SAMUEL

SAMUEL
BAB 137



"Tidak mau, mau nya cium kakak yang itu,"rengek Alisa mengembung kan wajah nya layak nya anak kecil.


Jika yang mengikuti pertembuhan Alisa dari novel Kekasih polos CEO pasti akan merasa gadis itu dari kecil tidak berubah sama sekali, manja dan selalu merengek jika di depan mommy dan daddy nya.


"Kau ini, sudah berapa umur mu hah?"tanya Arbian kesal menahan pinggang gadis itu agar tidak memaksa agar gadis itu berdiri dan mencium sembarang pria.


"Ini dua, ini tiga,"ucap Alisa lucu mengarahkan jari nya di depan wajah Arbian.


Pria itu mengeleng, ayolah umur 23 tahun apa belum membuat Alisa merasa sudah dewasa. Tapi kadang sebuah kebenaran terasa jika orang tua masih memberikan kasih sayang maka kita selalu merasa menjadi seperti anak kecil.


"23 tahun? Lah serius? Gua kira dia bocah SMP Bian,"ucap teman-teman Arbian menatap gadis itu.


"Umur segitu juga masih muda, kayak kalian masih muda aja. Ingat! Umur kalian sudah 30 tahunan,"sindir Arbian kepada teman-teman nya.


"Umur boleh tua, tapi wajah tetap tampan,"ucap salah satu teman Arbian pamer mengosok rambut nya ke belakang dengan pamer.


Seketika semua orang tertawa termasuk juga Arbian, tapi perkataan teman nya memang ada benar nya umur boleh tua jiwa tetap muda and wajah plus nya sih, itu sebuah keberuntungan bagi Arbian.


"Ih jangan tertawa kalian berisik!"kesal Alisa menutup mulut Arbian dengan telapak tangan mungil nya.


Pria itu langsung terdiam akibat bungkaman pada mulut nya oleh Alisa, semua orang seketika tertawa. Ya siapa yang berani membuat seorang Arbian terdiam, seperti nya cuman Alisa ya maksud nya di kalangan club itu kalau di aeros beda lagi.


Seketika perempat sikut muncul di kening Bian pria itu merasa kesal dan mengigit kecil tangan Alisa yang menutup mulut nya.


"Arghh... sakit hik,"ucap Alisa sesekali sesegukan dan memayunkan bibir nya.


"Siapa suruh kau nakal?"tanya Arbian menatap tajam gadis itu.


"Alisa tidak nakal lagi janji, tapi mau cium dulu kakak itu, ya boleh yang tampan itu,"ujar Alisa menujuk teman Arbian yang tadi.


"Sudah tidak waras, teman-teman aku pulang dulu, semua nya sudah ku bayar,"ucap Arbian merubah posisi Alisa yang duduk mengangkang menjadi mengendong nya ala bridle style itu.


Semua orang terlihat kecewa karena hiburan yang mereka tonton sudah mulai pergi, teman Arbian yang di tunjuk Alisa tadi seketika berdiri.


"Sini gua cium dulu adik lu Bian,"canda pria itu.


"Ya urusan nya bukan cuman gua tapi juga sama keluarga Arnolda,"ketus Arbian melengang pergi dari sana memasang raut wajah kesal.


Gadis itu terus merengek mengoyangkan kaki nya di dalam pelukan Arbian, dia terlihat memukul dada bidang pria itu perlahan meminta turun dari gendongan nya.


Bugh... bugh..


"Kak Bian! Mau cium kakak itu, mau cium,"rengek Alisa memukul Arbian.


Pria itu mendengus kesal, posisi mereka masih di tengah-tengah club malam dan tempat orang berjoget. Laurent yang tadi nya sedang melayani pengunjung yang lain seketika menaikan alis nya menatap gadis yang tadi dia lihat seperti anak SMP bersama dengan Arbian?


"Lah itu kan bocah yang tadi?"gumam Laurent dengan heran menatap kedua orang itu.


Arbian berusaha menenangkan pikiran nya terlebih suara musik yang keras dan Alisa yang terus merengek, pria itu seketika mengecup pelan bibir Alisa yang ada di dalam pelukan nya.


Cup...


"Sudah kan? Jadi diam!"ketus Arbian kepada Alisa.


"Ih gamau lagi pokok nya!"kesal Alisa mengatup pipi pria itu bersiap mencium Arbian.


Tapi sebelum itu terjadi Arbian sudah menjatuhkan Alisa ke lantai membuat gadis itu meringis kesakitan karena ulah nya yang sangat tiba-tiba, bersamaan itu juga Laurent datang.


Bruk..


"Hik sakit, Alisa kan hik. Mau cium kak Arbian,"ucap gadis itu mengusap bokoong nya yang terasa sakit.


Tapi bukan nya menjawab rengekan Alisa, Arbian malah perhatian nya teralihkan oleh seseorang wanita yang tiba-tiba memegang tangan nya dari samping.


"Bian, kamu ngapain?"tanya Laurent menatap pria itu.


Arbian yang di pegang seketika menghempaskan tangan nya kasar melihat gadis sexy yang menjadi primadona di club malam itu karena harga nya yang tinggi, tapi Arbian tidak seperti orang lain dia sangat jarang melakukan hal itu dan hanya banyak melakukan acara minum-minum.


"Apa lagi? Aku sudah bilang aku sedang tidak mood, kau bisa melayani pria lain yang banyak uang bukan,"kesal Arbian kepada Laurent yang malah memaksa nya.


"Kenapa? Kau jarang kesini loh, aku kan sudah bilang gratis kok, aku merindukan mu,"bisik wanita itu mengoda berusaha membangkitan libido keprian Arbian.


"Diam, sebelum aku menembak mu jaalang,"umpat Arbian.


Ck...


Wanita itu berdecak kesal ketika Arbian mulai mencengkram tangan nya kasar dan itu meninggalkan bekas yang juga rasa nya sedikit menyakitkan.


"Kenapa kau seperti ini? Apa karena gadis yang kau bawa, hoh kau ternyata suka daun muda?"ejek wanita itu kepada Arbian.


Arbian yang mendengar kata gadis seketika memutar wajah nya mencari Alisa yang tadi dia jatuhkan, tidak ada? Gadis itu tidak ada di bawah kaki atau di samping dan belakang nya.


"Siaal ini gara-gara kau, di mana dia,"ketus Arbian mengalihkan semua pandangan nya ke seluruh ruangan itu.


Sahutan demi bisikan terdengar di telinga Arbian, semua pria terlihat memuji seseorang yang sedang menari dan meliuk liukan badan seksi nya menggunakan dresa tidur tipis itu di tengah-tengah ruangan.


Mata Arbian membelalak kaget, dia mendengus kesal. Lagi-lagi Alisa menjadi tatapan para pria hidung belang yang memiliki nafsu tinggi. Arbian melewati pria yang mengelilingi gadis itu dengan cara mendorong nya kuat.


Bruk..


"Awas, jaga mata mu, atau aku putuskan saraf itu dari bola mata mu,"kesal Arbian mendorong pria yang tadi melihat tajam Alisa.


"Wah bro emang kau kenal dengan gadis itu? Kau palingan juga ingin mengajak nya bukan, antri!"kesal pria itu.


"Antri, kau antri saja dengan pelayan di sini, baajingan, jangan sentuh gadis itu atau kalian yang akan menjadi sasaran ku!"


Dor...


Sebuah tembakan melayang tepat mengenai lampu diskotik, membuat semua orang seketika terdiam kaget begitu dengan Laurent yang merasa iri karena Arbian. Pria itu melewati semua orang dan mengendong Alisa.


"Kau ini sungguh nakal Alisa Arnolda!"