SAMUEL

SAMUEL
BAB 51



Semua pembantu dan koki yang mengerubuni dapur itu seketika pergi menjauh beberapa langkah mendengar perkataan tajam Lenka yang menegaskan itu.


"Ma ma mafkan kami nona, silahkan,"ujar koki itu menunduk dan mengusir pelayan yang lain untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


Sedangkan Lenka berdiri dengan kedua tangan nya memegang pinggang menatap kepergian pelayan itu, sesekali gadis itu mendengus serta mengerutu kesal.


"Huh enak saja emang,"ketus Lenka.


Gadis itu yang terus mengerutu seketika melirik Samuel yang menatap nya sambil tertawa mengejek dan kembali melanjutkan kegiatan nya, sedangkan Lenka kembali menatap Samuel.


"Ngapain di intip kayak gitu? Bantu aku bawakan ini duduk lalu makan."Perintah Sam yang fokus membawa masakan yang lain ke atas meja.


"Kamu ngapain masak sih, padahal ada koki, tinggal suruh aja,"ujar Lenka bertanya sesekali celingak-celinguk mencari keberadaan para pelayan tadi.


"Karena aku suka masakan ku sendiri, tapi aku lebih suka masakan calon istri ku."Jelas Sam dengan wajah santai.


Saking santai nya Samuel menyerocos mengatakan calon istri membuat Lenka sendiri salah tingkah merasakan kalau yang di puji Sam adalah diri nya.


"Ekhem, oiya benar,"ucap Lenka sembari pergi dari dapur menuju ruang makan.


Gadis itu menduduki salah satu kursi ruangan makan di sana, Lenka sedikit memejamkan matanya, jujur dia masih mengantuk tapi perut nya juga tidak bisa di bod0hi saat ini, hingga suara ketukan mengalihkan perhatian Sam dan Lenka.


Tok...tok..tok


Tidak lama suara ketukan terdengar, Lenka segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Samuel yang masih di dapur itu ingin mengatakan nya, karena jujur Lenka sangat takut hanya untuk membuka pintu saja.


"Stt-stt Sam, kau dengar ada yang mengetuk pintu, siapa tamu yang malam-malam datang,"tanya Lenka memanggil Sam dengan suara pelan layak nya anak kecil yang sedang celingak celinguk.


"Buka saja pintu nya, bukan kah ini rumah mu, mungkin itu tamu mu,"jelas Samuel mengeleng heran kepada gadis itu.


"Kalau penyusup bagaimana? Jujur aku masih takut Sam,"adu Lenka kepada sang pacar yang malah menganggap itu santai.


"Apa kau serius murid pintar nona Lenka, kalau mereka penyusup mereka tidak akan mengetuk pintu dan banyak bodyguard yang berjaga di luar sana, sebelum mereka masuk, tubuh mereka sudah hancur tertembak,"jelas Samuel kepada sang kekasih yang parnoan itu.


Gadis itu memutar otak nya lalu mengaruk pipi layak nya orang bingung, lalu tertawa kecil baru sadar kalau memang banyak bodyguard, pasti orang yang datang di izinkan masuk penjaga gara-gara memang penting atau pun itu daddy Varo? Tidak untuk apa daddy nya mengetuk.


"Ah aku jadi bingung dengan lamunan ku sendiri, aku akan membuka pintu dulu,"ujar Lenka yang kesal sendiri dengan pikiran nya dan berjalan menuju pintu.


"Okeh,"balas Samuel yang tidak menemani sang kekasih.


Lenka berlari kecil menuju pintu utama dan membuka nya pelan dan sesekali mengintip untuk melihat siapa yang datang. Terlihat wanita berambut merah menghentak kan kaki nya celingak celinguk menunggu sang pemilik rumah membuka pintu. Sesekali wanita itu berbincang dengan pria yang juga dia kenal, mengerutu dan cemberut.


"Kevin dan Agalista toh, kenapa ga masuk aja sih,"kesal Lenka membuka pintu dan menyambut kedua orang itu.


Cklek..


Pintu terbuka menampilkan Agalista yang sedang memakai piyama dan Kevin yang masih dengan memakai jas nya? Apa orang-orang seperti Samuel dan Kevin memang sangat suka memakai jas, Lenka sangat bingung tentang hal itu.


"Lenka!! Kau sangat lama, aku hampir di gigit nyamuk di luar kau tahu,"


"Dan kenapa para bodyguard mu itu harus menyuruh kami untuk mengetuk pintu terlebih dahulu,"


"Ya aku mikir nya gitu kenapa tidak langsung masuk aja,"tanya Lenka melepaskan tangan Agalista yang menguncang badan nya.


Samuel yang melirik kedatangan kedua orang itu mengambil alih pembicaraan lalu memotong perkataan dan keluhan Agalista.


"Aku yang memerintah kan, jangan mengeluh, berisik,"ketus Samuel kepada wanita itu.


"Wah wah selain memacari gadis muda kau juga terlalu sangat posesif Sam,"gerutu Agalista secara singkat menatap tajam pria itu.


Pria itu mengacuhkan ocehan Agalista dan malah memutar mata nya malas, Lenka langsung duduk di meja makan tepat di samping Samuel.


"Untuk apa kau kembali?"tanya Sam kepada Kevin yang tampak duduk di depan kursi Sam di meja makan itu.


"Agalista meninggalkan ponsel nya di sofa itu, dia menyusahkan,"jawab Kevin dengan wajah kesal nya melihat tunangan nya yang mencari ponsel di ruang tamu itu.


Agalista mengacak acak ruang tamu itu dan melemparkan sofa kesana kesini mencari ponsel nya, dia memang bisa membeli yang baru tapi di ponsel itu banyak sekali hal yang tidak bisa dia lupakan.


"Di mana sih, di mana,"gerutu Agalista mendengus dan mengacak surai merah terang nya itu.


Kaki nya di hentakan ke lantai dan berguling-guling di karpet ruang tamu itu merasa kesal karena tidak kian menemukan ponsel nya, sedangakan Kevin dan Samuel yang melirik itu mengeleng.


"Memang dia masih Agalista,"gumam Kevin mengeleng.


"Haha ngapain sih, kayak orang kesurupan aja Aga,"tawa Lenka yang sesekali mengunyah makanan nya menatap wanita itu masih berguling.


Gara-gara ulah nya sendiri, rambut merah nya itu berantakan dan sudah tidak berbentuk, Agalista duduk dan berhenti berguling melipat kedua kaki nya menatap ke arah Lenka.


"Lenka apa kau melihat ponsel ku, kenapa bisa hilang, ck,"gadis itu berdecak merasa sebagian harta berharga nya hilang.


Saat gadis itu mengerutu seorang pelayan yang dari tadi melihat memberikan ponsel Agalista.


"Nona ponsel anda tadi kami simpan di kotak penyimpanan itu, kami kira ini barang keluarga william, maaf atas kelancangan kami,"ucap pelayan itu yang tugas nya memang bersih-bersih.


Sedangkan Agalista yang tidak mempedulikan itu langsung mengambil ponsel nya dengan senyum cerah, ternyata itu memang milik nya.


"Wah terimakasih,"ucap Agalista tersenyum kepada sang pelayan yang menunduk dan membersihkan ruang tamu itu dengan para pelayan lain nya.


Lenka dan Samuel sekali kali berbincang dengan Kevin tanpa mempedulikan Agalista, saat gadis itu ingin ikut bergabung dia langsung duduk di samping kursi dan meletakan ponsel nya.


"Sudah ketemu, mari pergi,"jelas Kevin yang bersiap berdiri.


"Eitss numpang makan dulu dong, mana bisa, iya kan nona william,"tawa Agalista kepada Lenka.


"Silahkan makan masakan Sam yah, di jamin nagih, benar kan suami,"goda Lenka melirik sang pacar yang sedang makan.


Uhuk..


Pria itu tersedak mendengar penuturan Lenka, apakah ini kode atau apa.


"Ayo menikah, kau memanggil ku suami,"