
Setelah acara makan selesai semua keluarga memilih untuk pergi beristirahat yah karena hari memang sudah larut, terlebih Sam dan Lenka yang banyak menghabiskan waktu di RS sehingga mereka pulang lebih larut untuk makan atau pun sekedar bercerita.
"Sayang kamu ga mandi dulu?"tanya Samuel melihat sang istri yang malah langsung naik ke atas kasur tanpa berniat menganti pakaian nya dengan piyama tidur.
Lenka mengeleng layak nya anak kecil sambil mengucek mata nya, entah kenapa dia sedikit malas membersihkan diri mungkin juga karena efek bawaan kehamilan nya.
"Ga ah sayang, mager,"ucap gadis itu mengeleng malas.
"Setidaknya ganti baju mu dulu, apa kau tidur dalam keadaan menggunakan pakaian kotor? Cepat berdiri,"ucap Samuel mendudukan sang istri secara perlahan untuk membantu nya menganti baju.
"Ih aku bilang males gerak! M A G E R!"ucap Lenka sambil mengeja.
Ya entah kenapa diri nya merasa ingin segara membaringkan badan nya dan segera menutup mata, Samuel tidak mendengar keluhan sang istri dia menarik baju gadis itu dan membantu nya menggunakan pakaian.
"Udah, tidur,"ucap Samuel tegas kepada istri nya.
"Waktu tidur aku jadi ke tunda kan gara-gara kamu,"kesal Lenk menarik selimut nya dan memejamkan mata.
'Tumben banget marah-marah? Biasa nya sayang-sayang mulu manggil nya,' batin Samuel mengaruk belakang kepala nya heran.
Berbahagialah Sam seperti nya Lenka akan gampang kesal dan mood nya berubah, beruntung karena kalian menikah karena saling cinta bukan perjodohan seperti Rere dan Varo yang harus merasakan pahit pernikahan baru bisa menyamai indah nya cinta mereka.
Ya mungkin saja karena hal itu Sam juga jarang melihat sifat Lenka yang gampang mengeluh, karena saat pacaran gadis itu akan bermanis-manis dengan nya.
"Sayang aku mau tidur juga jangan terlalu ke tengah, aku takut akan mengenai perut nya,"ujar Sam pelan agar tidak membuat istri nya kesal.
"Kamu kan bisa tidur di sofa aja kalau sempit, aku gapapa kok sendiri,"ucap Lenka dengan ketus.
"Sayang,"rengek Sam yang mendengar perkataan itu.
Tidak ada jawaban sama sekali, hanya suara nafas yang teratur menandakan sang istri tercinta sudah berlayar ke alam mimpi nya. Samuel memasang raut wajah cemberut.
"Aku kan ingin di peluk,"gumam Samuel berjalan menuju sofa.
Samuel akhirnya memutuskan tidur di sofa karena dia takut-takut akan menimpa tubuh istri nya karena bagian nya yang mepet untuk tidur. Lebih baik dia tidur di sofa dari pada twins mereka kenapa-kenapa.
Pria itu terdiam menatap langit-langit kamar lalu wajah memutar sedikit menatap sang istri yang tertidur pulas, dia tersenyum kecil mendapatkan kebahagian kecil nya tidur nyenyak.
Tanpa di sadari kantuk juga melanda nya, mata nya perlahan ikut tertutup. Beberapa detik, menit dan akhir nya dua jam berlalu sejak kedua insan itu memulai tidur, hingga suara seseorang bersahutan terdengar dengan iringan detik jam yang terdengar nyaring.
"Sayang, sayang! Samuel sayang!"teriak Lenka menguncang tubuh sang suami.
Pria itu seketika kaget mendengar diri nya di panggil dia langsung berdiri terduduk, dan mleihat sang istri seperti orang gelisah yang membangunkan nya.
"Ada apa sayang? Kau kenapa? Apa bayi kita akan lahir? Ayo cepat aku gendong,"ujar Samuel menarik tubuh sang istri dan mengendong nya ala bridle style.
Drap... drap...
Langkah kaki Samuel turun dengan cepat menuruni tangga tapi tetap berhati hati sampai dia tiba di lantai dua, baru merasakan pukulan istri nya yang ada di dada nya.
"Sayang! Jangan ngigau ih, aku belum melahirkan, perut ku saja belum besar,"kesal Lenka berteriak keras kepada sang suami.
Derap langkah kaki yang bersahutan keras tadi seketika berhenti menjadi langkah pelan, Samuel memutar wajah nya menatap Lenka yang memasang raut wajah kesal di atas gendongan nya.
"Oh iya yah? Kan bayi itu harus sembilan bulan dulu bukan sayang kayak lagu itu?"ucap Samuel polos menurunkan istri nya yang memberontak.
Gyut...
Lenka mencubit pipi suami nya gemas ada rasa kesal dan juga ingin tertawa karena ulah Samuel yang menurut nya sedikit aneh.
"Iya suami ku, harus sembilan bulan dulu. Perut nya juga harus besar dulu sayang, nah baru bisa lahir, aku kan kandungan nya masih muda, kamu ini,"ucap Lenka menjelaskan sambil mengeleng.
Tanpa mereka sadari suara kehebohan dua pasangan itu mengundang semua keluarga untuk bangun, begitu pun Samuel yang hanya bisa mengaruk belakang kepala nya heran.
"Maaf mungkin efek baru bangun langsung kamu kejutin,"ucap Sam tertawa melihat tingkah nya sendiri.
Lenka tertawa sambil mengeleng melihat suami nya yang tempramental dan emosian serta kejam itu bisa bertingkah lucu di mata nya, dia tertawa membuat Sam tambah malu.
"Ahahah baiklah tapi aku membangun kan mu bukan itu,"ucap Lenka kepada Samuel.
"Terus apa sayang? Apa bayi kita lapar?"tanya Samuel bersiap ingin memasak.
"Bukan,"ucap Lenka mengeleng pelan menatap sang suami.
"Sayang,"ujar Lenka dengan suara merdu nya yang panjang.
Glek....
Samuel yang mendengar panggilan itu seketika menelan saliva nya kasar, seperti nya sahutan yang panjang memiliki arti permintaan khusus yaitu misi tingkat level A bagi tim aeros kalaud i maksud kan.
" A a apa?"tanya Samuel gugup.
"Kamu tahu kan aku nonton kemarin film alien itu, nah kamu tahu aku lihat kalau naik UFO itu seru kayak nya, aku mau deh naik UFO malam-malam gini,"ucap Lenka mengedipkan mata nya bebera kali.
Cara yang manja itu untuk membujuk sang suami bukan nya membuat Sam luluh, tapi malah hampir membuat anxyiety nya kambuh. Bagaimana tidak, UFO? Ini bukan film kartun tapi dunia nyata.
"Sayang, kau seperti nya bermimpi ayo kita tidur,"ucap Samuel membujuk menarik tangan sang istri menuju kamar nya kembali.
Gadis itu mengeleng menolak perkataan suami nya, dia menahan langkah kaki nya untuk tetao berdiri di tempat dia berada membuat Samuel mengusap wajah nya kasar.
"Gamau, pokok nya mau naik UFO sayang, mau naik UFO!"teriak Lenka merengek layak nya anak kecil.
"Sayang dimana mana orang ngidam sesusah apa pun masih bisa di wujudkan tapi kamu? Mau bayar hari ini pun buat UFO sama keluarga Alferoz buat pesawat begitu pun tidak bakal jadi dalam semalan sayang, ini bukan kisah legenda,"ucap Samuel yang mulai merasa heran menghadapi keinginan istri nya.
Semua orang yang mendengar rengekan Lenka ikut turun dari lantai atas, lalu mendengar permintaan nya.
"Ahaha kasihan banget uncle Sam, siapa suruh nikah duluan,"tawa Lukas paling keras.