
Beberapa hari sudah berlalu
Hari ini adalah hari pertama Gisel kembali menginjakan kaki nya di rumah suami nya itu, gadis itu masih di atas kursi roda karena Sadam yang melarang nya untuk berjalan dahulu, ya seperti sekarang ini saja.
"Kak aku turun aja yah, kan jadi susah dorong nya,"ucap Gisel melihat suami nya yang berusaha menaikan kursi roda itu ke tangga untuk masuk ke pintu utama.
"Ck aku bilang jangan ya jangan, aku tidak ingin kau terluka sayang. Tetap duduk dan biarkan aku yang bekerja,"tegas Sadam menatap tajam istri nya.
Sedangkan kedua orang yang ada di belakang hanya saling pandang dan terkekeh, ya mereka memang merasakan atsmosfer yang berbeda. Sadam jauh lebih perhatian kepada Gisel, begitu pun Gisel yang lebih menurut saat ini.
"Apa aku harus mencari pacar juga? Aku lelah melihat keromantisan kakak kakak ku,"ucap Rara sambil memeluk tas yang berisi pakaian bersih Gisel yang mereka kemas dari RS.
"Tutup mulut mu, tidak ada pacaran sebelum kau kuliah."ucap Sadam tajam.
"Hah kak kuliah? Minimal SMA sih, mama saja tidak melarang toh sekarang aku juga punya pacar heh,"ketus Rara kepada sang kakak.
"Apa kau mendengar ku? Tidak tetap tidak, benarkan sayang,"ucap Sadam yang sudah berhasil menaikan kursi roda itu dan mendorong nya ke dalam rumah mereka.
"Aku tidak tahu kak, itu keputusan mu."ucap Gisel tersenyum manis.
Sadam seketika berhenti mendorong kursi roda itu membuat Gisel terkejut karena itu memang mendadak, dan kedua wanita yang mnegekor tadi merasa heran menatap Sadam yang memberi pandang datar kepada Gisel.
"Apa kenapa? Ada sesuatu yang tertinggal?"tanya Rara bingung kepada sang kakak.
Cup...
"Tidak, senyum istri ku membuat ku terenyah, kau mengemaskan. Ayo kita makan dulu,"ucap Sadam mengecup bibir gadis itu sekilas dan kembali mendorong kursi roda nya ke meja makan.
Blush...
Gisel yang mendapat kecupan mendadak itu seketika pipi nya memerah merasa malu, bagaimana dia tidak malu jika suami nya saja memperlakukan nya itu di depan orang tua mereka sendiri.
"Ih kak Sadam maaaaa,"teriak Rara menutup mata nya.
"Aku lupa ada anak di bawah umur, jangan di contoh ya adik ku,"ucap Sadam terkekeh melihat Rara yang menutup mata nya malu.
"Telat kak, itu udah nyontohin!"teriak Rara kesal kepada sang kakak.
Mama Sadam yang melihat putra sulung nya itu tertawa membuat tersenyum, pasal nya Sadam sangat jarang tertawa semenjak kematian sang ayah. Terlebih Sadam yang berusaha mengimbangi di umur nya yang kala itu belas tahun harus menjadi kepala keluarga yang baik untuk ibu dan adik perempuan nya.
Membuat Sadam lebih paham bagaimana seharus nya bersikap, dia tidak pernah memikirkan apa pun secara tidak terliti. Disiplin dan mandiri, tapi sekarang pria yang jarang tertawa itu akhirnya kembali seperti umurnya belasan tahun dulu bisa tertawa lepas.
"Aku merindukan mu mas, aku yakin kemana pun kau pergi meninggalkan kita. Tapi kehilangan mu mungkin adalah skenario terbaik yang di rencanakan tuhan,"bisik mama Sadam di sela-sela senyum menatap sang anak dan menantu.
Mereka semua akhirnya memutuskan untuk makan siang terlebih saat ini Gisel baru balik dan mereka belum makan siang, kali ini yang memasak adalah mama Sadam tercinta.
"Kak Sadam kok jemput aku? Aku kira tadi bakal di jemput mama sama Rara doang. Emang ga kerja?"tanya Gisel yang hanya duduk sambil di suapi Sadam.
"Tidak,"jawab pria itu singkat.
"Ya itu karena ada urusan mendadak, tapi sekarang yang lebih penting kau bukan pekerjaan ku."ucap Sadam mengusap bibir gadis itu yang ada remah makanan.
Gisel mengangguk tanda mengerti oleh perkataan sang suami, dia tersenyum kepada Sadam yang juga tersenyum pada nya.
"Halah lebih penting apa? Orang kak Sadam kerja nya cuman bentar. Kemarin itu lama kan mau bersihin kamar biar kak Gisel pulang ny--,"
Belum selesai Rara mengatakan rahasia sang kakak sebuah tatapan tajam sudah di layangkan kepada sang pemilik suara, membuat Rara meneguk saliva nya dengan kasar.
Gluk...
"Apa kau bisa diam?"ucap Sadam kesal.
"Ekhem aku bercanda aku diam, kak Gisel lupakan anggap aku tidak bicara apa pun,"ucap Rara mengatakan itu dengan polos nya dan memakan makanan nya secepat kilat.
Mama Sadam terkekeh mendengar itu, tapi itu ada benar nya. Saat diri nya ingin membersihkan kamar milik kedua orang itu yang sudah di tinggal lumayan lama agar sang anak dan menantu nyaman saat tadi lagi.
Dia mendapati kamar itu sudah bersih dan yang lebih penting Sadam sudah mengantung foto pernikahan nya dengan Gisel. Baju wanita itu yang tersusun rapi dan baru, membuat mama Sadam saja takjub.
"Jangan malu, sayang istri bukan sebuah dosa."ucap mama Sadam mengatakan itu.
"Ya tapi ma-,"
"Benarkah? Apa aku boleh membeli boneka panda dan meletakan nya di kasur kita?"tanya Gisel antusias.
"Ekhem aku sudah membelikan nya untuk mu, kalau aku pulang lama dan kau tidur sendiri peluk saja boneka itu. Tapi jika aku sudah pulang, aku akan melempar nya ke bawah,"ucap Sadam dengan suara pelan malu-malu kucing.
Gadis itu yang mendengar penuturan sang suami tersenyum lebar dia memeluk Sadam yang duduk di samping nya, dan mengecup pipi pria itu beberapa kali.
"Kenapa pipi kak Sadam memerah? Kak Gisel hanya mencium mu di pipi apalagi di bibir, aku pastikan kak Sadam langsung mleyot,"ucap Rara terkekeh melihat sang kakak yang malu itu.
"Aku tidak malu, emang sedikit panas."kesal Sadam meneriaki Rara yang terus mentertawai nya.
Mereka tertawa dengan bahagia, tidak lama setelah makan pun. Sadam mengantarkan sang istri ke kamar nya, ya karena Sadam bilang Gisel harus tidur siang yang teratur agar jauh lekas pulih.
"Tidurlah aku tunggu sampai kau tidur,"ucap Sadam yang ikut berbaring di samping sang istri.
"Tapi aku ingin memeluk panda nya bukan kak Sadam,"ucap gadis itu.
"Hanya kali ini,"ucap Sadam mengambil boneka besar itu dan memberikan nya kepada sang istri.
Pria itu terus mengusap rambut Gisel yang sudah mulai terlelap, tidak lama akhirnya sang istri tertidur. Sadam yang memang tidak bisa tidur memutuskan keluar kamar untuk mencek pekerjaan agar tidak menganggu sang istri.
Tapi saat Sadam sedang duduk di ruang keluarga, mama Sadam mendekat kepada sang anak.
"Kau sudah memberitahu nya?"