SAMUEL

SAMUEL
BAB 59



Sesudah acara penghargaan di berikan, Lenka gadis itu sangat gembira atas kepulangan kekasih nya yang mendadak datang, tapi karena ini hari spesial nya dia mengundang teman nya untuk minum.


Drt.. drt...


"Gisel kau di mana?"tanya Lenka kepada sahabat nya itu.


"Halo Lenka, aku sedang di apartemen kakak ku,"jelas Gisel dengan suara menguap karena mengantuk.


Wajah Lenka seketika berbinar seperti nya dia malam ini bisa menginap di rumah Gisel, karena Lenka sangat bosan harus tidur sendiri di kamar nya.


"Apa orang tua mu membolehkan?"tanya Lenka dengan semangat.


"Iyah, itu karena keluarga ku dari China berkunjung, jadi mereka menyuruh ku sementara waktu tinggal di apartemen,"gumam Gisel sendu.


Gisel memang tidak pernah di akui oleh keluarga nya, dia selalu mendapat perbandingan dengan kakak nya yang cantik bisa membeli baju ini itu, serta kepintaran kakak nya yang mampu berkuliah di luar negri, gadis itu di katakan dia sangat lemah dalam pelajaran, maka dari itu orang tua nya mengatakan "Lebih baik aib di tutupi dari pada pamerkan,"


"Jangan bersedih, malam ini kita makan-makan aku akan menemani mu di apartemen ok,"jelas Lenka langsung mematikan ponsel nya.


"Tap--,"


Tut... tut..


Telpon terputus gadis itu tersenyum senang, dia menatap Samuel yang juga tampak sudah menyelesaikan perbincangan nya melalui telepon, pria itu memang selalu sibuk.


"Kau sudah selesai? Ayo aku antar pulang,"ujar Sam bersiap masuk ke mobil.


"Antarnya ke apartemen Gisel yah, soal nya aku mau party di sana, apa kau mau bergabung tidak asik sih party berdua, kau juga ikut kan kak Kevin? Oiya Arbian, sama Sadam juga, andai kak Agalista juga ada pasti seru,"sendu gadis itu dengan mata yang berair ingin menangis.


Kevin yang berdiri di belakang Samuel itu hanya diam memasang raut wajah datar ketika nama Agalista di ucapkan oleh Lenka.


"Tidak, party apa party kalau cuman makan makan besok pagi saja,"jelas Samuel bersiap menarik tangan Lenka.


"Semenjak kak Aga pergi teman ku hilang satu, padahal dia mengisi kecerian ku, tapi sekarang kau melarang ku untuk bertemu dengan teman ku satu-satu nya, sungguh ironis sekali hi--,"


Belum selesai Lenka berbicara, Samuel yang mulai sakit kepala mendengar ocehan sang pacar mulai kesal.


"Ya ya boleh, aku akan menemani mu,"jelas Samuel mengalah.


"Wah bagus dong, ajak mereka juga biar ramai, kalau kau tidak mau aku akan ajak teman pria Gisel,"jelas Lenka dengan cepat memotong sebelum Samuel menjawab.


Lihatlah apakah nada sedih tadi hanya akting? Gadis itu yang bilang sedih di tinggalkan Agalista sekarang berubah jadi gembira ketika Samuel mengizinkan nya, tapi jujur Lenka benar adanya jika dia sedih di tinggalkan Aga, karena gadis itu sangat merasa cocok dalam bicara dengan Aga.


Bruk..


Lenka menutup punti mobil dan sudah stay masuk, dia mengeluarkan kepala nya yang melihat sang pacar malah memijit pelipis nya seperti orang menahan kesal.


"Sayang cepat, atau aku akan pergi sendiri,"teriak Lenka mengeluarkan kepala nya di jendela mobil.


Huft...


"Sabar bos, kakak ipar seperti nya ingin merayakan keberhasilan nya,"ujar Arbian menepuk bahu sang bos.


"Kurcaci ini membuat ku kesal, untung dia pacar ku,"gumam Samuel sabar dan masuk ke dalam mobil.


'Benar-benar merepotkan ya bos,' geleng Sadam yang ingin tertawa melihat bos nya yang sangat sayang kepada sang pacar dan memilih ikut walaupun pekerjaan mereka akan di tunda.


Dua mobil mewah bewarna merah dan silver menembus jalanan ibu kota menuju sebuah apartemen mewah, Lenka dengan girang membawa kantung cemilan dengan bersenandung ria di ikuti beberapa pria di belakang nya, dan satu pria di samping nya yang sudah jelas itu adalah Sam sang pacar.


"Be ber berhenti di sana, apa kalian ingin tawuran?"tanya salah satu satpam paruh baya dengan gugup.


Hanya para pria yang di hentikan, karena Lenka terlihat seperti manusia suci tanpa dosa dengan wajah manis nya, satpam itu meragukan kalau Lenka sedang di culik, gadis itu ikut berhenti dan berbalik.


"Pak kami ingin ke apartemen teman ku, jangan takut mereka baik kok,"jelas Lenka dengan senyum malaikat nya menepuk bahu sang bapak satpam yang memasang wajah ketakutan.


"No nona anda jangan berakting, kalau anda sedang di culik akui saja, tidak apa-apa bapak akan menyelamatkan nona,"gugup pria paruh baya itu.


Tap.. tap..


Samuel yang mendengar itu dengan tampang datar dan sangar nya mendekati satpam yang kaki nya sudah bergetar hebat karena ketakutan.


"Kau sungguh mulia, tapi seperti yang pacar ku bilang kami ingin mengunjungi apartemen teman nya, jadi bisa kami lewat?"tanya Samuel menduduk menyamakan tinggi nya dengan satpam pria yang lebih pendek.


"Ba baik silahkan, silahkan,"ujar satpam itu menyerah.


Sebagai pria asli eropa Samuel memang memiliki tinggi sesuai dengan standar di sana, dan perawakan yang sungguh tegas membuat siapa pun takut, bagaimana satpam itu tidak takut ketika melihat pria berjas itu datang berombong seperti ingin membuat kekacaun, dan juga ada dari mereka memiliki tato, sungguh sangat melambangkan seorang gangster.


"Haha big bos, apa anda tidak bisa bicara lebih santai, pria tua itu sampai bergetar,"tawa Arbian dengan keras melewati lorong apartemen itu sambil menenteng cemilan milik Lenka tadi.


"Benar, bisakah kau sedikit tersenyum, aku kasihan apa bapak itu kecipirit gara-gara melihat wajah mu yang seperti itu, kalau aku sih sudah biasa,"jelas Lenka yang menyetujui perkataan Arbian.


"Kau tahu, senyum ku hanya milik mu, jadi aku tidak akan memberikan nya kepada mereka yang lain,"ujar Samuel dengan suara datar nya dan merangkul pinggang sang gadis.


Sedangkan bawahan Samuel yang sedang berada di belakang kedua pasangan itu hanya saling membatin dan telepati.


'Hoek bucin akut, wajah nya sangat tidak cocok mengombal benar kan Sadam?'


'Entahlah cinta memang membuat gil@,'


'Menurut anda bagaimana wakil?'


'Terserah,'


Begitulah mereka saling telepati melirik satu sama lain seolah-olah sangat memahami apa yang mereka bicarakan saat ini.


"Jangan membicarakan ku,"ketus Samuel.


Glek..


Arbian menelan ludah nya gusar, bisa-bisa nya bos nya ini tahu, apakah dia seorang cenayang, membuat Arbian harus berhati hati jika mengunjingkan sang bos.


Mereka sampai di pintu apartemen Gisel, dan Lenka mengetuk nya pelan.


Tok.. tok..


"Gisel ini aku,"teriak Lenka.


"Iya aku datang,"balas Gisel membuka pintu.


Cklek..


Pintu terbuka menampilkan Gisel yang tidak memakai kacamata dan rambut nya yang biasanya di kepang di gerai, mata nya bertemu dengan mata Sadam yang menatap nya dalam.


'Cantik,'