SAMUEL

SAMUEL
BAB 155



Sadam hanya terdiam, dia juga tidak tahu hanya hitungan detik. Ya, hanya hitungan detik dia kehilangan suara istri nya itu, suara yang cerewet itu berubah menjadi teriakan, Sadam juga tidak mengiginkan hal ini terjadi.


Tapi siapa yang akan menyangkal dengan pembalaan nya, keluarga nya sangat kecewa atas kelakuan nya kepada Gisel. Seperti mama Sadam yang sudah lelah memukul sang anak dan hanya menangis terduduk di kursi tunggu ruangan itu.


"Tante sebenarnya kenapa dengan Gisel,"ujar Lenka dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar.


Wanita paruh baya itu mendongkak kan kepala nya melihat wanita yang dia kenal dan dia ketahui sangat akrab dengan menantu nya itu, wanita paruh baya itu memeluk Lenka dan menangis.


"Gisel kecelakan Lenka, dia sedang dalam kondisi kritis,"ucap mama Sadam menjelaskan.


Lenka yang mendengar jawaban itu seketika kepala nya seketika berkunang, mata dan penglihatan nya menjadi kabur membuat nya tidak fokus untuk melihat. Samuel yang menyadar istri nya akan pingsan itu langsung menangkap tubuh nya.


Bruk...


"Lenka!"teriak Rere dengan kaget melihat sang anak yang terjatuh.


Tapi untung saja dengan cepat Samuel menangkap tubuh sang istri ke dalam pelukan nya, semua orang terlihat panik dengan kondisi Gisel. Lenka di bawa ke ruangan lain di sana karena Samuel sangat takut karena istri nya yang terlalu membebani pikiran nya.


"Hiks hiks,"


"Ini semua salah kakak, harus nya kak Gisel tidak kesana. Harus nya kak Gisel tidak menemui dan membuat makanan untuk kakak,"


"Harus nya kak Gisel tidak melihat itu dan harus nya kak Gisel tidak usah mengangkat telpon ku,"ucap Rara menutup wajah nya dengan air mata yang mengalir.


Hancur? Memang semua orang di sana merasa hancur ketika menderita itu, tidak ada satu pun yang tenang. Saat Sadam tengah terduduk di kursi tunggu itu seorang pria seketika menarik kerah baju Sadam dan memukul nya kuat.


Bugh...


"Sialaan, apa yang kau lakukan bajiingan? Kenapa kau tidak menjaga adik ku dengan becus hah?!"teriak Aiden yang baru datang bersama pacar nya itu.


Wajah pria itu terlihat menatap tajam Sadam, rahang nya mengeras. Gigi nya mengertak seperti siap menerima pukulan balasan dari Sadam, tapi dengan lemah Sadam berdiri dengan susah payah nya dan kembali mengambil posisi duduk.


Dia tidak peduli akan seseorang yang memukul nya, dia akan tetap kembali ke tempat nya berada. Sadam tidak menjawab hinaan dan perkataan pedas Aiden kepada nya.


"Katakan, kenapa kau hanya diam pecundang!"teriak Aiden kesal memukul kembali Sadam.


Pria itu mengusap ujung bibir nya yang sudah berdarah, dia tersenyum kecil dan kembali duduk lalu berkata.


"Kau pukul aku, kau bunuh aku. Tapi sekali nya itu terjadi, tanpa raga pun aku akan menunggu di kursi untuk istri ku,"


"Diam? Kau mengatakan aku diam? Aku memang diam, tapi aku juga hancur di sini!"


Teriak Sadam menunjuk dada nya dengan suara meninggi dan mata memerah menahan air mata yang akan berjatuhan, semua orang seketika diam mendengar pernyatan Sadam.


"Banyak pernyataan dan pertanyaan dalam otak ku. Tapi aku menyalahkan diri ku sebagai penyebab nya,"


"Aku tidak diam, aku hanya bingung."


"Kau mengatakan aku pecundang, aku sangat sedih semua ini terjadi karena ku siaalan!"teriak Sadam dengan air mata yang sudah terjatuh.


Bagaimana pun pria itu adalah suami Gisel, dia merasakan rasa kehilangan nya itu. Sadam hanya berusaha menutupi nya dengan sabar tanpa banyak patah kata, tapi semua orang seakan terus menyudutkan nya.


Cklek...


Kedua orang yang sedang bertengkar itu seketika mengalihkan perhatian nya kepada ruangan ugd yang lampu nya sudah padam, dan dokter yang keluar.


"Suami pasien?"tanya dokter melepaskan masker nya.


"Saya dok,"ujar Sadam cepat menjawab nya dan langsung mendekati pria itu.


Dokter muda itu terlihat mengeleng dan tersenyum menatap Sadam, mereka terlihat memasang raut wajah sedih.


"Maafkan kami tuan, tapi seperti nya kalian harus kehilangan bayi kalian. Pendarahan yang terjadi pada istri anda terlalu sangat berisiko, kami hanya bisa menyelamati istri anda,"


Ucap dokter itu menyelesaikan kalimat nya, Sadam terdiam beberapa menit. Dia terlihat kaget atas perkataan dokter.


"Dok, kandungan apa? Istri saya tidak hamil,"ucap Sadam.


"Apa? Jadi anda belum mengetahui nya, istri anda sudah mengandung 1 bulan tuan. Itu masa pertumbuhan nya,"ucap dokter itu menjelaskan.


Sadam seketika membultkan mata nya kaget, jadi pantas saja Gisel selalu mengeluh akhir-akhir ini karena sering lelah dan suka bermalasan itu mungkin saja karena hormon kehamilan nya, tapi Sadam tahu pun tidak.


'1 bulan? Jadi dia hamil semenjak kejadian itu selesai, aku seharusnya menjadi ayah?' batin Sadam terdiam.


"Maafkan Sadam ma, maafkan Sadam,"ujar Sadam memeluk sang mama yang juga berdiri mematung tidak percaya.


Wanita paruh baya itu hanya menerima pelukan Sadam, tidak ada kata-kata yang ingin dia sampaikan lagi. Cucu nya harus pergi sebelum menikmati dunia.


"Maafkan kami sekali lagi, dan nona sedang dalam keadaan kritis tuan. Saya tidak tahu berapa hari ke depan yang akan di lewati nona,"ucap dokter itu.


"Sadam, apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa menjaga istri dan anak mu,"


"Apa kau masih menganggap ini urusan bocah dan hanya permainan, kita kehilangan nyawa keluarga kita Sadam,"teriak mama Sadam.


Sedangkan Aiden yang mendengar itu mengusap wajah nya, apalagi yang terjadi kepada sang adik yang paling dia sayangi ini. Dokter pun pamit mengatakan akan memindahkan pasien di ruangan VVIP karena itu di minta oleh Rere william sendiri.


Lenka yang tadi nya pingsan dan masih berbaring mengedip kan mata nya beberapa kali menormal kan penglihatan nya karena sinar lampu, tangan nya terasa berat karena seseorang yang mengandeng nya.


Kejadian barusan berputar kembali di otak nya membuat Lenka menangis sejadi jadi nya memeluk sang suami yang mengusap punggung nya.


"Sam bagaimana Gisel? Aku ingin bertemu Gisel. Kenapa dia harus melalukan hal sulit untuk kehidupan nya,"ucap Lenka dengan wajah panik.


"Jangan menangis, Gisel dalam keadaan kritis. Kau harus nya menyemangati nya, jika begini siapa yang akan menyemangati nya, ingat sayang kau juga hamil jangan egois,"ucap Samuel dengan tegas.


Melihat sang istri yang menangis sebenarnya sangat tidak tega bagi Sam tapi itu memang sudah takdir nya.


'Aku tidak berharap kau seperti ini juga,'