
Saat ini kedua orang wanita indris itu tengah berada di dalam mobil milik Sadam, karena pria itu memberikan fasilitas mobil untuk Gisel istri nya, sebenar nya Gisel menolak keras untuk di berikan banyak hal tapi sebalik nya sang suami malah mengancam dan kesal mengatakan kalau Gisel tidak menuruti perkataam nya.
"Kak nanti ajarin Rara pakai mobil juga ya, biar bisa minta beliin sama kak Sadam,"ucap Rara kepada Gisel.
"Baiklah Rara aku akan melakukan nya, yang penting kau jangan terlalu memaksa kan diri oke,"ucap Gisel kepada sang adik ipar.
Gadis smp itu mengangguk mengiyakan perkataan Gisel, dia melirik wanita cantik yang di samping nya yang terus menguap seperti mengantuk.
"Kalau kakak mengantuk harus nya kita naik taksi online saja kak, aku takut,"ucap Rara melihat Gisel yang menguap.
"Tidak apa-apa Rara, aku hanya sering mengantuk dan malas-malasan akhir-akhir ini, bagaimana jika Sadam menendang ku dari rumah, tapi serius aku sangat suka ketiduran di mana pun aku berada,"ucap Gisel menceritakan nya.
Pernah waktu itu juga saat pernikahan Agalista, Gisel yang ketinggalan oleh Sadam karena diri nya ketiduran saat berbelanja di sebuah restoran mewah di italia dan diri nya yang ketiduran di kursi kolam renang.
Gadis itu yang mengingat kekonyolan nya hanya bisa mengeleng, tapi Sadam tidak marah sama sekali.
Flasback on
"Lah istri ku mana?"tanya Sadam celingak celinguk mencari ke ruangan itu.
"Tadi tidur di bangku kolam renang, Gisel susah banget bangun yah Sadam. Maka nya aku tinggal, aku kira kau yang bangun kan,"teriak Agalista yang sedang menonton di ruang tv.
"Bocah itu kebiasaan memang,"gumam Sadam kesal.
Langkah kaki besar nya keluar dari dapur, dengan cepat Sadam melepaskan apron nya untuk menjemput Gisel, tapi sebelum itu dia pamit terlebih dahulu kepada Lenka.
"Nona saya pergi dulu, pasti masakan nya enak kok, tidak apa-apa kan?"tanya Sadam.
"Hei! Tentu tidak apa-apa, suami nya itu aku bukan kau! Pergi,"kesal Samuel kepada anak buah nya itu.
"Sensi amat bos, mana tauan nona nangis lagi, yang salah juga saya kalau ga izin,"gumam Sadam berlari dari sana takut mendengar amukan Samuel.
'Gisel kau selalu merepotkan dan mengkhawatir kan ku,' batin Sadam.
Tidak jauh jarak kamar hotel ketua aeros dan kolam pribadi itu, mata Sadam seketika mengedar ke seluruh kursi tepi kolam renang yang di sediakan hotel Alferoz itu.
"Gisel,"panggil Sadam kepada sang istri kecil nya yang malah enak molor dengan posisi tengkurap itu.
Tidak ada jawaban sama sekali Sadam menghela nafas nya pelan, dia berjalan mendekati sang istri dan mendudukan badan nya tangan kekar pria itu mengusap pelan pipi Gisel.
"Aku tahu kau sangat susah bangun bocah,"gemas Sadam mencubit Gisel dengan gemas nya.
Membuat pemilik pipi itu yang merasakan kesakitan membuka kelopak mata nya paksa dan menepis tangan Sadam dalam tidur nya yang terganggu, pria itu seketika terkekeh melihat Gisel yang seperti itu.
"Aku masih mengantuk suami, mau tidur lagi,"rengek Gisel yang mengetahui siapa pria yang menganggu tidur nya.
"Jangan, kau sangat suka bermalasan akhir-akhir ini! Lihat lah badan mu bertambah berat saat aku mengendong mu,"ucap Sadam mengatakan itu.
Gadis itu memaksa membuka mata nya lalu terduduk dengan memasang wajah cemberut nya, dia juga tidak tahu kenapa berat badan nya bertambah.
"Tidak sama sekali, karena bagaimana pun kau, aku tidak peduli,"ucap Sadam acuh.
'Tidak kau tambah lucu,' batin Sadam menyangkal hal lain yang ada di hati nya dengan gemas melihat ekspresi sang istri.
Gisel yang mendengar jawaban suami nya hanya memasang wajah cemberut lalu pergi meninggalkan Sadam yang masih terduduk di kursi kolam renang itu sendirian.
"Jangan tidur mulu maka nya,"teriak Sadam melihat Gisel yang pergi sambil menghentakan kaki nya layak nya anak kecil yang sedang kesal.
Flasback off
Tidak lama setelah mobil di jalankan Gisel dan Rara akhirnya sampai di markas aeros yang berada di pusat kota yang di mana markas ini adalah markas utama dari aeros, Gisel keluar dari mobil di ikuti oleh Rara yang ada di belakang nya.
"Udah kayak jalan ke hutan aja padahal kota loh,"ucap Rara yang memang baru pertama kali datang ke markas aeros.
Karena Sadam sama sekali tidak pernah memberitahu sang adik pekerjaan nya, dan hanya mama nya yang tahu. Wanita paruh baya itu tidak mempermasalah kan nya juga selama Sadam bisa menjaga diri nya.
"Emang kayak hutan Ra, tapi jalan hutan itu sengaja karena masih termasuk halaman aeros, Lenka yang bilang,"ucap Gisel menjelaskan kepada Rara.
"Wah halaman? Itu sih bukan halaman lagi kak, jalan masuk nya halaman? udah kayak cagar alam aja,"ucap Rara mengeleng merasa heran atas pernyataan Gisel.
Istri Sadam itu hanya tertawa melihat reaksi Rara yang tidak percaya, karena saat pertama kali dia mendengar hal itu dari Lenka, awal nya dia juga tidak percaya sama sekali. Tapi dengan gamblang nya agar Gisel percaya, Lenka malah melihatkan surat tanah kepemilikan suami nya itu kepada Gisel.
"Ayo masuk,"ucap Gisel berjalan menuju gerbang utama aeros itu.
"Nona Gisel bukan?"ucap salah satu bawahan yang berjaga di depan pintu.
Rara yang ketakutan melihat itu hanya bisa bersembunyi di sebalik tubuh Gisel, sebenarnya Gisel belum hafal juga jalan markas aeros yang berbelit di dalam gedung nya untung saja ada yang memanggil nya.
"Nona Lenka sedang tidak ada di markas,"ucap pria itu yang hanya mengetahui Gisel sebagai sahabat Lenka.
Belum sempat Gisel menjawab seseorang pria pendek berlari menuju mereka sambil berteriak dan melambaikan tangan, siapa lagi kalau bukan bawah Arbian yang selalu ada di mana pun orang berada seolah dia tamu tak di undang.
"Kakak ipar, apa kau mencari bos Sadam?"tanya pria itu.
Gisel memutar wajah nya lalu mengangguk mengenali pria yang selalu yang dia tahu bertengkar dengan Arbian itu, pria itu mendekat dan mendorong penjaga dengan kesal.
"***, dia istri bos Sadam. Kau membuat nya menunggu dan panas-panasan, jangan salahkan jika bos Sadam memberi makan daging mu pada Rogie 2,"ucap pria itu memukul pria itu pelan.
"Aku lupa maafkan aku, silahkan nona,"ucap pria itu membuka pintu gerbang.
"Terimakasih, walaupun kalian berwajah seram dan mengesalkan tapi tetap baik,"puji Gisel dengan polos nya membuat para penjaga menatap nya.
'Duh seram banget ini,'
Bersambung...