian membaik.
"Sadam pergi lah mandi,"ujar wanita paruh baya itu menepuk bahu anak nya itu.
"Tidak usah ma, aku malas,"ujar Sadam yang masih terus menatap Gis dan tidak pernah mengalih kan pandangan nya sedikit pun.
"Kakak ayolah mandi, aku juga sedih dengan kakak ipar. Tapi setidaknya bangun dan mandi, jika kau bau bagaimana kakak ipar akan meninggalkan mu karena kau jelek!"ujar Rara yang berusaha mencair kan suasana agar sang kakam nya itu bisa tersenyum.
Tetapi Sadam tidak menanggapi sama sekali hal itu, dia hanya diam kembali dengan pikiran nya yang tidak di ketahui terus menatap istri nya.
"Setidak nya makan, makanan mu!"kesal mama Sadam kepada Sadam mengacuh kan nya.
"Aku tidak nafsu makan ma,"ujar Sadam lagi-lagi pria itu menolak perintah mama nya itu dengan sekali perkataan.
"Sadam!"teriak mama Sadam kesal.
Pria itu yang merasa selalu di suruh ini itu padahal dia hanya ingin tenang dengan menjaga istri nya pun berdiri dari duduk nya dan menatap sang mama dan ingin melontarkan kata-kata, tapi sebelum itu terjadi sebuah tangan kurus kering mengapai telapak tangan Sadam dengan lemah dari belakang, usapan lembut terasa.
"Suami jangan memarahi mama? Kenapa kau selalu sangat mudah emosi seperti itu,"
Bersambung...