SAMUEL

SAMUEL
BAB 48



Lenka yang merasakan pergerakan itu, seketika membuka mata nya, hal pertama yang dia lihat adalah Samuel yang sedang mengendong nya menatap tajam ke depan, pria itu yang tersadar Lenka terbangun seketika mengarahkan pandangan nya kepada gadis itu.


"Kau sudah bangun babe,"tanya Samuel menghentikan langkah di bagian ruang tamu apartemen.


Gadis itu seketika kaget dan meminta turun dari gendongan Samuel, tentu pria itu menurunkan nya perlahan.


"Sam are you ok? Kening mu mengeluarkan darah, duduk!"perintah Lenka dengan wajah panik mencari kotak p3k di laci ruangan itu berjalan kesana kesini.


Pandangan nya seketika tertuju pada ruang tempat mereka itu duduk sangat berantakan, barang pecah di mana-mana serta pecahan kaca yang berserakan yang mungkin saja melukai kaki jika tidak berhati-hati.


Yang lebih parah adalah ceceran darah yang mampu membuat Lenka yang memegang kotak P3K itu seketika mual, dan menjatuhkan kotak nya..


Bruk..


"Hoek,, darah,"gumam Lenka menutup mulutnya dan memegang perut nya yang terasa di aduk merasa tidak tahan.


Jika ada yang bertanya kenapa Lenka yang seorang dokter takut darah, jawaban nya bukan takut, tapi Lenka lebih kepada mual yang melihat ada satu mayat yang kepala nya sudah tidak berbentuk dan darah mengucur deras dari kepala nya.


"Sayang kau tidak apa-apa,"ujar Samuel kaget memapah tubuh mungil itu.


"Bawa aku pergi Sam, aku tidak tahan,"ucap Lenka lemah mengeleng tidak mau melihat ke arah mayat yang tergeletak parah itu.


Bau amis memenuhi apartemen Samuel, Arbian yang sedang menetralisir keadaan itu seketika melihat nona Lenka mereka yang muntah-muntah itu, sungguh miris keadaan mayat itu.


"Baiklah, ayo pergi, biarkan Arbian menyelesaikan sisa nya,"ucap Samuel kepada yang lain nya itu.


Pria itu kembali mengendong Lenka ala bridle style, gadis itu terus memeluk kotak p3k yang dia bawa sambil menutup mata nya, mereka turun menyusuri apartemen yang sepi, di sana banyak para anggota aeros yang membersihkan ruangan utama dan lobi.


"Selamat malam big bos,"sapa mereka serempak, semua orang itu tampak memakai jas hitam dan peralatan yang terhubung seperti earphone di telinga mereka.


"Pastikan kerja kalian benar,"ancam Samuel dengan tajam.


Mereka mengangguk tanda mengerti, Samuel masuk ke dalam mobil yang di kendarai Kevin dan Agalista yang berada di depan nya.


"Gisel mana,"tanya Lenka mencari sahabat nya itu.


"Dia di sana, Sadam sudah mengambil mobil dan akan mengantar nya pulang, kau tidak bisa tinggal di apartemen sementara waktu, sebaiknya kau pindah kembali ke mansion utama,"jelas Samuel kepada sang kekasih yang duduk di samping nya itu.


"Baiklah Sam,"gumam Lenka.


Pria itu sedikit khawatir karena Lenka lebih banyak diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya, Samuel sangat paham wanita nya itu pasti masih sangat terguncang atas kejadian yang dia lihat dan rasakan.


"Kevin kita ke mansion tuan william, kita langsung laporkan,"perintah Samuel kepada Kevin.


"Baik bos,"balas Kevin menjalankan mobil nya.


Agalista yang duduk di samping Kevin, melirik Lenka yang tampak terdiam seribu bahasa tanpa mau bicara, biasanya gadis itu selalu ceria.


"Kev, apa Lenka baik-baik saja?"tanya Agalista pelan kepada pria itu.


Pria itu tidak menjawab sama sekali dia hanya melirik Lenka yang duduk terdiam dan menjalankan mobil nya menuju mansion utama william.


'Seperti nya nona Lenka sedikit shock, tapi aku yakin nona pasti bisa mengatasi nya karena dia tahu kelemahan nya sendiri,' batin Kevin.


"Bos, ayo,"teriak pria berjas hitam dan berkacamata hitam itu meneriaki Sadam yang baru turun dari mobil itu.


Mobil sport hitam yang terparkir di seberang jalan itu adalah mobil Sadam yang di kendarai oleh bawahan nya di tim informasi, tanpa sepatah kata pun Sadam berjalan meninggalkan Gisel yang berdiam diri mematung.


Grep..


"Sadam, nama mu Sadam bukan,"lirih Gisel menahan ujung kemeja putih Sadam dengan jari nya layak nya anak kecil.


Pria itu berhenti dan membalikan badan nya lalu menatap gadis yang memakai kacamata bulat dan rambut di kepang itu menunduk berbicara kepada nya.


"Iya,"jawab Sadam cuek dengan wajah datar nya.


"Anu Sadam boleh kah aku bertanya?"


"Mmm kenapa tadi di apartemen kak Samuel bisa ada penjahat seperti itu, apa Lenka akan baik-baik saja,"


"Aku tahu Daddy pernah berkata semakin tinggi posisi mu semakin tinggi tekanan nya, apa Lenka yang menjadi incaran penjahat itu?"


"Apa dia akan baik-baik saja,"


"Sadam jawablah kenapa kau hanya diam, dan ti--,"


Belum sempat Gisel melanjutkan perkataan nya, pria itu sudah menutup mulut Gisel dengan tangan besar nya kuat, merasa kesal karena gadis itu tidak terus berhenti bertanya dan mengoceh.


"Shut up, bagaimana aku bisa menjawab mu, jika kau terus mengoceh seperti itu nona,"ucap Sadam mendengus kesal melepaskan tutupan tangan nya pada mulut Gisel.


"Ah ma ma maafkan aku Sadam,"ujar Gisel menunduk dan berbicara dengan takut menatap pria tampan bertato itu.


"Aku akan menjawab karena kau teman nona Lenka, tapi sebaiknya jangan sebarkan ini nona Gisel atau nyawa mu yang akan kami ambil,"


"Ini adalah rahasia keluarga, penjahat itu memang mengincar keluarga william tapi target yang lebih utama mereka adalah tuan Samuel, jadi tenanglah kami akan menjaga nona Lenka dengan nyawa kami sendiri, karena itu sudah tugas kami, dan selesai, aku pergi,"jelas Sadam memutar badan nya menjauh dari depan pagar rumah Gisel.


"Sa sa sadam terimakasih sudah mengantar ku,"teriak Gisel menunduk.


"Gisel kemana saja kau hah!"teriak seorang wanita yang datang menghampiri Gisel dan menarik gadis itu kuat ke dalam rumah mereka.


Gadis itu tersenyum kecil melihat Sadam yang menatap nya datar.


"Bisa-bisa nya dia tersenyum saat wanita tua itu memperlakukan nya seperti itu,"gumam Sadam dengan heran dan masuk ke dalam mobil.


"Kita selesaikan perintas big bos malam ini,"ucap Samuel menginformasikan anggota nya yang lain lewat earphone yang ada di telinga.


"Sesuai perintah bos!"balas mereka serempak.


Mobil Sadam pergi menjauh, sementara itu mobil yang di tumpangi Samuel dan Lenka sampai di mansion william sekitar pukul 8 malam mungkin itu dua jam setelah pertarungan aeros dengan darkness.


"Kau bisa?"tanya Samuel memapah gadis itu yang berjalan lunglai.


Rere yang melihat kedatangan empat orang itu seketika kaget melihat Samuel yang memapah Lenka, tapi posisi nya yang terluka di sini adalah Samuel.


"Ada apa dengan kalian?!"