SAMUEL

SAMUEL
BAB 158



Gadis cantik itu menatap ke langit-langit ruangan itu mengerjap kan mata nya beberapa kali untuk menormal kan penglihatan nya. Dia mendengar suara orang yang sedang berbincang dan juga suara suami yang terdengar sedang memarahi seseorang.


Gisel memutar kepala nya pelan merasa lemah, otot-otot nya terasa kaku, tapi semua itu dia tepis dengan menaikan tangan nya yang lemah dengan perlahan mengengam dan mengjangkau tangan suami nya.


"Suami jangan memarahi mama? Kenapa kau selalu sangat mudah emosi seperti itu,"ucap Gisel dengan nada lemah nya memangil Sadam.


Sadam yang sedang berdiri dengan tatapan tajam itu seketika menoleh ke tangan seseorang yang sedang mengelus tangan nya dengan lemah itu, wajah nya yang tajam dan beringas tadi seketika berubah menjadi wajah kaget dan lemah lembut menatap tulus sang istri.


Bruk...


Sadam tanpa ragu langsung menunduk dan memeluk tubuh sang istri erat, tangisan kebahagian tidak dapat di tahan pria kejam itu.


"Sadam apa yang kau lakukan, Gisel masih sakit!"teriak mama Sadam menoleh ke arah sang putra yang langsung menimpa istri nya itu.


"Kakak ipar!"teriak Rara yang juga tidak kalah terkejut dengan kondisi Gisel yang sadar.


Lenka yang melihat itu juga seketika menghampiri brangkar sang sahabat, Lenka yang paham langsung memencet tombol untuk memanggil dokter. Gadis itu ikut memeriksa Gisel seadanya.


"Gisel bagaimana perasaan mu? Apa kau merasa sakit?"tanya Lenka kepada sahabat nya itu.


"Umm iya sakit,"ucap Gisel mengeluh dengan suara lemah nya.


Sadam yang mendengar keluhan itu seketika panik dan melepas pelukan nya, dia bersiap mengendong Gisel yang mana membuat Lenka terkejut.


"Lah mau di bawa kemana kak eh?"ucap Lenka heran.


"Ke rumah sakit nona, kau tidak dengar istri ku sakit kata nya?"ucap Sadam dengan wajah panik nya.


Krik... krik..


Semua orang seketika saling pandang mendengar jawaban Sadam yang tidak masuk akal, suara hening berubah menjadi suara tawa ketika Arbian, Samuel dan yang lain nya datang.


Bugh..


"Boodoh ini di rumah sakit? Kau kira kebun binatang,"ucap Arbian memukul kepala Sadam pelan.


"Ah kau benar,"gumam Sadam mengangguk seperti orang bodoh dan membaring kan sang istri dengan pelan penuh kasing sayang.


Pria itu tiada henti nya terus memeluk Gisel dan mencek suhu badan nya memastikan sang istri benar-benar sudah bangun, dia menghujani pipi wanita itu dengan kecupan berkali-kali tidak peduli semua orang yang menatap nya melongo.


"Astaga mata ku bisa katarakan, hentikan aksi gila mu!"kesal Arbian.


Sadam tidak mempedulikan nya sama sekali, dia tersenyum manis layak nya anak kecil yang mendapatkan sejuta kebahagian nya dia mengengam tangan Gisel lalu berkata.


"Sayang apa nya yang sakit? Dokter ke sini sebentar lagi, nona Lenka apa anda tidak bisa memeriksa istri saya?"ucap Sadam melirik Lenka yang sudah duduk di sofa bersama suami nya.


Antusias? Tentu Lenka sangat antusias dan ingin memeluk Gisel, tapi seperti nya Sadam sangat menguasai pelukan istri nya itu membuat Lenka enggan menganggu kebahagian nya.


"Benarkah Gisel, dokter akan kesini,"ucap Lenka.


"Tidak, aku tadi merasa sakit akibat suami memeluk ku sangat erat,"gumam Gisel pelan dengan lemah.


Semua orang terlihat sangat terharu bergantian memeluk Gisel seolah memberi kesehatan dengan memberikan pelukan tulus mereka, tidak lama dari itu dokter datang. Semua orang keluar kecuali Sadam yang ikut mendampingi sang istri.


"Nona apa ada yang sakit? Semua yang saya periksa menurut data anda sudah kembali normal, cuman butuh beberapa kali terapi saja,"ucap dokter tersenyum ramah.


"Tidak dok,"ucap Gisel mengeleng.


"Syukurlah,"ucap Sadam kembali tersenyum memeluk sang istri.


Sebenarnya Gisel agak heran kenapa dengan suami nya yang sangat suka memeluk nya tiba-tiba, biasa nya mereka selalu berdebat berbicara. Tapi apa ini? Begitu saja Sadam sudah memeluk nya.


"Suami sakit, jangan memeluk ku terus,"ucap Gisel mengatakan itu.


"Maafkan aku, terimakasih sudah baikan demi ku,"ucap Sadam.


Gisel tersenyum manis, entah kenapa sikap Sadam yang hangat versi ini sangat dia suka. Sadam terlihat seperti layak nya suami sesungguh nya bagi nya, tidak sebelum nya seperti suami di atas kertas.


"Oiya dok, saat kecelakaan aku merasa melihat sesuatu yang aneh?"


"Aku saat itu mengalami luka parah di bagian kepala karena benturan dan bagian bawah ku baik-baik saja, tapi kenapa saat itu dari paha ku keluar darah?"


Tanya Gisel dengan polos, ya karena dia masih merasa kosong saat ini jika tidak menanyakan itu. Seketika dokter wanita itu melirik Sadam yang terdiam seribu bahasa.


Duar...


Pertanyaan itu bagai sambaran kilat di siang bolong bagi Sadam, hati nya seketika cenat cenut dan sakit tidak tahu apa yang harus dia sampaikan ke Gisel.


"No no no na, ini hal yang mungkin susah untuk di katakan, tapi izin kan suami anda yang akan menjelaskan nya, karena saya sudah memberitahu beliua permisi,"ucap dokter itu pamit undur diri.


Cklek...


Setelah perkataan itu, dokter nya pun keluar. Hening, itu lah yang di rasakan Gisel, kenapa suami nya yang barusan ceria seketika berubah menjadi orang yang pendiam.


"Suami apa ada sesuatu yang salah kenapa kau hanya diam?"tanya Gisel heran.


Sadam mendongkak kan kepala nya tersenyum getir. Ya dia tidak bisa terus seperti ini dia harus tegas kepada diri nya dan Gisel tidak baik juga menyembunyikan hal yang memang harus di ketahui Gisel.


'Tapi jika aku memberitahu nya, apa dia akan meninggalkan ku? Apa aku akan sendiri, tapi aku tidak ingin,' batin Sadam.


Pria itu duduk di samping istri nya dia menarik tangan kurus Gisel dengan lembut lalu mengusap jari-jari putih itu dengan perlahan, dia menatap Gisel, dengan suara berat Sadam berkata.


"Kau tahu sayang? Hubungan kita ini memang tidak sempurna. Ah bukan, memang sama sekali tidak ada kata sempurna sedikit pun itu hampir mustahil,"


"Rumah tangga kita di awali oleh sebuah kesalahan ku yang harus melibatkan mu, dan memaksa mu terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini,"


"Rasa benci, ragu, dan tidak yakin menjadi satu di dalam hati ku. Tapi aku tahu, aku sangat yakin saat ini, melihat mu sakit tapi aku yang jauh merasa sakit."


"Melihat mu sedih, tapi aku yang jauh terasa lebih sedih, ahaha aku boodoh baru menyadari nya. Tapi aku yakin ini cinta ku untuk mu, rasa ini sangat besar, dan satu hal yang membuat ku sadar bahwa aku takut kehilangan mu, dan dia yang tepat untuk ku adalah KAMU,"