
Satu persatu anggota darkness di jatuhkan oleh jebakan game yang di buat Samuel, pemimpin aeros yang melihat Javier mulai kepanikan itu tampak senang atas keberhasilan mereka yang sudah mencapai 60%.
"Bukan kah pemimpin nya harus kau sisa kan untuk ku Sadam? Jangan membunuh nya,"jelas Samuel menepuk bahu pria yang sedang fokus dengan jebakan yang ada di monitor nya.
"Ups, aku lupa bos, perintah di terima,"ujar Sadam memencet sebuah tombol.
Tombol itu membuat Javier di iring menuju ruang utama untuk berpesta, Javier dengan kalut melihat ke kanan kiri atas serta bawah jikalau dia yang akan menjadi korban selanjut nya, sebuah suara sistem seperti robot terdengar keras di telinga Javier.
Final level, boss versus loser
(Level akhir, bos versus pecundang)
"Apa itu,"tanya Javier kaget melihat diri nya sudah berada di dalam ruangan yang berbentuk kotak dengan sebuah pantulan infokus yang menampilkan vidio satu persatu anggota nya di bunuh.
Vidio di tampilkan dalam versi animasi seperti game, membuat Javier berteriak kaget karena vidio itu berubah dengan diri nya versi animasi berdiri dalam vidio yang dia sorot.
Argh...
"Tolong lepaskan aku si@lan! Kalian gil@!"teriak Javier menembak ruangan kotak yang menghimpit diri nya.
Ternyata dinding itu hanya di lapisi kertas membuat Javier keluar dari totonan yang menurut nya sangat menyeramkan, dengan wajah panik pria itu melihat ke belakang dan terus berjalan ke depan. Hingga akhirnya dia menatap satu persatu anggota darkness yang di gantung.
"A a a apa ini?"
"Apa kalian iblis hah!"
"Kalian gil@,"
Javier terus berteriak histeris menatap semua bawahan nya di gantung, dia sangat takut kapan giliran nya akan berada di tali itu, membuat nya panas dingin.
Saat Javier terus berteriak ketakutan, para bintang utama datang, Samuel, Kevin, Arbian dan Sadam berdiri di atas sisi gedung melihat Javier dari bawah, posisi nya seperti balkon.
Haha
"Lihat lah dia menangis dan ketakutan,"tawa Arbian puas mengunyah permen karet nya.
Mereka semua masih memasang topeng, Samuel hanya diam tersenyum kecil dia berdiri di pagar pembatas tanpa takut jatuh dan menjuntai kan satu kaki nya.
"Javier, asal kau tahu,"
"Kau masih hidup bukan berarti kau hebat,"
"Itu hanya karena kami belum selesai bermain dengan mu,"
Sambung Samuel mengejek pria itu, Javier tampak ketakutan, dia tidak membayang kan sama sekali, siapa para anggota tim aeros yang baru di bangun setelah morgan ini? Mereka sangat gila dan lebih brutal dari kepemimpinan sebelum nya.
"Bocah morgan si@lan di mana kau, lepaskan topeng mu,"teriak Javier menodong kan pistol nya.
Arbian tampak mengarahkan senjata nya dan laser merah itu tampak mengarah tepat di tengkorak kepala Javier, Arbian tampak menyipitkan satu mata nya untuk membenarkan posisi.
"Bicaralah sekali lagi dengan sombong kepada bos kami, atau peluru ini akan memecahkan kepala mu,"ujar Arbian.
"Santai Bian, dia ingin tahu siapa pria morgan itu, lihat lah aku,"jelas Samuel melompat dari pagar pembatas itu.
Sam melompat menggunakan tali dan berayun tepat di depan Javier, membuat pria tua itu melangkah kan kaki nya beberapa langkah ke belakang karena takut, Samuel di sebalik topeng nya tampak tersenyum kecil.
"Menjauh dari ku, iblis!"teriak Javier.
Dor...
Satu kata umpatan dari Javier datang bersamaan dengan satu tembakan yang tepat mengenai lengan nya, pria itu meringis menahan pendarahan nya.
Argh...
"Tolong lepaskan aku, jangan tembak aku, biarkan aku pergi!"teriak Javier memegang lengan nya histeris.
Samuel melipat kedua tangan nya di dada dia tampak berjalan ke sana ke sini berpikir dengan omongan Javier, pria itu berhenti lalu berkata.
"Bukan kebebesan, tapi mari kita melakukan permainan, satu kemenangan akan membuka satu pintu di depan mu, kau tahu kami menutupi pintu belakang yang langsung terhubung jalan keluar dengan beberapa tegangan listrik yang tinggi,"
"Mungkin itu mampu membuat mu mati terbakar,"ejek Samuel.
Javier tampak kalut, mereka semua iblis, lebih dari apa yang dia bayangkan mau tidak mau Javier mengangguk dengan lemas.
"Baik satu kemenangan untuk satu pintu jangan berbohong!"teriak Javier.
"Hei hei jaga mulut mu,"teriak Sadam dari atas kepada Javier yang berteriak kepada bos mereka.
Samuel tampak mengambil meja, dan dua pistol yang berada di tangan nya, pria itu mengkode kepada Javier untuk mendekat, dengan langkah berat Javier berjalan mendekat memegang lengan nya yang masih sakit.
"Kau tahu, permainan pertama,"
"Merakit senjata,"senyum Sam.
Cklik.. cklik...
Kedua pistol yang ada di tangan Samuel tampak di lepaskan satu persatu, membuat Javier menatap pria itu bingung, Sam hanya melirik bawahan nya dari atas, seolah paham Arbian memberikan jempol.
"Dalam hitungan tiga!"teriak Arbian.
1
2
3
Go!!
"Tunggu aku belum mulai,"panik Javier.
Mereka tampak mulai merakit senjata, butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya Sam lah pemenang nya, Sam tampak menodong kan pistol yang sudah selesai dia rakit tepat di kepala Javier.
"Ups, seperti nya kau kalah,"ejek Sam.
"Naikan tegangan nya Sadam!"teriak Arbian puas.
Javier tampak tidak punya harapan hidup, dia di paksa harus menerima pahit nya dendam dari pria yang sudah dia bunuh.
"Kevin, apa kau ingin selanjut nya?"tawar Sam melirik ke atas menatap pria yang hanya diam dari tadi dan melipat kedua tangan nya di dada.
"Giliran ku,"ujar Kevin.
Pria itu turun menggunakan tali mengikuti cara Samuel tadi, Kevin tampak merapikan sarung tangan nya dan melirik Javier dengan senyum menyeramkan nya.
"Aku dengar setelah pembantaian aeros malam itu, kau yang paling hebat bela diri, aku menantang mu, 20 detik. Cukup dengan waktu itu, aku akan menjatuhkan mu, 3 pintu untuk itu,"tawar Kevin agar lawan nya semangat lagi untuk berkelahi.
"Wakil kau terlalu ceroboh dengan menawari banyak sekali!"teriak Sadam tidak terima.
Tidak ada jawaban dari Kevin, Javier tampak mengangguk dan lagi-lagi Arbian menghitung untuk memulai permainan hingga dengan gerakan lihai Kevin mengunci pergerakan Javier dan menjatuhkan nya lantai.
"Aduh, kalah lagi deh,"ejek Arbian melihat Javier yang seperti sudah sangat tersiksa dengan darah pukulan yang dia terima.
Mereka tampak tertawa puas, Kevin melepas pergerakan itu dan saat nya giliran Sadam ikut bermain tapi seketika pandangan mereka tertuju oleh suara langkah kaki seseorang.
"Si@l,"
......................