SAMUEL

SAMUEL
BAB 152



Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di ibu kota itu menjadi sorotan media, seorang pengguna media sosial langsung mengungah lalu mengshare lokasi kejadian sehingga membuat berita itu ramai di perbincangan.


Para saksi yang melihat kejadian itu juga langsung melaporkan kepada polisi serta memanggil ambulans untuk membawa pasien yang terluka parah ke rumah sakit.


Suara sirena ambulans memenuhi jalanan ibu kota, garis polisi di pasang di lokasi kejadian. Dan korban langsung mendapatkan penanganaan gawat darurat menuju rumah sakit william group.


Drap... drap...


Langkah kaki Sadam terdengar mengema di ruangan rumah sakit itu, dia langsung berlari menuju meja resepsionis dengan wajah panik nya itu.


"Dimana pasien yang barusan datang!"teriak Sadam langsung menghujani para suster yang ada di meja resepsionis itu.


"Informasi lebih jelas nya pak?"tanya suster itu.


"Wanita berumur 21 tahun bernama Gisel indris, yang terjadi kecelakaan di perempatan lalu lintas!"


"KENAPA KAU SANGAT LAMBAT! APA KAU MAU AKU MELAPORKAN PEKERJAAN MU HAH,"teriak Sadam kepada suster itu.


"Maaf kan saya tuan, pasien sedang dalam berada penanganaan di unit gawat darurat,"ucap suster itu dengan cepat jawab karena panik.


Tanpa pikir panjang Sadam langsung menerobos jalanan rumah sakit yang ramai itu, dia langsung menuju lokasi yang di beritahu kan oleh suster tetapi lampu ruangan itu terlihat merah menandakan dokter sedang menangani pasien, seorang dokter keluar dengan wajah panik.


"Cepat ambilkan stok darah golongan B+, pasien banyak kehilangan darah!"teriak dokter kepada suster yang berjaga.


Sadam yang mendengar itu seketika langsung berlari menuju dokter dia menahan dokter itu agar tidak kembali masuk.


"Dok, ada apa dengan istri saya, apa dia baik-baik saja?"tanya Sadam dengan wajah memerah yang menahan kepanikan nya.


"Anda suami nya? Sebaiknya jangan halangi pekerjaan kami tuan, dan tetap tunggu di sini, atau istri anda yang akan menerima konsenkuensi nya,"ucap dokter itu melepas cengkraman Sadam dan kembali masuk ke ruangan itu.


Wajah Sadam sangat panik, dia mengusap wajah nya. Dada nya terasa sakit mendengar segala perkataan dokter, pria itu berusaha terduduk di ruang tunggu, sungguh tidak ada satu patah kata pun yang dapat keluar dari bibir nya.


"Gisel, maafkan aku, jangan tinggalkan aku,"gumam Sadam menumpah kan air mata nya.


Rasa sakit yang di terima Gisel tidak sebanding dengan Sadam yang menumpahkan segala ke khawatirnya kala ini, pria itu mengengam tangan nya suara tangisan sangat berat.


"Maafkan aku, maafkan aku, jangan pergi,"racau Sadam menarik rambut nya dan terus menangis dalam diam.


Sedangakan di sisi lain, Rara yang sudah masih menangis dengan tangan bergetar langsung mengambil ponsel nya yang terjatuh. Dengan segala kepanikan nya Rara menghubungi mama nya.


Drt.. drt...


"Halo Rara ada apa sayang?"tanya wanita paruh baya itu kepada sang anak nya.


Bukan jawaban yang di dapatkan tapi suara tangisan tersedu-sedu yang terdengar keras, dan suara Rara yang bergetar mengatakan sesuatu yang membuat mama Sadam itu menjatuhkan gelas yang dia pegang.


"Mama, mama, hiks hiks kakak Gisel, kakak Gisel kecelakaan ma,"ucap Rara dengan suara bergetar nya.


Gelas teh yang di pegang mama Gisel mengenai kaki nya, air panas yang menumpahi kaki nya tidak terasa sama sekali, kepanikan nya lebih melanda kepada menantu satu-satu nya itu.


"Kenapa! Kenapa Rara? Apa kau tidak menjaga nya dengan baik!"teria mama Gisel dengan suara bergetar.


Rara menceritakan segala kejadian yang barusan terjadi begitu saja, membuat mama Sadam begitu sangat shock. Dengan segala kepanikan yang melanda mama mengatakan akan langsung menuju RS untuk menjenguk sang menantu.


"Rara mama akan ke sana, minta Arbian mengantarkan mu dan jangan naik taxi online,"ucap mama Sadam tajam.


Gadis itu mengangguk di sebalik tangisan nya walaupun tidak terlihat, keluarga indris di landa kepanikan yang begitu besar. Bagaimana pun gadis kecil itu sudah cukup menderita dengan segala sisi kehidupan nya.


Apa kesalahan yang di perbuat orang tua nya akan di tuai dengan buruk dan menerima nasib tidak mengenakan itu kepada anak nya? Gisel terlalu sering mendapatkan hal buruk itu, dia juga seorang gadis biasa.


"Kau berdiri, bos Arbian tidak ada di markas. Aku yang akan mengantarkan mu,"ucap pria pendek itu menarik tangan Rara dan memaksa nya berdiri dengan raut wajah datar nya.


Kalian ketahuilah pria itu pendek bukan hanya karena umur nya yang tua, karena diri nya yang memang masih anak SMA yang homescolling memiliki hobi aneh seperti menembak memilih masuk ke tim aeros sejak umur nya yang terbilang muda.


Berasal dari keluarga kaya membuat nya tidak menerima pengawasan dari orang tua nya, hanya sebuah laporan yang akan di berikan asisten keluarga nya untuk keluarga itu.


"Terimakasih kak, aku juga pusing."gumam Rara merasa pening karena mengingat kejadian mengenaskan itu.


Ketika keluarga indris di libatkan dengan segala kepanikan, keluarga william dan morgan saat ini dengan bersamaan juga menuju rumah sakit milik keluarga mereka itu. Lenka terus mengengam tangan suami nya mengikuti langkah orang tua nya yang masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


"Lah ini lantai pemeriksaan kandungan? Mom? Tidak mungkin kan,"ucap Lenka mengeleng menatap mommy nya kaget.


"Mungkin sayang,"senyum Rere dengan tulus menatap sang anak.


Seketika Lenka membelalakan mata nya tidak percaya atas apa yang terjadi, tapi ayolah seperti nya pemikiran Rere dan Lenka sangat berbeda, Rere yang tadi nya tersenyum malah menepuk jidat.


"Dad? Wah kau sungguh perkasa di usia tua mu, yakali aku punya adik lagi,"ucap Lenka mengeleng dan mendecih beberapa kali.


"Ahaha astaga sayang, kau berpikir seperti itu? Tapi hal itu memang bisa terjadi jika mommy mu mau, tapi tidak mungkin cukup kalian,"ucap Varo mengusap pipi sang istri.


Ya, semenjak kelahiran kembar empat Varo tidak mau lagi melihat bagaimana istri nya berjuang dengan begitu keras nya. Bagaimana seorang wanita hamil, kalian para pria pasti tidak akan mengetahui seberapa banyak beban yang di terima.


"Sudahlah kau ini memang lambat sayang,"ucap Rere menjawab pernyataan sang anak dengan mengeleng kesal.


Akhirnya Rere menyuruh pasangan sejoli itu masuk karena Rere sudah meminta dokter pribadi yang akan mengurus segala nya, sedangakan empat orang lain nya Varo, Rere, Aga dan Kevin menunggu di luar.


Cklek...


Pintu di buka menampilkan seorang wanita cantik yang langsung menyambut pasangan itu, tanpa basa basi dokter itu menyuruh Lenka naik ke kursi untuk pemeriksaan dan menarik baju wanita itu untuk mencek kondisi nya, tapi sebuah tangan kekar menahan itu.


"Apa yang anda lakukan? Apa anda mempertotonkan tubuh istri saya dok?"


Bersambung...