
Di dalam sebuah mobil mewah dua orang pasangan suami istri tengah berbincang ringan, tangan pria itu tiada henti nya mengelus perut rata sang istri yang terus mengoceh tiada henti nya semenjak pulang dari RS mengujungi Gisel tadi.
"Sayang kau dengar tidak sih!"kesal Lenka kepada suami nya.
"Dengar nyonya morgan, jangan memasang wajah seperti itu. Aku jadi tertawa melihat Sadam tadi,"tawa Samuel mengeleng melihat kelakuan sang istri.
"Tapi Gisel kan belum tahu, apa sebaiknya aku suruh Sadam tetap diam saja. Aku tidak tega jika dia harus tahu,"bisik Lenka mengingat bagaimana Gisel akan menerima kenyataan yang begitu menyakitkan itu.
Ya usia kandungan Gisel seharusnya lebih besar dari pada Lenka, tapi seperti nya tuhan berkehendak lain. Tuhan mengambil kebahagian baru mereka dan memberikan luka dan memberi versi terbaik setelah kejadian ini.
"Tapi menurut pendapat suami ini, bukankah lebih baik sahabat mu itu mengetahui kebenaran nya? Seburuk dan sepahit apa pun kenyataan, lebih sakit di saat kau menjadi seseorang yang tidak mengetahui apa pun, saat kau seharus nya menjadi orang yang paling tahu, ringht?"ucap Samuel mengusap rambut sang istri.
Lenka terdiam, itu benar bukan. Waktu itu saja saat Lenka tahu jika dia tidak di berikan kebenaran yang pasti soal Sam, dia merasa menjadi kekasih yang paling buruk, mengingat itu membuat Lenka merasa bersedih kembali.
"Berjanjilah jangan melakukan hal itu lagi, aku takut."bisik Lenka dengan nada sedih nya.
Pria itu menaikan alis nya dia merasa bingung kemana arah pembicaraan sang istri yang seperti nya malah berbelok sangat jauh dari apa yang di bicarakan, Sadam hanya menerima dan mengiyakan perkataan istri tercinta nya itu.
"Sayang bukankah triple akan pulang hari ini?"tanya Sam kepada istri nya.
"Ah benar! Pria bajingan itu, di mana mereka saat adik paling cantik mereka hamil dan membutuhkan pelukan, siaalan aku ingin memeluk Lukas,"rengek Lenka kepada suami nya yang malah mengingat kan hal itu.
Semenjak pemeriksaan kehamilan Lenka, gadis itu harus memakan kenyataan pahit jika para kembaran nya pergi bersama dalam sebuah proyek besar william di italia. Membuat Lenka sangat kesal kepada sang ketiga pria itu.
"Pria nakal itu? Bukan kah kau sangat kesal pada nya,"tanya Sam terkekeh.
"Tidak tahu sayang, bayi ku sangat ingin memeluk pria satu itu. Baby twins kalian jangan meniru uncle kalian yang laknat itu okey,"ucap Lenka berbicara seolah kepada sang anak nya.
Setelah perbincangan kecil tidak terasa mobil Sam sampai di mansion utama william itu, dengan antusias Lenka turun dari mobil dengan senyum yang terus terukir di wajah nya.
Drap.. drap..
Langkah kaki kecil Lenka terdengar merdu di telinga, sedangkan suami yang melihat sang istri berlarian sudah panik di belakang gadis itu. Sam berusaha mengengam tangan Lenka agar berhenti.
"Jangan berlari! Nanti jatuh,"kesal Sam memperingati gadis itu.
Lenka hanya memasang wajah kesal dan cemberut nya mendengar penuturan samg suami yang menurut nya terlalu berlebihan kepada nya, pintu utama di buka saat kedua orang itu tepat berada di depan nya oleh pelayan.
"Kejutan!" teriak tiga orang pria yang wajah nya sangat mirip dan hanya beda penampilan itu.
Gadis itu yang tadi nya badmood seketika mood nya kembali senang melihat sang tripel sudah ada di depan mata nya, ya tripel memang sudah tahu masalah kehamilan mereka. Tapi ketiga pria itu belum mengucapkan selamat secara langsung karena urusan mereka yang mendedak.
"Kakak!!"teriak Lenka bahagia langsung memeluk tiga pria itu bersamaan.
"Enka selamat atas kehamilan mu, maaf kami baru mengucapkan nya sekarang, aku turut bahagia."ujar Luis mengusap rambut sang adik.
"Selamat girl, kau yang terbaik,"jawab Leon singkat.
Bugh...
Dari belakang seketika sebuah tangan kecil memukul kepala Lukas, membuat pria berandalan itu sedikit meringis. Dia sangat rasa sakit atas pukulan itu, pria itu memasang wajah cemberut melihat wanita yang memukul nya.
"Harus nya kau katakan selamat seperti Luis, dan Leon, bukan nya mengdumel seperti itu,"ucap Rere mengeleng kepada anak nya itu.
"Mommy!"rengek Lukas kesal.
"Hai kau sudab besar jangan merengek kepada istri ku,"tajam Varo kepada Lukas yang mengangkat tangan nya seolah seperti seorang kriminal yang ketahuan melakukan kejahatan.
"Daddy bucin,"sindir Leon dengan nada kecil nya.
Ah seperti nya Leon lebih tipe pria yang irit bicara, jika Luis memang irit bicara kepada orang luar tapi tidak dengan keluarga nya, lalu sedangkan Leon? Dia lebih parah, pria itu hanya berkata satu sampai lima kata paling banyak mau dengan orang lain atau pun keluarga nya.
Tapi walaupun seperti itu tindakam Leon kepada adik nya sudah dapat membuktikan kalau dia benar-benar menyayangi adik nya itu.
"Apa perut ini akan membesar?"tanya Leon melirik sang adik.
"Iya kakak, apa kau tidak pernah melihat orang hamil?"tanya Lenka tertawa karena wajah kumok Leon yang kebingungan.
"Pernah di drama,"ucap Leon santai.
Rasa bahagia menyelimuti Lenka, kakak kembar yang dia tunggu akhirnya pulang menemui nya. Mereka mulai duduk bersama di ruang keluarga, begitu pun Lenka yang terus menempal pada Lukas.
"Kau ini sebenarnya kenapa girl?"tanya Lukas merasa risih.
"Aku menyayangi mu,"senyum Lenka manis.
"Ekhem,"ucap seseorang seolah menegur Lukas untuk tidak menjawab.
Lukas memutar wajah nya ke samping sang adik yang ternyata di sana terdapat Sam yang sedang memasang wajah datar, seketika bulu kuduk Lukas merinding, dia tahu Sam pasti merasa menahan cemburu nya kepada kakak kandung Lenka itu.
Glek...
'Ih Samuel seram banget, minta di tebas,' batin Lukas menelan saliva nya kasar.
Rere yang melihat reaksi menantu nya itu tertawa sambil mengeleng, memang benar kata orang kadang sifat mengekang bukan tanpa alasan melainkan rasa sayang yang saking sayang nya membuat orang tertekan.
"Hei tunggu apa kalian sudah menyelesaikan dan kembali tinggal? Berjanjilah Lukas, selama aku hamil tetap di sini! Titik!"teriak Lenka kesal.
Bruk...
Seketika Lukas langsung berdiri merasa kaget, bagaimana permintaan itu bisa ada. Kalau dia tinggal di mansion utama bisa-bisa dia tidak bisa bermain dengan para ****** nya bukan, jika dia mengajak ****** nya ke mansion itu adalah hal terlarang bagi william.
"Tidak, enak saja, aku tingg di apartemen saja,"