
Sudah beberapa hari Samuel di rawat di rumah sakit, pria itu sudah tidak betah berlama-lama lagi di RS karena dia tidak menyukai bau obat. Samuel terus merengek kepada Lenka kalau dia sudah benar-benar sehat dan ingin segera kembali ke indonesia bersama Lenka, ocehan pria itu membuat Lenka lelah dan akhirnya Samuel menang untuk segera pulang.
Sekarang mereka sedang ada di mansion Alferoz sekedar berbincang sebelum pulang ke tanah air, Lenka terlihat lebih bahagia sekarang, wajah nya yang pucat sudah berganti dengan pipi merah muda karena Samuel terus mengoda nya di depan keluarga Alferoz.
"Jadi setelah kami menentukan tanggal pernikahan, kalian datanglah semua nya tanpa terkecuali,"jelas Samuel kepada Reno.
"Jangan berlagak dengan bicara mu, pernikahan bukan lah permainan Sam,"jelas Reno kepada sepupu nya itu.
"Ayolah, aku sudah 32 tahun kau masih menganggap ku bocah di mata mu,"ketus Samuel menatap Reno jengah.
Memang semenjak kedua orang tua Reno meninggal, keluarga besar Alferoz sudah sangat menitipkan Samuel kepada Reno. Entah kenapa pria itu merasa Samuel tetap bocah yang datang pertama kali ke mansion dengan keadaan setelah kejadian dulu itu.
"Aku tahu, aku mengizinkan mu. Walaupun kau bukan sepupu kandung ku, tetap lah sering kesini ketika kalian sudah menikah. Karena Alferoz juga adalah rumah mu,"ucap Reno dengan tatapan tegas nya.
Lenka terlihat mengusap tangan Samuel agar pria itu bisa lebih sopan kepada Reno. Lenka memang tahu Sam bicara seperti itu bukan karena tidak menyukai Reno tapi dia hanya merasa lebih akrab dengan cara nya sendiri.
"Baiklah, aku kesini dan membawa anak kami nanti,"ujar Samuel bangga.
Duk...
Dari belakang tiba-tiba seseorang datang mengetuk kepala Samuel yang berbicara seperti itu, membuat Sam meringis dan mendongkak kan kepala nya.
"Al kepala ku, dasar kau wanita kejam. Aku kasihan bagaimana putra mu menerima perlakuan kalian,"jelas Samuel.
"Lain kali bicara yang benar, pikirkan saja pernikahan nya dulu, langsung gas punya anak. Kebelet banget sih,"ketus Alice kepada pria itu.
"Ya,"jawab Samuel kesal.
"Lenka aku tidak menyangka kau akan menikah dengan Sam, apa kau ingat saat keluarga william berliburan kemari waktu kau masih dalam gendongan Sam."
"Dia membelikan mu boneka yang kau inginkan, kau seperti adik nya tapi sekarang dia malah menikahi mu,"
"Apakah ini yang dinamakan merawat jodoh dari kecil lalu menikahi nya saat dewasa, kakak ipar itu seperti drakor yang kita tonton bukan?"ujar Alice dengan heboh nya.
Kedua orang itu saling berbincang, memang kalau sudah soal oppa oppa korea mereka tidak akan berhenti dan tidak ingat umur.
'Aku tidak ingat, tapi jika itu pernah terjadi bukan kah Sam seperti seorang pedo,' batin Lenka melirik kekasih nya yang duduk di samping diri nya itu.
Samuel yang di lirik, kembali melirik kembali Lenka dan memberikan senyum manis nya, membuat Lenka malah tertawa.
'Tapi tetap saja dia seperti bocah,' batin Lenka mengeleng melihat senyuman itu membuat Samuel heran.
Lama perbincang di mansion Alferoz itu hingga akhirnya mereka pamit, pesawat pribadi milik keluarga william sudah menanti di lapangan bandara mini di mansion Alferoz, kali ini mereka kembali bersama Kevin, Arbian dan Sadam.
"Sayang apa aku harus membeli pesawat pribadi untuk keluarga kita juga?"tanya Samuel saat Lenka tengah menikmati pemandangan lewat kaca pesawat itu.
Lenka melirik Sam dan tersenyum, gadis itu menjatuhkan pelukan nya di dada bidang Samuel.
"Jangan terburu-buru Sam, kita bangun dulu saja kebahagian kita,"ujar Lenka.
"Baiklah, aku akan menuruti mu saja,"ucap Samuel mengecup kening Lenka.
Saat mereka sudah sampai di mansion william, Lenka memutuskan untuk langsung masuk dan mengajak yang lain nya hal pertama yang dia lihat adalah keluarga dan teman nya.
"Sam kau sudah baik-baik saja!"teriak Agalista senang melihat Samuel yang berjalan bersama Lenka.
Wanita itu berdiri dan ingin memberikan pelukan selamat hanya sekedar pelukan pertemanan tapi seseorang menarik telinga Agalista yang melewati nya.
"Akh Kev sakit!"teriak Aga kepada pria itu.
"Jangan memeluk Sam, kau tahu Lenka orang nya sangat cemburuan, kau bisa mendapatkan dendam tujuh turunan atas itu,"ejek Kevin menarik tangan Agalista menjauh dan duduk di kursi lain.
Sedangkan Gisel yang juga datang memeluk sahabat nya itu yang sudah lama tidak berjumpa, Gisel tersenyum bahagia akhirnya Lenka kembali menjadi gadis yang penuh senyuman di mana pun dia berada.
"Mom, Dad,"ucap Lenka menyapa kedua orang tua nya dan yang lain nya.
Setelah sekedar menyapa mereka mulai berbincang serius tentang pernikahan, di mulai Samuel yang membuka obrolan.
"Tuan aku dan Lenka ak-,"
Perkataan Samuel terputus karena Varo terlebih dahulu angkat bicara dari pada Samuel, membuat Lenka merasa daddy nya itu akan marah.
"Jangan menjelaskan nya lagi, aku sudah tahu,"
"Kami hanya menyetujui nya, soal pernikahan kalian yang akan mengurus nya,"
"Daddy, mommy dan kakak mu hanya memberi restu kepada kalian,"
"Jangan tunda hal baik, lebih cepat lebih baik, karena daddy mau punya cucu,"ucap Varo malu-malu mengatakan itu sambil mengusap pipi nya.
Rere terlihat tersenyum lucu kepada suami nya itu, sebuah lampu hijau yang sangat cepat membuat Samuel tersenyum senang.
"Kevin urus semua urusan pernikahan ku,"ucap Samuel.
"Baik tuan,"ujar Kevin kepada pria itu.
Semua keluarga william terlihat bergembira, tapi tidak dengan Agalista yang saat ini menarik Kevin menjauh dan berbicara empat mata dengan tunangan nya itu.
"Kevin apa kau menemui daddy saat di italia?"tanya Agalista dengan antusias.
"Ya,"jawab Kevin dengan seadanya.
Sebenarnya selain Kevin datang mengunjungi Samuel dia juga sekalian bertemu daddy Agalista untuk membicarakan pertunangan mereka, Agalista memohon kepada Kevin agar membatalkan pernikahan itu dan membujuk daddy nya.
"Lalu apa kata daddy, dia setuju, pasti dia setuju kalau kau yang bicara,"jawab Agalista dengan wajah berbinar.
"Tidak, dia menyuruh kita segera menikah karena di mengatakan dia sangat mulai sakit-sakitan. Dan putri nya sama sekali tidak mau melakukan keinginan kecil nya itu,"jelas Kevin.
"A a apa? Daddy sakit nya tambah parah?"ujar Agalista kaget dan panik.
'Terimakasih Om, saran anda sangat membuat dia panik,'