
"Apa maksud dengan senyuman mu itu hah?"teriak Aiden membiarkan Gisel yang berdiri di tengah mereka sambil memisahkan kedua pria itu.
Sadam terlihat menyeringai pelan atas apa yang di lakukan Aiden, hal itu tidak dapat di pahami oleh Aiden sehingga membuat pria itu kesal setengah mati.
"Kau tahu? Aku yang akan menjaga istri ku,"
"Dia?"
Ucap Sadam mengantung kalimat nya sambil bertanya, lalu mendorong kuat dada Aiden menjauh, membuat pria itu mundur beberapa langkah. Tangan kekar Sadam menarik pinggang Gisel ke dalam pelukan nya lalu berkata sambil tersenyum.
"Milikku, bukan milik mu,"
Gisel yang menerima tarikan itu membuat nya oleng menghantam dada bidang Sadam, gadis itu mendongkak kan kepala nya ke atas melihat ekspresi sang suami yang seperti tersenyum mengejek ke arah Aiden.
"Apa Sadam cemburu kepada Aiden?"bisik Lenka kepada Samuel.
"Diamlah sayang, itu bukan urusan kita. Apa kita pulang dan memproduksi penerus saja?"tanya Samuel tersenyum nakal.
Lenka yang mendengar itu seketika memasang wajah kesal bisa-bisa nya suami nya itu berkata hal tidak senonoh dan berbisik saat ada masalah di depan mata mereka.
"Suttt diam atau aku potong milik mu,"kesal Lenka kepada sang suami yang sudah merubah raut wajah nya cemberut.
Semua orang terdiam, sedangkan Aiden? Dia tentu marah, bisa-bisa nya pria di depan nya ini mengklaim adik nya sebagai milik nya, dengan cara dia mendapatkan dan menikahi Gisel karena hal tidak baik.
"Gisel!"tegas Aiden.
"Kak, Aku,"gumam Gisel saat ingin mendekati Aiden.
Lengan mungil Gisel di tahan Sadam, tatapan mata pria itu sangat tajam kepada sang istri membuat langkah Gisel berhenti dan mengurung kan niat nya untuk menunggu.
"Kau tahu? Dia lebih baik bersama ku,"
"Kau tega meninggalkan adik mu di tengah keluarga toxic kalian?"
"Istri ku di perlakukan seperti pembantu dan sampah di rumah itu, kau tidak tahu bukan?"
"Keluarga kalian menginjak harga diri nya,"
"Dimana otak kalian, hewan pun tahu di mana tempat untuk mereka tinggali,"ejek Sadam tajam mengatakan itu.
Perkataan Sadam menohok hati Aiden, pria itu seketika terdiam dia tidak bisa menyangkal itu semua. Dia tahu kalau Gisel di perlakukan beda di rumah mereka, tapi Aiden sudah berusaha semampu yang dia bisa kepada keluarga nya agar tidak memperlakukan adik nya seburuk itu.
Tapi itu hanya ekspetasi belaka, omongan Aiden hanya seperti angin lalu. Standar keluarga Kristine terlalu tinggi untuk Gisel yang memang tidak pintar, tapi gadis itu bisa memasak. Memasak? Keluarga itu tidak peduli tentang memasak, mereka hanya melihat pekerjaan latar dan nilai akademis.
"Istri mu? Ah kalian sudah menikah,"gumam Aiden mengangguk.
"Aku pulang, jaga istri mu. Neraka? Kau benar, rumah ku adalah tempat neraka dunia kami,"tajam Aiden kepada Sadam.
"Si@lan,"umpat Aiden pergi berjalan keluar menahan segala emosi nya.
Sedangkan Sadam? Dia merasa menang atas itu semua, tidak ada satu pun kata yang keluar di mulut Sadam tanpa ada fakta nya, itu adalah sebuah kenyataan yang logis dan pernah dia tahu.
"Aiden!"teriak mama Gisel mengejar putra nya.
"Mama tunggu aku,"teriak Zoya yang ketakutan kepada papa nya yang seperti nya juga marah.
"Gisel papa pulang dan kau Sadam dengarkan kata Aiden, dia istri mu!"tegas Elbarack keluar ruangan itu.
Keluarga Kristine pergi dari rumah itu, entah kenapa walaupun keluarga nya sering menjatuhkan harga diri nya, Gisel masih tetap saja sedih melihat semua keluarga nya pergi dan meninggalkan nya di sini.
"Mau kemana?"tanya Sadam melihat Gisel yang akan melangkah kan kaki nya keluar dari rumah.
"Rumah mu di sini sekarang,"jawab Sadam datar.
Gadis itu sekali baru sadar, benar. Rumah ini sekarang adalah tempat tinggal nya, dia harus mengikuti kemana suami nya tinggal bukan, tapi seperti nya Gisel belum terbiasa akan hal itu.
"Bisakah aku pulang hari ini,"rengek Gisel dengan panik mengingat sang kakak yang marah kepada nya.
"Tidak!"jawab Sadam tegas.
Astaga kedua orang itu seperti sedang bermain film saja, lihat lah mereka sama sekali tidak mempedulikan jika semua orang mulai malas melihat drama suami istri baru itu, mereka satu persatu mulai tampak mengobrol atau pun mengambil minuman.
"Lah kok ngotot sih?"kesal Gisel mulai terpancing karena Sadam terlalu mengatur nya.
"Karena aku suami mu,"jawab pria itu kembali.
"Iya suami!"teriak Arbian yang sedang duduk bersama Kevin dan yang lain nya itu.
Kalian tahu semua orang ada di sana tapi mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing takut nya kalau melihat kedua orang itu bertengkar mereka malah bukan tertawa tapi iri dengki.
"Diam kau Bian!"kesal Sadam menatap sang sahabat.
"Tapi Gisel boleh pulang kan, lagi pula di sana juga rumah Gisel, benarkan mama?"tanya Gisel meminta persetujuan Adelia.
"Be--,"
Belum sempat Adelia menjawab, sebuah tangan kekar merangkul dan mengendong tubuh Gisel. membuat gadis itu kaget mengalungkan tangan nya ke leher Sadam yang mengendong nya ala bridle style.
"Tidak ada acara penting lagi di sini, kalian bisa pulang,"jawab Sadam yang masih mengendong Gisel.
Gadis itu memberontak mengerakan kaki nya membuat Sadam kesal, Gisel sesekali memukul dada pria itu untuk menurunkan nya.
"Lepaskan aku! Aku mau pulang,"teriak Gisel.
"Tuan rumah macam apa mengusir setelah kami menjadi saksi pernikahan nya,"ketus Arbian melempar sebuah bantal yang di hindari Sadam.
Pria itu tidak menjawab sama sekali perkataan Arbian, dia melirik mama nya yang tadi malah mengizinkan Gisel pulang.
"Dan mama jangan manjakan Gisel, karena dia menantu mu, gadis ini bisa manja,"ucap Sadam setelah mengatakan itu pergi ke kamar nya membawa Gisel.
Sedangkan Rara yang mendengar itu seketika melongo sejak kapan kakak nya itu peduli dengan masalah orang lain, dan acara apa ini. Hanya karena mereka sudah sah acara selesai, yah memang tidak akan ada resepsi juga sih.
"Wah langsung ninggalin parah,"teriak Rara kepada sang kakak.
Bruk..
Pintu kamar Sadam tertutup, pria itu menurunkan tubuh sang istri ke kasur dengan cara melepaskan gendonga nya. Membuat Gisel meringis karena pinggul nya menghempas kasur.
"Ponsel mu,"jawab Sadam menampungkan tangan nya.
"Lah kok banyak mau nya sih kak,"kesal Gisel kepada pria itu.
"Kak, Kak, Kak, Kak. Kau kira aku pengajar pramuka hah? Jangan panggil aku kakak,"kesal Sadam mengambil ponsel Gisel yang dia pegang.
"Hp ku, ya terus apa!!!"
......................
Jangan lupa vote nya kakak:)