
"Ahaha benarkah?"ucap Varo tertawa keras mendengar penuturan sang anak.
"Lah dad kok ketawa sih! Suami aku lagi sakit loh, jahat banget,"ucap Lenka kesal memukul lengan sang daddy.
Pria itu terkekeh melihat ekspresi sang anak, sedangkan Rere dengan wajah sumringah tersenyum bahagia dan memeluk Lenka dengan senang dan mengucap syukur.
"Sayang, mom hanya senang tapi ini belum kebenaran nya. Nanti sebelum ke mansion kita ke RS dulu yah sama suami mu,"ucap Rere kepada sang anak.
Lenka yang mendengar itu seketika menaikan satu alis nya merasa heran atas penuturan mommy nya, siapa yang sakit? Membuat Lenka bertanya-tanya.
"Mom apa suami ku separah itu, hiks hiks sayang,"teriak Lenka melepaskan pelukan Rere dan berlari ke kamar nya kembali.
Semua orang yang melihat itu hanya saling pandang melihat Lenka yang berlari layak nya anak kecil dan menangis mencari seseorang itu, Rere tersenyum manis melihat tingkah lucu sang anak.
"Sayang kok sama kayak kamu,"ucap Rere tenang memeluk sang suami.
"Iya cengeng juga kayak kamu pas hamil, tapi seperti nya jangan terlalu berharap sayang mana tau itu hanya demam biasa,"ucap Varo mengingatkan agar wanita nya itu tidak terlalu berharap.
"Tapi Lenka kayak gendutan loh, mungkin aja karena dia ngemil banyak, aku juga dulu gitu bawaan nya lapar mulu tahu,"kesal Rere kepada sang suami.
Agalista yang mendengar itu hanya merasa bingung dengan pembahasan kedua orang itu yang tidak bertepi dan berujung, membuat Kevin hanya terkekeh.
'Wah seperti nya william dan morgan akan heboh karena ini,' batin Kevin mengingat kedua keluarga yang memang bukan dari kalangan orang biasa.
"Kak Rere, tapi Lenka emang suka makan banyak kata nya akhir akhir ini, emang kenapa?"tanya Agalista dengan bingung.
"Haruskah aku mengatakan hal yang belum pasti? Nanti saja kalian ikut jika mau tau,"tawar Rere kepada Agalista.
"Tentu, karena aku sangat penasaran,"ucap Aga dengan antusias.
Drap... drap...
Langkah kaki Lenka terdengar jelas memasuki ruangan itu, menuju kamar nya dia menangis dengan keras dan langsung menindih tubuh sang suami lalu memeluk nya erat.
Hiks... hiks...
Bruk...
Hempasan tubuh Lenka seketika membuat Samuel yang tengah terlelap lalu membuka mata dengan spontan dan kaget, dia melihat sang istri yang menangis, membuat Samuel langsung mendudukan tubuh nya.
"Hei, sayang kenapa? Siapa yang menyakiti mu, katakan,"ucap Samuel dengan bingung.
*"Hiks* Daddy, Hiks aku menceritakan kalau kau sakit tapi dia menyuruh ke RS, apa kau separah itu?"tanya Lenka menangis dan memeluk Samuel menumpahkan segala ke khawatiran nya.
Samuel terkekeh lalu menghela nafas, dia berusaha mengusap air mata Lenka yang terus berjatuhan dan mengecup mata gadis itu bergantian karena dia sangat ingin tertawa atas kelucuan Lenka.
"Suami mu ini tahu kalau kau seorang dokter psikologis, tapi kau yang pintar ini apa percaya aku penyakitan parah karena gejala kecil?"tanya Samuel berusaha menenangkan tangisan Lenka.
Seketika Lenka berhenti menangis dan mata nya berkedip kedip lucu memahami ucapan Samuel, dia tertawa lucu membuat Samuel mengeleng.
"Ehe kau benar sayang? Lalu kenapa aku menangis? Dan lalu kenapa daddy harus menyuruh ke RS sayang, aku jadi berpikir yang tidak-tidak,"ucap Lenka dengan wajah bingung nya lucu.
"Ikuti saja sayang, kau juga tahu mereka lebih tahu dari pada kita, mungkin saja memang ada sesuatu kejutan di RS,"ucap Samuel.
"Hmm, iya aku tahu,"ucap Samuel memeluk tubuh sang istri.
Ya bagaimana pun tidak mungkin Samuel lupa ulang tahun sang istri, saat dia melamar gadis nya saja itu bertepatan dengan hari ulang tahun nya.
"Sayang apa kau sudah tidak pusing lagi?"ucap Lenka.
Samuel terdiam sejenak merasakan nya, lalu dia mengangguk cepat membenarkan ucapan istri nya itu.
"Baiklah saat nya kita makan, jangan melewatkan makanan mu sayang!"tegas Lenka kepada sang suami nya itu.
"Baiklah buk dokter,"ucap Samuel mengiyakan perkataan Lenka dengan wajah pasrah nya.
Sedangkan di sisi lain Gisel tengah asik berada di dapur bersama Rara, wanita itu rencana nya akan pergi ke markas aeros mengantarkan makan siang untuk sang suami tercinta.
"Kak Gisel awal nya aku memang kesal melihat mu yang lemot, tapi aku sangat mneyukai masakan mu hehe,"ucap Rara dengan senang memuji kaka ipar nya itu.
"Benarkah? Baiklah agar kau terus menyukai ku aku akan memasakan semua yang kau ingin kan Rara,"ucap Gisel dengan senang.
Kedua orang itu tengah berkutik dengan alat masak, jujur saja Rara tidak bisa memasak kata nya jika dia menikah dia bisa memesan makanan online saja atau belajar setelah menikah, mama Sadam yang sedang duduk di ruang tamu itu datang dan melihat kedua orang itu.
"Rara jangan bersikap tidak sopan kepada kakak ipar mu!"tegas mama Sadam.
"Ck ma, aku hanya bercanda aku sangat menyayangi kak Gisel,"ucap Rara memeluk wanita yang sama tinggi nya dengan nya dengan gemas dari belakang.
"Ahaha aku tahu kau menyayangi ku Rara, tapi hati-hati lah aku sedang memasak,"ucap Gisel memperingati adik suami nya itu.
"Siap bos,"ucap Rara mundur.
Mama Sadam melihat Gisel yang sudah menata makanan nya itu, dia juga menyiapkan makanan nya di atas meja untuk makan siang keluarga baru nya itu.
"Aku sangat senang memiliki menantu seperti mu Gisel,"ucap mama Sadam tertawa.
"Aku juga sangat menyayangi mama, aku mau ganti baju dulu membawakan makanan untuk kak Sadam ma, apa dia akan suka? Karena aku sangat bosan hanya berdiam diri, maafkan aku yah ma masih tidak bekerja,"ucap Gisel mengatakan itu dengan sendu.
Wanita itu mendekat dan mengusap kepala sang menantu dengan kasih sayang, semenjak Gisel keluar dari rumah nya wanita itu terlihat lebih bahagia dan menjalankan hari nya dengan penuh warna.
"Sampai kau tua pun tidak bekerja itu tidak masalah, kau itu sudah memiliki suami sayang, Sadam juga tidak mempermasalah kan nya jadi jangan merendahkan diri, mama tidak suka,"ucap wanita paruh baya itu tegas.
"Ehe baiklah aku akan mendengar kan perkataan mama,"ucap Gisel.
"Dan ganti baju mu sekarang,"ucap Mama Sadam.
"Baiklah ma,"ucap Gisel melepaskan apron nya dan berjalan menuju kamar nya.
Rara yang melihat itu seketika mengejar langkah sang kakak ipar dengan cepat nya, lalu berteriak keras.
"Kak, Rara juga ikut yah mau ikut pokok nya,"ucap Rara merengek.
"Iya ayo, ganti baju mu kita pergi, dan nanti kita bisa mampir main time zone bersama,"
Bersambung...