SAMUEL

SAMUEL
BAB 126



Setelah mendengar semua perintah Samuel, gerakan dan perintah di ubah demi Arbian. Pria itu selalu mengabdi dan bekerja bagus pada aeros, melibatkan aeros dalam hal seperti ini juga bukan masalah besar bagi Sam.


"Dapat, ini lokasi nya ada di klub, Arbian apa adik mu kau izinkan pergi ke sana?"tanya Sadam heran.


"Siaal aku tahu ini perasaan buruk,"bisik Arbian langsung melihat komputer Sadam dan bergegas pergi mengambil mobil nya.


"Ck pria boodoh itu, kita harus turun tangan ini masalah Arbian, kita semua keluarga di sini,"ucap Samuel berjalan keluar ruangan.


"Perintah di mengerti bos!"ucap bawahan aeros serempak.


Mobil Arbian memimpin, sedangkan mobil hitam lain nya dengan banyak nya mengikuti dari belakang, Sadam di dalam mobil masih fokus dengan cctv yang ada di ruangan itu.


"Ini Fika? Aku paling tidak suka club malam ini, mereka tidak memasang vidio cctv di mana pun,"gumam Sadam melacak cara lain.


Samuel dan Kevin dalam satu mobil yang sama hanya terdiam, Kevin melirik Samuel yang padahal juga sebenarnya sangat panik.


"Anda baik baik saja bos? Apa serangan panik anda kambuh,"tanya Kevin beruntun.


"Tidak, tapi semoga Arbian tidak mengalami apa yang aku alami, entah kenapa perasaan seseorang kadang adalah pertanda,"gumam Samuel.


10 menit waktu jarak tempuh yang lama bagi Arbian yang tidak sabar ingin memarahi adik nya itu karena tidak menurut, tapi perasan nya lebih jelas ketakutan saat ini.


Brak...


Pintu mobil Arbian di tutup dia melihat tim aeros yang banyak juga datang, Samuel yang keluar terlihat mengangguk dan Arbian mendekati nya.


"Arbian suruh semua tim pengejar kepung club ini, jangan sampai ada yang keluar sebelum kita menyelesaikan urusan kita, dan Sadam bagaimana?"tanya Samuel.


"Aku melihat nya hanya ada satu kamera yang jauh dari lorong club ini, bukan hal baik tapi aku melihat pria membawa adik mu ke kamar ini,"tunjuk Sadam pada vidio yang buram.


"Fika,"gumam Arbian siap pergi masuk ke dalam club malam itu.


Arbian dengan wajah dan aura membunuh nya masuk dengan kesal, bagaimana pun dia adalah ketua tim pengejar yah ahli. Siapa pun bisa dia habiskan dengan mudah, Samuel dan Sadam mengikuti langkah Arbian.


Sedangkan Kevin tetap di luar mengantikan Samuel memerintah tim aeros yang ada di sana, di sisi lain seorang pria dan wanita tampak panik.


"Woi gilaa kalian buang sampah malam-malam gini rajin banget,"teriak seorang yang lewat.


"Bangsaat berisik lu,"teriak pria itu yang menentang seperti kantung sampah, wajah nya sudah berkucuran keringat.


Hingga derap langkah kaki pengunjung club dan suara musik yang di matikan membuat kedua orang itu sangat heran.


"Woi apa nih, baru asik juga!"


"Masih tengah malam kok udah mati,"


Teriak para pengunjung yang ada di sana tidak terima kepada DJ yang ada di atas punggung, hingga bisikan demi bisikan terdengar.


"Anjiir bukan nya itu tato tim aeros mafia terbesar di eropa bukan cuy,"


"Wah gua kira mereka cuman bikin cerita karangan,"


"Kok banyak mafia sih, malah seram, kita kan cuman joget,"


"Kau tahu kami? Ini kartu nama ku, kau lihat club ini memiliki hutang pada aeros,"ucap Samuel mengancam pemilik club itu yang tiba-tiba datang ingin memarahi si pengacau.


"Tu tu tuan Sam, apa kabar,"gugup pria itu menunduk hormat.


"Hmm itu mu lumayan banyak, organ tubuh mu saja tidak akan mampu membayar hutang mu jika aku mengeluarkan nya satu persatu, jadi tetap diam di tempat,"bisik Samuel mengancam.


"Sadam yang mana pria itu?"tanya Arbian kepada Sadam yang melihat capture yang dia ambil dari vidio itu.


Sadam berusaha mengzoom nya dan memperjelas gambar itu, mereka bertiga berjalan menyusuri para gadis wanita malam yang seksii dan juga para pemabuk yang sudah tepar satu persatu.


"Weee kok mafia ganteng sih, mereka beneran itu aeros,"


"Diam anjiing nanti kita di siksa baru tahu rasa,"


Bisik para wanita yang tergoda melihat para ketiga pria tampan itu berjalan menatap semua orang bergantian, tapi di sisi lain seorang pria yang memegang kantung itu tampak panik.


"Ce gimana nih? Kok bisa-bisa nya ada aeros di sini, situasi kita kan juga genting,"bisik pria itu.


"Mana gua tahu dah,"ucap Cece yang menepis tangan pria itu.


Pria itu yang nekat berjalan melewati 3 para aeros itu, dia seolah mengatakan ingin membuang sampah dengan pakaian serapi itu, padahal dia bukan petugas.


Arbian awal nya terlihat santai hingga akhir nya sebuah kalung terjatuh dari kantung celana itu, kalung yang Samuel berikan satu persatu untuk para anggota aeros.


"Kalung itu? Dia orang nya!"teriak Sadam yang baru menyadari nya juga.


Seketika pria itu tentu panik, untuk apa tim aeros menargetkan nya perasaan dia tidak pernah berbuat salah dengan mafia, hingga akhirnya sebuah pukulan telak membuat pria itu tersungkur.


Bruk...


"Dimana adik ku siaalan!"teriak Arbian tajam memegang kerah pria itu.


Bersamaan dengan Arbian yang mendorong pria itu, kantung sampah yang dia pegang juga terjatuh. Saat Arbian berkata seperti itu dengan serempak adik wanita yang berteriak histeris.


"Kyaaa mayat!"teriak wanita itu kaget.


Seketika mata semua orang mengarah pada kantung itu, Arbian yang tadi nya fokus seketika mata nya melebar melihat gadis yang sudah pucat pasi dengan memar di leher nya.


"Fi fi Fika?""gumam Arbian teecekat.


Sontak Sadam dan Samuel tentu sama terkejut nya, Arbian langsung memeluk tubuh polos adik nya itu dengan memar yang banyak, pria itu menangis berteriak dan mengarang mengabaikan diri nya yang menjadi totonan.


"Dia tidak bernafas bos,"balas Sadam yang mengecek denyut nadi adik Arbian dan memberitahu nya kepada Samuel.


Sam seketika mata nya melebar, pria yang tadi nya tersungkur sudah memasang wajah ketakutan setengah mati, Samuel tanpa ampun langsung memukul pria itu habis-habisan hanya dengan tangan kosong Sam membuat wajah pria itu hancur di tangan nya dengan daraaah yang terus mengalir.


Semua orang ketakutan atas kejadian itu, mereka baru saja melihat bagaimana seseorang di bunuh tanpa belas kasihan.


"Bajingaan seperti lebih baik aku antarkan ke neraka sekali!"ucap Samuel terus memukuli pria yang tidak bernyawa itu merasa kesal.


"Fika jangan tinggalkan kakak, kenapa tuhan begitu kejam kepada ku? Kenapa?"