
Setelah kejadian malam itu seminggu telah berlalu, sejak pria itu pamit pergi pagi, Samuel tidak lagi menampakan batang hidung nya di depan Lenka.
Setiap hari berlalu yang menjaga nya malah dua bodyguard lain yang berada tidak jauh dari nya, sepulang kerja setiap Lenka lewat di depan pintu apartemen Samuel juga, seperti tidak berpenghuni.
"Kemana Dia,"gumam Lenka dengan wajah sendu nya memegang dagu nya dengan kedua tangan nya.
Saat ini diri nya masih berada di ruang kerja nya, setelah selesai dengan beberapa pasien nya, Dia bisa melupakan pria itu, tetapi ketika tidak beraktifitas seperti ini Dia kembali mengingat Samuel.
"Akhh Sam kemana kau,"teriak Lenka dengan frustasi mengacak rambut nya.
"Aku merindukan mu,"gumam Lenka merasa malu dengan perasaan nya sendiri.
Gadis itu melirik jam dinding yang masih menunjukan 12.32 siang, Dia sangat bosan, ingin menelpon pria itu pun Dia tidak memiliki nomor nya.
"Padahal kami sering bersama, tapi untuk nomor ponsel nya saja Aku tidak punya,"kesal Lenka merutuki kebod0han nya.
Krek..
Suara pintu ruangan Lenka terbuka, gadis itu seketika tersenyum senang berharap kalau Samuel datang berkunjung kepada nya secara random seperti biasanya, tapi itu hanya angan-angan saja, pria yang masuk itu adalah teman pria sesama dokter nya.
"Dokter Lenka ayo makan siang bersama,"ajak pria itu kepada Lenka, sedangkan Lenka yang di ajak itu menatap Nelson dengan tatapan kesal nya.
"Aku tidak mood,"gumam Lenka kembali ke posisi malas-malas nya.
Pria itu menuju tempat duduk di kursi depan Lenka, dengan mencari tahu pria itu menelusuri tatapan Lenka yang terlihat sangat tidak bersemangat sama sekali.
"Oh dokter Lenka kau seperti nya sedang merindukan kekasih mu,"ujar pria itu tepat sasaran dengan alis nya yang naik turun mengoda Lenka.
Dengusan kesal keluar dari bibir kecil Lenka tanpa menjawab, mendengar nama kekasih membuat nya makin kesal kepada Samuel, padahal pria itu bukan kekasih nya yang harus mengabari di mana pun pria itu berada, tapi entah kenapa Dia berharap mendapat kabar dari Samuel.
"Seperti nya ucapan ku benar, jika kau merindukan pria tampan dan menyeramkan itu kenapa kau tidak datang mencari dan menemui nya, tunggu apa kau tidak tahu di mana tempat tinggal nya?"ucap pria itu menutup mulut nya mengeleng tanda tidak percaya.
Lenka memukul lengan pria itu merasa kesal dengan ejekan yang terus Dia terima.
"Aku tahu di mana Dia tinggal, tapi Dia ja--,"
Belum selesai Lenka berbicara seketika sebuah kata melintas di otak nya membuat nya mengebrak meja dengan wajah terkejut sendiri nya.
Brak...
"Itu Dia, astaga kenapa Aku tidak menyadari nya, pasti Dia di markas,"ucap Lenka tersenyum senang yang baru menyadari itu.
Sedangkan teman Lenka yang mendengar itu hanya mengelus dada nya karena kaget dengan ulah Lenka yang mendadak itu.
"Dokter Lenka Anda membuat ku jantungan,"ucap pria itu.
"Jika kau jantungan, pergi lah mencari dokter Alea, jangan mencari ku, karena Aku akan pulang, dan sebaiknya Anda dokter Nolsen keluar lah dari ruangan ku, karena Aku ingin pergi,"ucap Lenka mengemasi barang nya dan mengambil tas nya.
Dalam langkah nya Lenka bersenandung senang, Dia berjalan menuju swalayan terdekat memilih bahan, entah apa yang akan Dia buat.
"Aku harus membawakan sesuatu bukan untuk seseorang yang Aku kunjungi,"gumam Lenka dengan senang nya.
Langkah nya terus berjalan menuju apartemen nya, Lenka mulai mengikat afron dan menguncir rambut panjang nya yang tergerai itu, dengan telaten Lenka mencampurkan semua adonan hingga akhirnya Dia mendengar ponsel nya berdering.
Kring.. kring..
Ponsel Lenka berbunyi gadis itu mengangkat telpon nya dan melihat nomor penelpon itu, Dia biarkan ponsel nya terletak.
"Hai Lenka ini Aku Gisel,"
"Gisel hei apa kabar, Aku merindukan mu bestie,"ucap Lenka masih fokus dengan kue yang Dia buat.
"Aku juga, apa kau tahu SMA kita akan mengadakan reunian minggu depan, Aku pastikan kita akan datang Dokter Lenka jangan membodohi ku dengan alasan mu yang sibuk itu,"ucap Gisel kepada Lenka.
"Hei Gisel sebaiknya fokus dengan kuliah mu itu jangan sering ikut hal seperti itu,"ujar Lenka tertawa mengejek.
"Eitss tidak ada alasan apa pun, Aku akan menyelesaikan study ku dengan cara ku, sebaiknya kau hanya tinggal pergi, Ah si@l dosen ku di sini, sudah dulu bye,"teriak Gisel mematikan ponsel nya itu langsung.
Lenka hanya mengeleng mendengar gadis yang pernah menjadi wakil osis di SMA itu, mereka akrab karena Lenka adalah ketua osis waktu di SMA khusus perempuan mereka.
"Haha ini mirip dengan Sam,"gumam Lenka melihat kukis yang Dia hias dengan wajah karakter alis nya terangkat seperti sedang marah dan di bikin mirip wajah pria itu di mata nya.
Lenka menyelesaikan itu dan memilih membersihkan diri, Dia memakai dress selutut dan lengan pendek, bewarna kuning bermotif bunga-bunga yang sangat berpadu dengan kulit putih nya rambut nya yang bergelombang itu Dia biarkan tergerai, dan make up tipis nya menambah kesan baby face nya.
"Jika tidak memakai jas dokter ku, Aku seperti anak kecil sekali, ck,"ujar Lenka yang merasa sedikit kesal.
Tentu Dia tidak mau jika berjalan di samping Samuel Dia di bilang adik nya itu, Dia berharap hal yang lain.
Lenka memilih menaiki taksi online yang Dia pesan sambil membawa kotak kukis yang sudah Dia buat khusus untuk Samuel, taxi itu berjalan menuju markas Aeros yang jauh dari keramaian kota, Lenka turun.
Belum sampai Dia di pintu, para bodyguard sudah menyambut Lenka dengan menyapa gadis itu, semua orang serempak menunduk dan mempersilahkan Lenka masuk.
"Nona William apa kabar,"
Serempak semua orang menunduk, Lenka hanya tersenyum membalas sapaan itu, Dia sudah hafal ruangan Samuel karena Dia pernah di ajak Samuel kesini sebelumnya, salah satu bodyguard memencet earphone nya dan menghubungi Sadam.
"Bos, Nona William datang berkunjung ke markas, seperti nya Dia ingin menemui Big Bos,"ucap pria itu melapor.
Sadam yang mendengar itu seketika tersenyum, Lenka seperti nya datang di waktu yang tepat karena beberapa hari ini Samuel terus marah-marah dan mengutuk pekerjaan mereka yang berantakan dalam mengejar pria misterius, seperti saat ini Samuel tengah membentak Arbian.
"Aku sudah katakan, kerjakan bagian mu dengan bagus, jika kau seperti ini, lebih baik angkat kaki mu dari Aeros, Arbian Aku tidak mau tahu hubungi anggota mu dan suruh mereka menghadap kepada ku, Aku akan mencincang mereka,"ujar Samuel dengan setiap kalimat nya yang penuh penekanan.
'Aku harap Nona William bisa menenangkan iblis ini,'