
Plak…
Lukas yang mendengar penuturan sang adik seketika menepuk jidat nya dengan kesal, ayolah Lenka sangat lemot dalam hal ini apakah dia patut di katakan dokter psikolog terpintar Argh Lukas sedikit ragu tentang itu.
“Kenapa sih?”tanya Lenka lagi dengan bingung mengaruk belakang kepala nya dengan heran.
Suasana terlihat tegang di kamar Lukas itu, Rere selalu saja mampu membangun suasana yang membuat bulu kuduk merinding karena ketegasan nya wanita paruh baya itu seketika memutar mata nya malas dan keluar kamar Lukas sambil membanting pintu dengan keras.
Bruk...
"Ingat Lukas mau tidak mau kau tetap akan mommy antarkan ke desa,"tegas Rere bersahutan dengan pintu yang tertutup keras.
Lenka, dan Lukas yang mendengar pintu yang tertutup itu seketika terkejut dan menghela nafas mereka bersamaan kekompokan si kembar yang sudah dewasa saja masih terlihat mereka berdua mengelus dada sambil melirik pintu kamar Lukas.
"Huft selalu saja tidak pernah berubah selalu saja memasang wajah marah itu menyeramkan,"gumam Lenka.
"Jika kau tahu itu seharus nya kau membantu ku tadi Lenka ananda William!"tegas Lukas dengan kesal.
"Morgan,"jawab Samuel yang tadi hanya diam melihat drama itu.
"Iya maksud ku Morgan,"jawab Lukas masih sempat sempat nyaenjawab pertanyaan Samuel yang memotong pembicaraan nya mengeroksi nama belakang sang adik yang salah.
"Ya aku tidak tahu apa maksud mu tadi aku kira kau tadi kemasukan lalat mata nya,"jawab Lenka dengan polos nya.
"Astaga Lenka ananda William!!"teriak Lukas dengan tegas sambil menekan nama sang adik dengan jelas.
"Morgan,"jawab Samuel kembali.
"Baik maksud ku itu,"jawab Lukas menghela nafas.
Ayolah seperti nya diri nya akan gila jika terus berlama lama di sini di antara dua sepasang kekasih dunia yang membuat nya tambah pusing dengan urusan pribadi dan masalah kejombloan nya itu.
"Sudah kalian keluar saja aku ingin lanjut mengemasi koper ku sana, ini kamar ku,"jawab Lukas dengan suara pelan.
Pria itu terlihat sudah sangat lelah dengan segala sesuatu yang dia terima hari ini, nada suara nya saja sudah sangat pasrah kali ini, Lenka yang tidak tahu menahu itu hanya menaikan bahu nya dengan gaya bingung nya.
"Hmm sudah lah aku tidak mengerti, ayo sayang kita ke kamar,"jawab Lenka menarik sang suami.
"Sayang sayang, kenapa mommy memboleh kan membawa seorang pria ke kamar sedang aku tidak,"jawab Lukas dengan nada pertanyaan yang bodoh nya.
Damn it ayolah pertanyaan aneh seperti apa itu bagaimana dia bisa mengatakan itu, sudah jelas dua hal itu sangat berbeda. Lenka terlihat menepuk kening nya dengan bingung dan mendekat kepada sang kakak lalu berjinjit sambil mengetuk kening Lukas dengan cukup keras.
"Tuan Lukas william pikir dengan otak mu kami pasangan sah, sedangkan kau tidak, kalau mau menikah saja! Atau kau mau aku cari kan gadis yang lebih muda agar hidup ku lebih fresh!"jawab Lenka dengan kesal.
“Lebih muda apa? Umur ku juga masih muda masih 21 tahun aku tidak akan menikah sampai menemukan pasangan yang tidak lemot bodoh kekanakan cengeng apalagi yang lebih muda aku lebih suka wanita dewasa!”kesa Lukas menjawab sang adik dengan lantang.
Brak…
Pintu kamar Lukas kembali tertutup dengan kasar Lenka dan Samuel beriringan keluar dari kamar mereka membuat pria itu panas karena kemesraan yang tiada mereka hentikan untuk bertebaran cukup mommy dan daddy nya saja di tambah Lenka sang adik sekarang.
“Dih amit amit jika aku mendapatkan mendamping hidup seperti itu, haha mikir apa aku? Untuk apa aku jatuh cinta dengan seorang gadis yang aku sumpahi bakal tidak ingin bertemu menatap nya saja sudah membuat ku merinding,”jawab Lukas mengingat perkataan Lenka yang mendoakan hal yang sebalik nya untuk diri nya.
“Dari pada aku memikirkan itu lebih baik aku memikir kan apakah besok aku bisa bertahan hidup sebulan mulai besok di desa,”gumam Lukas kembali menyusun koper nya.
Sedangkan Lenka dan Samuel yang keluar dari kamar tadi terlihat mengejek Lukas lebih tepat nya Lenka yang terus mengoceh mengatakan ini itu kepada suami nya sedang kan Samuel? Tentu saja dia selalu menjadi pendengar yang baik untuk sang istri.
“Haha aku menyumpahi hal itu membuat nya marah.”
“Apa kau tahu sayang jika itu benar terjadi aku akan tertawa paling keras di depan wajah Lukas,”
“Sok banget mengatai hal yang seperti jtu,”
Lenka terus saja mengoceh sampai masuk ke dalam kamar mereka. Samuel terlihat membantu sang istri membuka tas gadis itu dan meletakan nya di tempat yang semesti nya.
“Sayang baju ini ternyata sangat panas aku sambil gerah,”jawab Lenka mengibaskan rambut panjang nya.
Samuel yang memang tipe pria tanpa banyak basa basi pun menarik lembut tangan sang istri lalu mendudukkan Lenka di depan meja rias, pria itu terlihat dengan lembut menyisir rambut sang istri.
“Apa kau akan mengingat kan rambut ku?”tanya Lenka menatap Samuel dari atas.
“Huum jangan menatap ke atas mata mu bisa sakit lihat ke bawah aku akan merapikan nya agar kau tidak kepanasan sayang,”jawab Samuel mengatakan itu.
Lenka menurut dan tersenyum menatap pantulan diri nya dan Samuel di depan cermin, jika orang lain bertanya apa anugerah terindah setelah memiliki keluarga hebat seperti keluarga? Mungkin dia akan menjawab yaitu menjadi pendamping hidup Samuel Morgan yang keras dan dingin.
Pria itu yang memang tidak kenal ampun dan bersifat kejam bisa di taklukan oleh seorang Lenka ananda William yang sudah berganti nama menjadi Morgan. Lenka tersenyum kecil menatap setiap lekuk wajah sang suami.
Dari bulu mata dan alis nya yang panjang leher serta bahu lebar itu membuat nya malu mau sendiri, astaga apakah boleh dia bertanya jika Samuel benar benar suami nya.
“Sudah,”jawab Samuel menyelesaikan ikatan rambut Lenka dengan pelan dan hati hati agar sang istri tidak sakit.
Lenka menatap hasil ikatan Samuel yang terbilang sedikit acak a akan yang menunjukkan jika dia untuk pertama kali nya dan belum berpengalaman tentang seorang gadis tapi hal itu membuat Lenka senang dan tahu kalau Samuel melakukan hal itu pertama kali dengan diri nya bukan orang lain.
“Terimakasih,”jawab Lenka menatap suami nya yang tampan dengan dalam.
“Mmm sayang apa kau suami ku?“Tanya Lenka dengan polos.
“Pftt pertanyaan bodoh apa itu? Tentu untuk selama nya sayang,”