SAMUEL

SAMUEL
BAB 135



"Aku sedang tidak mood jangan ganggu aku,"kesal Arbian mendorong tubuh jaalang itu menjauh dari badan nya.


Bruk...


Wanita memakai baju seksi itu seketika terjatuh ke lantai karena dorongan Arbian yang tanpa belas kasihan sedikit pun itu, wanita itu mendengus kesal.


"Ih Bian!"rengek wanita itu manja yang membuat Arbian merasa geli.


Pria itu mengeleng lalu melangkah kan kaki nya ke meja tempat di mana meja yang sudah dia pesankan untuk para teman-teman nya itu, Arbian memilih duduk dan menyapa mereka dulu.


"Wah tuan kita nih, lama ga ketemu bro!"teriak salah satu teman Arbian menyapa.


"Hmm iyah, kalian pesan aja nanti aku bayar yah. Aku tidak bisa lama-lama,"ujar Arbian menyalakan rokok nya satu batang.


"Lah Arbian lu ga main dulu nih?"tanya lagi salah satu teman Arbian.


"Ga dulu, ga mood,"jelas Arbian mengeleng cepat menolak.


Mereka hanya bisa bersorak ketika peran utama yang mentraktir mereka harus pulang cepat, bagaimana mereka tidak kecewa para gadis yang berkualitas akan duduk di kursi mereka jika melihat ada Arbian di sana.


"Anjir lah ga asik lu,"ketus salah satu teman Arbian.


"Yang penting sudah ku bayar kan, aku juga rencana nya balik besok,"jelas Arbian kembali.


"Ya kan lu udah lama ga nongol, sampai-sampai Laurent itu cewe nawarin gratis sama lu, gila ga sih? Dia kan bayaran mahal dan pilih-pilih baangsat,"ucap teman Arbian merasa iri.


"Oh yang tadi, aku memang sudah lupa,"angguk Arbian.


Grep..


Salah satu Arbian merangkul bahu lebar pria itu, teman nya menyeringai menatap Arbian sedangkan pria itu hanya menaikan satu alis nya bingung.


"Satu botol dulu, baru boleh pulang,"ancam teman Arbian.


"Ayolah kalian, oke,"setuju Arbian kepada menerima tawaran itu.


Tanpa Arbian sadari dia sudah melupakan Alisa yang menunggu nya di mobil dengan bosan, gadis itu membuka segala isi ponsel Arbian tapi dia tidak mengetahui nya sama sekali apa yang harus dia lakukan.


Lama Alisa menunggu hingga waktu juga sudah di habiskan hampir setengah jam, gadis itu mendengus kesal dan memilih keluar mobil pelan mencari Arbian.


"Cari kakak dulu aja deh,"ucap Alisa menutup pintu dan mengambil kunci mobil nya.


Drap... drap..


Alisa melangkahkan kaki nya ke dalam club malam itu, mulut nya seketika terbuka lebar suasana yang gelap dan lampu yang berkelap kelip membuat mulut nya terbuka lebar terkesan takjub.


"Waw keren banget, jadi ini club malam,"gumam Alisa tersenyum senang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan nya.


Gadis itu terus berjalan celingak celinguk kanan dan kiri mengagumi setiap aksen isi club malam itu, bayangkan saja Alisa masuk ke klub malam itu memakai dress tidur nya yang tipis, membuat para pria menatap lapar ke arah Alisa.


Grep..


Seketika Alisa kaget ada yang merangkul pinggang ramping nya, dia melihat seorang pria yang tidak dia kenal menatap nya tersenyum seram.


"Hei apa kau bocah SMP yang tersasar? Ayolah sayang tempat ini bukan tempat mu,"racau pria yang seperti nya setengah mabuk dan sadar itu.


"Alisa bukan anak SMP ya! Alisa sudah kerja, ya walaupun masih belum lancar sih, tapi Alisa bukan anak SMP!"teriak gadis itu kesal memukul dada pria itu agar menjauhi nya.


Pria itu merangkul Alisa dan menyeret nya paksa untuk membawa gadis itu ke kamar, Arbian yang sedang menikmati minuman nya itu seketika mendengar suara teman nya.


"Wah gilaa itu anak SMP kayak nya mau di peraawanin deh, kok main ke club malam dek,"ucap salah satu teman Arbian mengeleng.


"Halah jangan sok alim, lu jaga dari SMP ye,"jelas salah satu teman Arbian.


"Haha benar sih,"tawa pria itu membenarkan ucapan nya.


Mereka tertawa puas sedangkan Arbian terus meneguk minuman nya, pria itu sama sekali tidak gampang mabuk karena sudah terbiasa atau apa entahlah, seketika telinga nya mendengar suara teriakan seorang gadis yang dia kenal.


"Alisa bilang Alisa sudah 23 tahun! Bukan anak kecil, lepasin ga,"dengus gadis itu merantau.


Mata Arbian bergerak secepat kilat mencari sumber suara dan benar saja Alisa sedang di rangkul seorang pria, gadis itu terlihat memegang ponsel dan kunci mobil nya erat seolah memegang barang berharga.


Otak Arbian seketika berputar, kejadian lima tahun ketika adik nya di perlakukan seperti itu tepat terngiang di kepala, rahang pria itu seketika mengeras mata nya memerah, tangan nya mengepal mengingat hal yang menyakitkan itu.


Brak..


Arbian seketika berdiri dari tempat duduk nya, tangan nya mengepal menuju pria itu dengan aura membunuh yang kuat membuat teman Arbian sontak kaget.


"Bian! Mau kemana lu!"teriak teman Arbian.


Pria itu tidak mempedulikan dan terus melangkah kan kaki nya menuju pria itu, Arbian langsung menghantam leher pria itu dari belakang dengan kaki nya.


Bugh..


"Siaalan sakit bro!"teriak pria itu.


Alisa yang ikut terjatuh tapi tidak terkena tersenyum ke arah Arbian senang, pria itu langsung menarik tangan Alisa untuk berdiri di samping nya cepat.


"Kak Arbian! Maafin Alisa ya, kakak lama soal nya,"keluh gadis itu menatap Arbian yang hanya diam dan terus menatap pria itu ke depan dengan mata ingin membunuh siapa saja saat ini.


"Kau, memyentuh dia?"tanya Arbian tajam.


"Gadis ini milikmu? Ya maaf, dia sendirian bro, aku kira bisa menci--,"


Belum selesai pria itu berbicara sebuah pukulan melayang tepat di wajah pria itu, pria itu yang baru berdiri seketika tersungkur kembali dengan darah yang keluar dari mulut nya, jangan lupakan Arbian yang paling jago bela diri di aeros.


"Kyaa kakak jangan!"teriak Alisa menahan kepalan tangan Arbian yang ingin memukul kembali pria itu.


"Ma ma maaf bro, dia adik mu? Maafkan Aku, maafkan aku, aku pergi, maaf sekali lagi,"teriak pria itu ketakutan sampai mengompol melihat tatapan tajam Arbian dan pukulan yang benae-benar terasa sakit.


"Baajingan!"umpat Arbian bersiap mengejar pria itu.


"Kak, sudah!"teriak Alisa menahan tangan Arbian sekuat mungkin dengan tubuh kecil nya.


Pria itu yang baru ingat dengan Alisa seketika kaget, pria itu memutar tubuh Alisa seolah mencek apakah gadis itu terluka atau tidak.


"Kau baik-baik saja kan? Apa dia meelecehkan mu, apa dia sudah melakukan hal buruk?"tanya Arbian panik.


Alisa mengeleng cepat layak nya sang adik yang hanya menurut ketika di tanya.


"Tidak kak,"